Konten Media Partner
Forum HarimauKita Soroti Dugaan Human Error di Balik Kematian Harimau Sumatera
13 November 2025 13:41 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Forum HarimauKita Soroti Dugaan Human Error di Balik Kematian Harimau Sumatera
Forum HarimauKita menyampaikan keprihatinan mendalam atas kematian harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) jantan dengan ID 13 RL Male, yang dikenal dengan nama Bakas.Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung – Forum HarimauKita menyampaikan keprihatinan mendalam atas kematian harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) jantan dengan ID 13 RL Male, yang dikenal dengan nama Bakas, di Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, pada 7 November 2025.
Ketua Forum HarimauKita, Iding Achmad Haidir mengatakan, kematian Bakas harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak terkait tata kelola penanganan dan translokasi satwa liar di Indonesia.
“Kami berbelasungkawa atas matinya satu individu harimau liar — spesies yang menjadi simbol upaya konservasi Indonesia, yang sayangnya jumlahnya terus menyusut,” ujar Haidir dalam keterangan tertulis, Kamis (13/11).
Menurutnya, harimau merupakan satwa dengan sifat elusif atau cenderung menghindari interaksi dengan manusia. Karena itu, setiap proses pemindahan satwa harus dilakukan dengan prinsip animal welfare atau kesejahteraan satwa, termasuk meminimalkan kebisingan dan kontak visual dengan manusia.
“Harimau harus bebas dari rasa takut dan tekanan, baik dari sesama harimau jantan maupun dari kehadiran manusia di sekitarnya,” jelas Haidir.
“Jika tidak dihindari, satwa dapat mengalami stres berat yang berdampak fatal," tambahnya
Forum HarimauKita menyoroti sejumlah kejanggalan dalam proses pemindahan Bakas dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Lampung ke Lembah Hijau Lampung yang disebut dilakukan demi alasan keamanan dan perawatan lebih memadai.
Dalam siaran pers Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, disebutkan Bakas tewas akibat “menabrakkan diri” ke dinding kandang. Namun, Forum HarimauKita menilai istilah tersebut tidak tepat.
“Perilaku menabrak kandang bukan bentuk ‘menabrakkan diri’, melainkan reaksi stres ekstrem terhadap gangguan di sekitar,” jelas Haidir.
“Potensi stres meningkat jika terjadi kebisingan dan keramaian manusia di sekitar kandang," imbuhnya
Mereka juga mempertanyakan minimnya informasi dalam siaran resmi, seperti waktu pemindahan, metode penanganan, otorisasi, dan apakah prosedur sedasi (pembiusan) diterapkan.
“Informasi dasar seperti ini penting untuk menilai apakah tindakan sesuai dengan pedoman nasional dan standar kesejahteraan satwa,” tegasnya.
Selain itu, Forum menduga adanya kekurangan koordinasi antar lembaga yang menyebabkan proses pemindahan dilakukan secara mendadak tanpa keterlibatan dokter hewan penanggung jawab.
“Jika benar, hal ini menunjukkan adanya human error dan kegagalan komunikasi lintas otoritas — termasuk PPS Lampung, BKSDA Bengkulu, dan Ditjen KSDAE,” ujar Haidir.
Forum HarimauKita menilai, kematian Bakas bukan sekadar insiden teknis, melainkan cermin tantangan serius dalam tata kelola translokasi harimau liar di Indonesia.
Mereka merekomendasikan beberapa langkah penting, antara lain:
1. Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur translokasi satwa oleh BKSDA dan Ditjen KSDAE agar sesuai dengan Permen LHK No. P.17/2018 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar.
2. Penyusunan petunjuk teknis (Juknis) yang lebih operasional untuk penanganan harimau agresif dan pemindahan antar lembaga konservasi.
3. Pelatihan ulang bagi personel WRU, PPS, dan mitra konservasi mengenai aspek animal welfare dan pengendalian stres satwa.
4. Transparansi publik atas setiap insiden kematian satwa dilindungi agar menjadi pembelajaran terbuka bagi dunia konservasi nasional.
Selain itu, Forum juga menekankan pentingnya menangani akar masalah konflik manusia dan satwa liar, seperti penyempitan habitat, perburuan, dan trauma satwa akibat jerat.
“Bakas pernah dua kali terjerat, dan kemungkinan trauma ini turut memengaruhi perilakunya di kandang,” kata Haidir.
Forum HarimauKita menegaskan, setiap individu harimau liar memiliki nilai genetik dan simbolik yang besar bagi bangsa.
“Kematian seekor harimau liar bukan sekadar kehilangan biologis, tetapi juga cermin dari sejauh mana kita mampu menyeimbangkan keselamatan manusia dengan martabat satwa yang kita lindungi,” pungkasnya. (Cha/Lua)
