Konten dari Pengguna
Mengapa Lilin Tetap Populer Meski Sudah Ada Lampu?
4 Desember 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Lilin Tetap Populer Meski Sudah Ada Lampu?
Mengapa lilin tetap digemari meski lampu telah lama mengambil alih fungsi penerangan? Pertanyaan ini membuka perjalanan panjang lilin yang dilihat melalui perspektif liberalisme. #userstoryLeila Maudina Aristawati
Tulisan dari Leila Maudina Aristawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lilin tidak pernah terdengar kuno ketika seseorang mengatakan bahwa ia masih menggunakannya. Lilin berbeda dengan teknologi lain di masa lalu, misalnya kaset musik, yang kini sudah tergantikan oleh layanan streaming musik, sehingga nyaris tak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika melihat dari fungsi utamanya sebagai sumber penerangan, kehadiran lampu sepenuhnya telah mengambil alih peran lilin. Dengan demikian, lilin dapat dikatakan sebagai teknologi yang sudah usang. Lalu, mengapa lilin masih begitu populer dan tidak punah?
Sejarah Lilin
Lilin telah digunakan sebagai sumber penerangan selama lebih dari 5.000 tahun. Penggunaan lilin paling awal dikaitkan dengan peradaban Mesir Kuno, yang membuat semacam obor dari bambu yang direndam dalam lelehan lemak hewani. Pada Abad Pertengahan, lilin lebah (beeswax) mulai digunakan di Eropa karena terbakar lebih bersih, tidak berasap, dan mengeluarkan aroma manis.
Pada abad 19, lilin parafin diperkenalkan oleh para ilmuwan yang dihasilkan dari pemurnian minyak bumi. Parafin tidak berbau, berwarna putih, dan lebih murah serta mudah terbakar. Namun, sejak ditemukan bola lampu pada tahun 1897, penggunaan lilin sebagai sumber penerangan utama mulai mengalami penurunan.
Kenaikan Popularitas Lilin hingga Sekarang
Lilin kembali populer pada abad ke-20 seiring dengan meningkatnya produksi parafin sebagai produk sampingan dari industri minyak. Popularitas lilin terus meningkat, yaitu ketika minat terhadap lilin sebagai barang dekorasi, hadiah, dan penyemangat hati mulai meningkat. Sejak saat itu, lilin muncul dalam berbagai macam bahan, bentuk, ukuran, warna, dan aroma.
Di era masa kini, pasar lilin secara global terus berkembang dengan nilai mencapai USD 14,06 miliar atau sekitar Rp234,1 triliun pada tahun 2024 dan diproyeksikan mencapai USD 20,10 miliar atau sekitar Rp334,7 triliun pada tahun 2030. Di Indonesia, pasar lilin turut mengalami pertumbuhan impor sebesar 6,66% dari tahun 2023 hingga 2024. Data ini menunjukkan bahwa lilin tetap memiliki permintaan yang tinggi di pasar global dan Indonesia.
Bagaimana Lilin Masih Bisa Bertahan?
Dalam teori liberalisme pada Ekonomi Politik Internasional (EPI), globalisasi dilihat sebagai salah satu aspek yang membentuk hubungan ekonomi antarnegara. Globalisasi sendiri dipahami sebagai meningkatnya ketergantungan ekonomi, budaya, dan populasi dunia akibat perdagangan lintas batas (free trade), kemajuan teknologi, serta arus informasi. Dalam perspektif liberal, globalisasi tersebut mendorong perubahan teknologi dan membentuk pasar yang lebih kompetitif.
Globalisasi yang dipercepat oleh kemajuan teknologi membuat akses informasi menjadi lebih mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, mudahnya akses informasi membuat banyak orang sadar akan pentingnya perawatan diri (self-care). Masyarakat sekarang sangat memerhatikan kondisi psikologis dan lingkungan hidup mereka.
Pergeseran kesadaran ini sangat memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Kini, banyak konsumen bersedia mengeluarkan uang lebih untuk mendekorasi ulang tempat tinggal mereka demi menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung kesehatan mental. Dalam upaya menciptakan lingkungan yang menyenangkan, berbagai produk diinovasikan untuk mendukung hal tersebut, salah satunya adalah lilin.
Seperti yang sudah disinggung di atas, lilin kini hadir dalam berbagai bentuk dan warna, sehingga lilin dapat memiliki nilai estetika tersendiri. Kemajuan inovasi juga memungkinkan lilin dirancang sedemikian rupa dengan aroma tertentu, atau yang familiar disebut sebagai lilin aromaterapi. Berbagai macam varian aroma—seperti lavender, chamomile, sandalwood, jasmine, dan masih banyak lagi—membuat lilin menjadi sarana sederhana yang dapat menciptakan ketenangan.
Pada akhirnya, lilin telah berkembang jauh sejak pertama kali digunakan ribuan tahun lalu. Meskipun tidak lagi digunakan sebagai sumber penerangan utama, lilin justru kian populer dan fungsinya semakin beragam. Kini, lilin digunakan sebagai simbol perayaan, dekorasi, bahkan dapat memberikan ketenangan. Meski merupakan teknologi usang, lilin mampu beradaptasi, sehingga tetap memiliki daya tarik tersendiri.

