Konten dari Pengguna
Otakmu Tidak Terbelah: Membongkar Mitos Otak Kanan dan Otak Kiri
13 November 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Otakmu Tidak Terbelah: Membongkar Mitos Otak Kanan dan Otak Kiri
Tulisan ini meluruskan mitos otak kanan dan kiri melalui bukti ilmiah. Otak manusia bekerja secara simultan, bukan terbagi antara logika dan imajinasi.Andika Dwi Wicaksono
Tulisan dari Andika Dwi Wicaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Anak yang kreatif seharusnya masuk ke dunia seni karena berotak kanan, sedangkan yang logis cocok di bidang sains karena berotak kiri”.
Ungkapan semacam ini begitu akrab di masyarakat, bahkan dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Sekilas memang terdengar meyakinkan karena menggunakan istilah medis seperti “otak kanan” dan “otak kiri”. Meskipun demikian, ternyata terdapat kesalahpahaman terkait hal ini.
Mitos dan pseudosains mengenai otak kanan dan otak kiri telah hidup selama bertahun-tahun dan menyebar luas hingga ke ruang kelas, seminar, dan masyarakat umum. Mitos ini menawarkan penjelasan instan, mengapa seseorang pandai menggambar tetapi sulit berhitung, atau sebaliknya.
Banyak yang menggunakannya untuk menjelaskan bakat, kecerdasan, hingga kepribadian, seolah kompleksitas manusia hanya disederhanakan menjadi dua sisi otak. Padahal tidak ada dasar ilmiah yang membenarkan pembagian ekstrem semacam itu.
Asal-Usul Mitos
Sejarah seseorang yang bernama Paul Pierre Broca (1824-1880), menjadi titik awal yang harus dipahami. Ia adalah seorang dokter bedah, ahli anatomi, dan antropolog. Dari pengamatan klinisnya terhadap pasien stroke yang kehilangan kemampuan berbicara, Broca berhasil mengidentifikasi satu wilayah di Lobus frontalis bagian belakang (belahan kiri), perbatasan dengan Motor cortex dan berseberangan dengan ujung dari Temporal lobe. Bagian ini berkaitan dengan produksi bahasa, yang disebut Broca area.
Beberapa dekade kemudian, seorang dokter, ahli anatomi, ahli kejiwaan, sekaligus ahli patologi saraf, Carl Wernicke (1848–1905), memperkaya peta bahasa di otak. Ia menemukan area pemahaman bahasa selain Broca area, yang disebut Wernicke area. Bagian ini terletak di Cerebral cortex , pada bagian posterior kiri dari Superior temporal gyrus, mengelilingi Korteks pendengaran, di Fissura sylvian (bagian pertemuan lobus temporalis dan parietalis otak), disebut juga bagian posterior dari area Brodmann nomor 22.
Broca area dan Wernicke area pada umumnya ditemukan pada hemisfer (belahan otak besar) kiri. Kedua bagian ini dihubungkan dengan jalur saraf Fasciculus arcuata.
Apabila terjadi kerusakan di wilayah Broca, akan menyebabkan kesulitan mengucap kata secara benar (Afasia motorik) dan kerusakan di wilayah Wernicke membuat ucapan terdengar lancar, tetapi maknanya kurang tepat (Afasia sensorik).
Selain Afasia (kerusakan pada hemisfer kiri), ternyata ada juga gangguan yang disebabkan kerusakan pada hemisfer kanan, yang disebut Agnosia. Agnosia terjadi ketika otak tidak dapat mengenali dan mengidentifikasi objek, pola, suara, atau bentuk, meskipun indra berfungsi normal.
Dari kasus Afasia dan Agnosia inilah muncul kesimpulan bahwa kemampuan bahasa pada hemisfer kiri, sedangkan kemampuan mengidentifikasi pola pada hemisfer kanan.
Selain itu, penemuan lain pada pasien yang mengalami pemisahan Korpus kalosum dan studi tentang lateralitas otak memperlihatkan variasi fungsi antar hemisfer.
Roger Sperry menemukan perbedaan fungsi yang menarik pada pasien split brain. Temuan mereka memicu interpretasi populer yang menyederhanakan dalam narasi "kiri untuk logika, kanan untuk kreativitas".
Penjelasan Biologis dan Neurosains
Ilmu saraf modern melihat otak sebagai jaringan yang saling terhubung dan bergantung, bukan sebagai dua kubu yang berpisah dan berperang.
Memang benar ada lateralitas, artinya beberapa fungsi cenderung lebih kuat di satu hemisfer. Kemampuan bahasa memang tersentral di hemisfer kiri, sementara pengolahan ruang dan pola visual seringnya melibatkan hemisfer kanan (pada orang yang dominan tangan kanan, jika kidal, maka sebaliknya). Namun, kecenderungan ini tidak sama dengan klaim bahwa orang bertipe kreatif hanya memakai sisi kanan atau orang bertipe logis hanya memakai sisi kiri.
Data neuroimaging berbasis resting state fMRI memberi gambaran yang lebih jelas. Studi besar yang telah menganalisis lebih dari ribuan pemindaian otak, menunjukkan bahwa jaringan di otak untuk melakukan suatu aktivitas akan melibatkan region dari kedua hemisfer dan saling terhubung melalui Korpus kallosum.
Analisis konektivitas fungsional memperlihatkan pola lateralitas untuk fungsi tertentu, tetapi tidak menemukan kalau pola individu yang konsisten sebagai "lebih otak kanan" atau "lebih otak kiri" sepanjang hidup.
Pendekatan modern juga menyorot peran jaringan domain khusus dan jaringan domain umum. Tugas seperti berpikir analitis atau berkreasi tidak berjalan pada satu node tunggal. Mereka memerlukan interaksi antara jaringan eksekutif, jaringan atensi, sistem memori dan jaringan yang memproses sensorik. Kreativitas melibatkan evaluasi, penghambatan ide yang tidak relevan, dan sekaligus asosiasi yang luas, semua itu merekrut struktur di kedua belahan otak.
Kesimpulan dan Penutup
Kini, gagasan bahwa manusia hanya memakai salah satu sisi otak, hanyalah mitos yang berawal dari salah tafsir.
Temuan Broca dan Wernicke yang awalnya ilmiah berubah menjadi narasi populer yang menggoda karena kesederhanaannya. Nyatanya, sains tidak se-sederhana-itu.
Otak bekerja melalui jutaan koneksi yang saling bersilang, menyalakan logika dan imajinasi secara bersamaan dalam setiap aktivitas.
Manusia dapat berpikir, merasa, mencipta, dan memutuskan, dengan menggunakan seluruh bagian otak. Saat seseorang menggambar, ia tidak hanya memakai sisi kanan, tetapi juga mengandalkan memori, koordinasi motorik, dan logika ruang.
Saat ilmuwan menghitung rumus, ia tak hanya berpikir dengan sisi kiri. Ia juga membaca pola diagram dan grafik, membayangkan hasil, serta memaknai data. Inilah bukti cara otak bekerja yang secara simultan, bukan sebagai dua kubu yang bersilangan.
Mitos dan pseudosains otak kiri dan kanan telah menunjukkan betapa mudahnya masyarakat percaya pada hal yang “terdengar” ilmiah. Inilah alasan mengapa literasi menjadi penting.
Pemahaman yang keliru tentang otak bisa salah secara teori, bahkan menyesatkan arah pendidikan dan pengembangan diri. Maka dari itu, kita perlu membiasakan berpikir kritis, memeriksa sumber, dan tidak menerima penjelasan yang memanjakan rasa ingin tahu tanpa dasar keilmuannya.

