Lewat Karya Foto “Unity in Diversity” kumparan Ukir Prestasi Internasional
10 November 2025 10:23 WIB
·
waktu baca 2 menit
Lewat Karya Foto “Unity in Diversity” kumparan Ukir Prestasi Internasional
kumparan meraih penghargaan Best Lifestyle Photography WAN-IFRA Asian Media Awards 2025 berkat karya Indonesia’s Unity in Diversity. Berikut makna dan kisah di balik pembuatan karya tersebut. Life at kumparan

kumparan kembali mengukir prestasi di kancah internasional. Dalam ajang WAN-IFRA Asian Media Awards 2025 yang digelar di Conrad Singapore Orchard, pada Rabu (5/11), kumparan meraih penghargaan Best Lifestyle Photography melalui karya berjudul “A Living Portrait of Indonesia’s Unity in Diversity.”
Karya ini hadir sebagai potret harmoni budaya yang tumbuh alami di tengah masyarakat Indonesia. Dalam momen perayaan Cap Go Meh di kawasan Glodok, Jakarta, awak kumparan berhasil menangkap esensi keberagaman dalam satu frame yang penuh dengan makna.
Lewat foto tersebut, kumparan mencoba untuk merepresentasikan Indonesia yang apa adanya, tempat di mana keberagaman tak hanya jadi simbol, tapi benar-benar hidup dan melebur dalam keseharian.
Kemenangan ini juga melengkapi dua penghargaan lainnya yang diraih kumparan, yakni kumparan New Energy Vehicle Summit 2025 untuk kategori Best Revenue Diversification Project, dan kumparan Hangout Noraebang untuk kategori Best Young Audience Initiative. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Chief of kumparanOTO Gesit Prayogi yang mewakili kumparan.
“A Living Portrait of Indonesia’s Unity in Diversity” adalah karya fotografer kumparan Iqbal Firdaus, diambil pada 12 Februari 2025 saat perayaan Festival Cap Go Meh Glodok. Dalam suasana meriah dan penuh semangat, tampak ondel-ondel Betawi berjalan berdampingan dengan barongsai dan lentera merah.
Paduan visual antara simbol Betawi dan tradisi Tionghoa itu menghadirkan pesan akulturasi yang kental di Tanah Air. kumparan ingin menegaskan bahwa kebersamaan lintas budaya menjadi realitas yang hidup dalam keseharian di Indonesia.
Dengan gaya dokumenter yang khas, Iqbal berusaha menangkap momen secara autentik sambil tetap menghargai makna budaya di balik peristiwa yang ia abadikan. Di tengah padatnya festival, Iqbal harus pandai mencari celah di antara kerumunan agar setiap bidikan tetap seimbang dan terasa natural.
Tak berhenti pada sisi teknis, karya ini juga mencerminkan filosofi jurnalisme visual kumparan, yakni bahwa setiap foto bukan hanya tentang estetika, melainkan tentang nilai dan makna.
Karya ini memperlihatkan bagaimana awak kumparan menampilkan Indonesia sebagai ruang interaksi budaya yang hidup dan saling memperkaya satu sama lain.
Lebih dari sekadar penghargaan, pencapaian ini menjadi bentuk apresiasi bagi semangat pluralisme dan keberagaman yang terus hidup dalam bangsa Indonesia.
