Konten dari Pengguna

Mengapa Manusia Mudah Terpancing dengan Hoaks dan Teori Konspirasi?

Andika Dwi Wicaksono
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Program Studi Psikologi, Universitas Brawijaya
2 Desember 2025 18:00 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengapa Manusia Mudah Terpancing dengan Hoaks dan Teori Konspirasi?
Pembahasan ilmiah tentang bagaimana hoax dan teori konspirasi terbentuk sejak era manusia purba hingga otak modern, termasuk kaitannya dengan evolusi, survival, dan bias kognitif.
Andika Dwi Wicaksono
Tulisan dari Andika Dwi Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi hoaks. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hoaks. Foto: Shutter Stock
Disadari ataupun tidak, sehari-hari kita sangat akrab dengan hoaks dan teori konspirasi. Jika ditanya bagaimana cara menghilangkannya? jawabannya hampir mustahil.
Otak manusia dalam perjalanan evolusinya justru terbiasa, bahkan sangat bergantung pada hoaks dan teori konspirasi, tetapi dalam konteks yang menguntungkan.
Selama ribuan tahun, kemampuan memercayai informasi meskipun belum tentu benar, pernah menyelamatkan manusia, meningkatkan peluang bertahan hidup, dan memastikan kelangsungan spesies kita. Kok bisa? Mari kita bahas..!

Sejarah dan Evolusi Imajinasi Manusia

Ribuan tahun sebelum manusia mengenal pertanian dan tinggal menetap, nenek moyang kita hidup sebagai pemburu pengumpul di alam liar yang keras dan tidak menentu. Keselamatannya bergantung pada kecepatan dalam mengenali bahaya dan pengambilan keputusan dalam hitungan detik.
Hewan lain juga bergantung pada respons cepat terhadap ancaman, tetapi mekanismenya lebih sederhana. Seekor kijang yang melihat singa akan segera berlari karena amigdalanya memicu lonjakan adrenalin dan seluruh tubuh diarahkan untuk fight or flight, melawan atau berlari. Tidak ada proses pertimbangan, gambaran mental, ataupun narasi. Refleks yang menyelamatkan hidupnya.
Pada manusia proses awalnya sama, tetapi ada pembeda yang menentukan evolusi spesies kita, yaitu imajinasi.
Ketika nenek moyang melihat semak yang bergoyang, tubuhnya memang merasakan ancaman, tetapi pikirannya akan menambahkan gambaran kemungkinan yang belum terjadi. Otaknya mampu menciptakan bayangan harimau atau predator lain, sebelum wujudnya terlihat.
Imajinasi ancaman ini berhasil memperbesar peluang manusia tetap hidup karena mendorongnya untuk segera lari. Pada kondisi ini, pertimbangan β€˜salah atau benar’ tidak memiliki nilai. Tetapi yang terpenting adalah bisa selamat.
Manusia yang memilih untuk tidak segera lari karena masih mempertimbangkan β€œini harimau atau hanya kelinci?” akan kehilangan kesempatan untuk selamat.
Bila semak itu ternyata hanya digerakkan kelinci, manusia yang memilih lari akan tetap hidup. Tetapi jika benar itu seekor harimau, maka yang masih dalam keraguannya akan kehilangan kesempatan untuk selamat.
Seleksi alam bekerja tanpa kompromi, dan manusia yang cepat membaca pola ancaman serta mengambil tindakan ketika belum ada kepastian, memiliki peluang terbesar untuk meneruskan garis keturunan.
Pola pemikiran seperti ini yang kemudian juga diwariskan, sehingga kemampuan membayangkan ancaman berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan menunggu bukti.
Inilah fondasi evolusioner yang menjelaskan mengapa manusia lebih mudah terpancing oleh hoaks dan teori konspirasi.

Penjelasan Biologis dan Neurosains

Otak manusia berevolusi untuk mengenali dan merespon ancaman dengan cepat. Bagian yang paling berperan adalah amigdala, yang bertindak sebagai sensor bahaya. Ketika seseorang menghadapi rangsangan yang mengancam, amigdala akan aktif sebelum korteks prefrontal, yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional.
Hal ini diperkuat adanya penelitian neuroimaging (fMRI) yang menunjukkan bahwa amigdala merespon wajah atau stimulus yang menunjukkan ancaman lebih kuat dibanding stimulus netral atau positif. Reaksi ini dapat muncul sebelum seseorang itu sadar sepenuhnya akan kebenaran informasi. Respons instingtif ini adalah bagian dari sistem yang dulu menyelamatkan manusia purba.
Saat amigdala mendeteksi ancaman, ia memicu reaksi fisiologis otomatis: detak jantung meningkat, otot menegang, fokus mata menyempit, perhatian memusat, sehingga tubuh dan pikiran siap fight or flight, lawan atau lari.
Tidak berhenti di situ. Area lain juga ikut bekerja, yakni hippocampus yang berperan menyimpan memori kontekstual, sehingga otak bisa mengingat, bereaksi lebih cepat, dan mengenali pola berbahaya apabila stimulus serupa muncul lagi di masa depan. Hal ini dibuktikan adanya studi dari jurnal Neuropsychologia yang menunjukkan bahwa saat seseorang belajar melalui pengalaman atau hanya observasi terhadap ekspresi takut orang lain, maka area amigdala dan hippocampusnya aktif bersamaan.
Sementara itu, korteks prefrontal sebagai pusat evaluasi logis bekerja lebih lambat. Pada situasi yang mengancam, dominasi amigdala dapat menekan fungsi rasional sehingga muncul fenomena yang dikenal sebagai amygdala hijack.
Walaupun saat ini ancaman nyata jarang muncul dalam bentuk fisik seperti di masa purba, respons emosional tetap kuat terhadap narasi atau informasi yang mengandung ancaman. Oleh karena itu, berita sensasional, hoaks, atau teori konspirasi yang menakutkan langsung memicu alarm biologis dalam otak, bahkan sebelum analisis fakta bekerja.
Dengan kata lain, kecenderungan manusia mempercayai hoax dan teori konspirasi bukanlah tanda kebodohan atau kelalaian, tetapi bukti warisan evolusi yang berhasil menyelamatkan spesies manusia dari bahaya.
Otak menilai keselamatan lebih penting daripada kebenaran. Sistem ini memastikan respons cepat dan meningkatkan peluang bertahan hidup. Namun di era informasi digital, jalur yang sama membuat manusia rentan terhadap manipulasi dan hoaks.

Kesimpulan dan Penutup

Ketika sebuah informasi terdengar mengancam otak, secara otomatis akan menyalakan alarm sebelum logika sempat bekerja, karena mekanisme pertahanan purba masih berfungsi seperti dulu.
Dunia memang telah berubah, tetapi desain otak manusia masih sama seperti saat hidup di savana. Pada zaman dulu, reaksi cepat terhadap ancaman berhasil menyelamatkan spesies kita, dan kini dorongan yang sama berubah menjadi kesalahan persepsi, penyebaran hoax, dan teori konspirasi.
Jadi, akar dari fenomena hoax dan teori konspirasi bukan kebodohan, kurangnya pendidikan, atau juga bukan karakter yang lemah. Manusia cenderung mempercayai ancaman karena otak kita dibentuk selama jutaan tahun bukan untuk 'benar atau salah', tetapi untuk keselamatan.
Kesadaran akan mekanisme otak ini, dapat menjadi strategi dalam menghadapi informasi di era digital. Kita tidak akan bisa menghilangkan hoaks dan teori konspirasi, tetapi kita bisa meminimalkan.
Salah satu cara meminimalkan dengan melatih otak untuk berpikir ilmiah, yakni selalu mengonfirmasi dan selalu menanyakan kebenaran. Tidak perlu waktu lama. Adanya jeda 5-10 detik sudah cukup untuk mengonfirmasi kebenaran dan taruhannya bukan nyawa seperti nenek moyang kita dahulu.
Menunda beberapa detik sebelum membagikan informasi memungkinkan korteks prefrontal mengambil alih peran evaluasi fakta, sehingga mengurangi dampak impuls amigdala. Latihan jeda tersebut dan apabila konsisten, akan membentuk kebiasaan berpikir yang menyeimbangkan naluri dan logika.
Otak manusia memang masih bereaksi seperti zaman purba, tetapi dengan kesadaran dan disiplin, kita bisa mengelola respons tersebut dan menavigasi banjirnya informasi dengan lebih kritis, cerdas, dan bijak.
Trending Now