Konten dari Pengguna

Bhinneka Tunggal Ika: Lebih dari Sekadar Semboyan, Ia Sedang Diuji Hari Ini

Likon Lubis
Guru Pendidikan Pancasila di SMA Darma Yudha Pekanbaru
8 Januari 2026 13:52 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bhinneka Tunggal Ika: Lebih dari Sekadar Semboyan, Ia Sedang Diuji Hari Ini
Bhinneka Tunggal Ika sedang diuji di ruang kelas dan ruang publik. Perbedaan mudah berubah jadi pelabelan. Ia bukan slogan, melainkan etika hidup bersama yang harus dilatih, adil, dan dipraktikkan set
Likon Lubis
Tulisan dari Likon Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tarian daerah oleh siswa SMA Darma Yudha Pekanbaru. Foto: dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Tarian daerah oleh siswa SMA Darma Yudha Pekanbaru. Foto: dokumen pribadi.
Beberapa pekan lalu, sebuah diskusi kelas yang saya pandu berjalan seperti biasa. Topiknya ringan: perbedaan pendapat dalam isu-isu sosial yang sedang ramai dibicarakan publik. Namun suasana berubah cepat. Dalam hitungan menit, perbedaan pandangan yang semula sehat berubah menjadi ketegangan. Nada suara meninggi, argumen mengeras, dan tanpa disadari, muncul pelabelan. Bukan lagi soal ide, melainkan soal siapa ā€œkitaā€ dan siapa ā€œmerekaā€.
Sebagai guru, saya melihat itu bukan sekadar konflik kecil di kelas. Ia adalah miniatur ruang publik Indonesia hari ini.
Di luar ruang kelas, kita menyaksikan hal serupa terjadi hampir setiap hari. Perbedaan pendapat—baik soal politik, agama, kebijakan publik, hingga isu sosial—mudah berubah menjadi kecurigaan. Media sosial mempercepatnya. Algoritma lebih menyukai suara keras daripada percakapan jujur. Yang berbeda sering kali tidak diajak berdialog, tetapi dilabeli. Dalam situasi seperti ini, semboyan Bhinneka Tunggal Ika kerap kembali disebut-sebut, seolah ia cukup menjadi penenang setelah konflik terjadi.
Padahal, di sinilah justru ujian terbesarnya.
Bhinneka Tunggal Ika tidak lahir dari situasi yang nyaman. Para pendiri bangsa merumuskannya justru karena menyadari satu kenyataan mendasar: Indonesia dibangun di atas perbedaan yang nyata dan tidak bisa dihapuskan. Persatuan bukan hadiah, melainkan kerja keras yang harus terus diusahakan. Ia bukan sekadar kesepakatan politik, tetapi etika hidup bersama.
Masalahnya, hari ini kita terlalu sering memperlakukan semboyan itu sebagai slogan moral, bukan sebagai pedoman tindakan. Ia hadir di pidato resmi, spanduk, dan buku pelajaran, tetapi absen dalam praktik keseharian. Kita mengucapkannya ketika konflik sudah pecah, bukan menjadikannya prinsip sebelum konflik muncul. Akibatnya, Bhinneka Tunggal Ika terdengar indah, tetapi kehilangan daya hidupnya.
Ruang publik digital memperlihatkan persoalan ini dengan telanjang. Pendapat yang berbeda dianggap ancaman. Identitas diperas menjadi alat pembeda yang kaku. Dalam situasi semacam ini, keberagaman tidak lagi dipahami sebagai kekayaan, melainkan sebagai sumber kegaduhan. Kita lupa bahwa hidup dalam keberagaman memang tidak selalu nyaman. Ia menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan mendengar—tiga hal yang justru semakin langka di tengah budaya debat instan.
Pengalaman di kelas saya menunjukkan hal yang sama. Para siswa sebenarnya memahami definisi toleransi dan persatuan. Mereka bisa menghafalnya dengan baik. Namun ketika berhadapan dengan perbedaan nyata—pendapat yang benar-benar tidak sejalan—refleks yang muncul bukan dialog, melainkan defensif. Ini bukan semata kegagalan individu, melainkan cerminan budaya sosial yang mereka serap setiap hari.
Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika tidak cukup diajarkan sebagai konsep normatif. Ia harus dilatih sebagai kebiasaan sosial. Ia hidup dalam cara kita mendengar tanpa menyela, dalam kesediaan menerima bahwa tidak semua orang akan berpikir seperti kita, dan dalam keberanian untuk berbeda tanpa harus saling meniadakan. Pendidikan, dalam hal ini, memegang peran kunci: bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk watak kewargaan.
Namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan. Persatuan tidak mungkin dirawat tanpa rasa keadilan. Sulit meminta masyarakat merawat kebersamaan jika sebagian merasa terus-menerus dipinggirkan atau tidak diperlakukan setara. Di titik ini, negara dan seluruh elemen publik harus hadir, memastikan bahwa keberagaman tidak hanya dirayakan secara simbolik, tetapi juga dijamin secara struktural.
Bhinneka Tunggal Ika bukan warisan yang selesai kita terima. Ia adalah pekerjaan yang terus menunggu keterlibatan setiap generasi. Di tengah ruang publik yang semakin bising dan mudah terbelah, semboyan ini sedang diuji—bukan di baliho atau pidato, melainkan dalam percakapan sehari-hari, di media sosial, di ruang kelas, dan di cara kita merespons perbedaan.
Jika ia hanya terus diucapkan tanpa diperjuangkan, Bhinneka Tunggal Ika akan tetap hidup sebagai kata, tetapi mati sebagai nilai. Namun jika kita berani menghidupkannya dalam praktik—bahkan dalam perbedaan yang paling tidak nyaman—ia akan tetap menjadi fondasi yang menjaga Indonesia tetap utuh di tengah kemajemukan yang nyata.
Trending Now