Konten dari Pengguna
Ketika Paragraf Panjang Tak Lagi Punya Tempat di Kelas
3 Desember 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Paragraf Panjang Tak Lagi Punya Tempat di Kelas
Generasi hari ini tumbuh dalam budaya serbacepat—video 10 detik, potongan teks, dan informasi instan. Akibatnya, paragraf panjang terasa seperti beban, bukan tantangan.Likon Lubis
Tulisan dari Likon Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari lalu, saya memberikan soal berbasis teks naratif kepada siswa—panjangnya bahkan belum mencapai satu halaman. Namun sebelum membaca, beberapa anak sudah menghela napas. Ada yang berbisik, “Pak, ini panjang sekali… bisa ringkas saja?” Pemandangan seperti ini bukan lagi kejutan. Ia muncul begitu sering hingga membentuk pola baru: ketidaksabaran membaca yang makin mengakar.
Saya mulai melihat bahwa yang berubah bukan sekadar minat baca, melainkan cara mereka memproses informasi. Generasi hari ini dibentuk oleh dunia digital yang bergerak seperti kilat. Layar ponsel memberi mereka video 10 detik, potongan teks mini, dan informasi instan yang mengalir tanpa jeda. Di tengah arus deras itu, paragraf panjang terasa seperti beban, bukan tantangan intelektual.
Akibatnya kentara di kelas. Begitu berhadapan dengan teks panjang, banyak siswa langsung mencari jalan pintas—membaca diagonal, berburu kata kunci, atau menunggu teman menjelaskan. Detail penting dilewatkan, alur penjelasan tidak dipahami, dan kemampuan analisis melemah karena proses membaca hanya dilakukan setengah hati. Yang hilang bukan hanya ketekunan, tetapi ketajaman berpikir.
Saya tidak menutup mata bahwa budaya digital memang mengikis fokus. Namun sekolah pun sering ikut terburu-buru. Kita menuntut analisis, tetapi jarang menyediakan ruang bagi siswa untuk membangun kebiasaan membaca yang pelan, teliti, dan sadar. Padahal kemampuan itu tidak bisa tumbuh dari konsumsi konten serbacepat. Ia lahir dari perjumpaan dengan teks panjang—yang menuntut perhatian utuh dan kesabaran mental.
Saya pernah melihat seorang siswa yang sangat cerdas, tetapi selalu tergesa-gesa. Ia membaca cepat, lalu kebingungan menjawab pertanyaan. Ketika saya minta ia membaca ulang dengan ritme lambat, analisanya berubah total: lebih jernih, lebih runtut, lebih matang. Ternyata bukan pemahamannya yang lemah; hanya *waktunya* yang ia rampas sendiri karena terbiasa hidup dalam tempo kilat.
Di tengah budaya *skip* yang merajalela, saya percaya sekolah harus menjadi tempat untuk memperlambat. Tempat di mana siswa belajar bahwa memahami sesuatu membutuhkan perhatian penuh, bukan sekadar kecepatan. Tempat di mana paragraf panjang tidak dihindari, tetapi dihayati sebagai latihan membangun pola pikir yang kuat.
Sebab pada akhirnya, hidup tidak menyajikan persoalan dalam kalimat pendek. Ia hadir dalam paragraf panjang, penuh detail, dan sering kali membingungkan. Jika kemampuan membaca mendalam hilang, kita sedang menyiapkan generasi yang tangkas menggulir layar, tetapi rapuh menghadapi kompleksitas nyata.
Di era ketika jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran, mungkin inilah saatnya kita mengembalikan lagi nilai dari membaca perlahan. Tidak semua hal bisa dipahami dalam lima detik. Dan masa depan tidak akan dibangun oleh mereka yang selalu mencari jalan pintas, tetapi oleh mereka yang mampu bertahan membaca hingga akhir—dan memahaminya dengan utuh.

