Konten dari Pengguna

Buku Akses Terbuka: Dana Publik untuk Pengetahuan Publik

Fadly Suhendra
Editor/Asesor LSP/Pranata Humas Muda BRIN
19 Mei 2025 11:58 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Buku Akses Terbuka: Dana Publik untuk Pengetahuan Publik
Penyediaan e-book open access yang dilakukan BRIN untuk mendorong peningkatan produksi pengetahuan ilmiah sebagai sumber literasi sains yang inovatif dan kredibel.
Fadly Suhendra
Tulisan dari Fadly Suhendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tangkapan Layar Situs Penerbit BRIN
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan Layar Situs Penerbit BRIN
Di tengah dinamika global yang semakin bertumpu pada ekonomi berbasis pengetahuan, akses terhadap sumber informasi ilmiah yang kredibel dan inovatif menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang cerdas dan unggul. Sebagai center of excellence, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki peran strategis dalam mendukung inisiatif tersebut.
Salah satu terobosan dan langkah strategis BRIN adalah membuka akses gratis terhadap ratusan buku elektronik (e-book). Koleksi e-book yang tersedia mencakup berbagai bidang ilmu: mulai dari sains dan teknologi, kedokteran, ilmu lingkungan, ekonomi, hingga ilmu sosial dan humaniora. Menariknya, semua e-book tersebut dapat diakses secara gratis hanya dengan mengunjungi situs penerbit BRIN secara daring. Tanpa perlu datang ke gedung fisik, publik dapat langsung mengakses e-book ini melalui gawai masing-masing.
Dana Publik untuk Pengetahuan Publik
Kebijakan ini mencerminkan semangat demokratisasi pengetahuan. Sejalan dengan tren global dalam mendukung akses terbuka (open access), yakni gagasan bahwa hasil penelitian ilmiah dan sumber belajar seharusnya dapat diakses oleh siapa saja tanpa hambatan ekonomi. Di negara-negara maju, akses terhadap sumber literatur ilmiah sering kali menjadi bagian dari hak dasar warga negara.
Sementara di Indonesia, hal ini masih menjadi kemewahan. Banyak mahasiswa, dosen, peneliti, bahkan guru di daerah-daerah pelosok, menghadapi kesulitan mengakses referensi bermutu karena keterbatasan dana atau infrastruktur perpustakaan yang minim.
Untuk itu, penyediaan e-book akses terbuka yang dilakukan BRIN, sejalan dengan yang telah dilakukan di beberapa negara maju. Salah satu perkembangan penting adalah dorongan kebijakan akses terbuka untuk buku hasil riset, yang telah diumumkan oleh UK Research and Innovation (UKRI) pada 2021.
Kebijakan tersebut dilakukan melalui program Plan S yang menegaskan bahwa semua publikasi ilmiah yang dibiayai oleh badan pendanaan publik harus diterbitkan pada platform open access atau segera tersedia untuk publik melalui repositori akses terbuka tanpa sistem embargo.
Plan S merupakan inisiatif Coalition-s di Eropa, yaitu sebuah konsorsium pendanaan penelitian internasional untuk penerbitan open access, yang didukung oleh Science Europe, penyandang dana, the European Research Council, dan the European Commission.
Dorongan Keterbukaan Informasi Ilmiah di Indonesia
Demikian juga dengan Indonesia, dalam UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sisnas Iptek pasal 21, telah disebutkan bahwa hasil penelitian dan pengembangan wajib dipublikasikan dan didiseminasikan. Bahkan pada Pasal 22 ayat 2 disebutkan bahwa kepemilikan atas kekayaan intelektual yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara menjadi hak pemerintah.
Dapat diartikan bahwa publikasi ilmiah yang didanai publik di Indonesia dilihat sebagai barang publik seperti halnya undang-undang atau laporan pemerintah yang tersedia untuk diakses secara gratis melalui sarana internet.
Upaya ini juga sejalan dengan cita-cita yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan (Sisbuk), yaitu pemerintah didorong untuk menyediakan buku bermutu, murah, dan merata.
Dalam inisiatif ini, publik hanya memerlukan adanya koneksi internet untuk membaca dan mengunduh konten buku-buku elektronik ataupun rekaman audiovisual yang disediakan BRIN.
Hal ini juga diaminkan oleh Irawan dkk. yang dalam artikel yang berjudul Indonesia Nomor Satu Publikasi Jurnal Akses Terbuka di Dunia, Apa Artinya? (Kompas, 2020) bahwa publikasi hasil riset yang didanai publik, sudah selayaknya dibuka seluas-luasnya untuk publik. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang maksimal bila aksesnya dibatasi untuk publik.
Publik di sini bukan berarti hanya komunitas ilmiah, tetapi juga masyarakat umum yang juga sepatutnya diberi akses terhadap hasil riset. Oleh karena itu, publikasi yang didanai publik sudah selayaknya digunakan untuk peningkatan pengetahuan publik.
Tingkatkan Produksi Pengetahuan
Penyediaan e-book akses terbuka yang dilakukan BRIN merupakan sebuah upaya untuk mendorong peningkatan produksi pengetahuan ilmiah sebagai sumber literasi sains yang inovatif dan kredibel, khususnya yang berhubungan dengan hasil riset.
Dalam suatu kesempatan, Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa upaya penyediaan e-book akses terbuka dilandasi dari keprihatinan atas terbatasnya penyedia dan pembaca buku-buku ilmiah di Indonesia, khususnya dalam memenuhi kebutuhan akan sumber referensi ilmiah, baik untuk kegiatan riset maupun pembelajaran.
Menurutnya, kebutuhannya akan adanya sumber referensi ilmiah sangat tinggi, namun dukungan sumber daya (finansial) untuk mengakses sumber-sumber informasi utama sangat terbatas. Sementara itu, di sisi lain, terdapat potensi penyedia atau produsen sumber pengetahuan yang besar, yaitu para periset dan akademisi di kampus dan lembaga riset, namun mereka tidak memiliki dukungan infrastruktur yang memadai sehingga karya mereka sulit diakses oleh pemakai potensialnya.
Oleh karena itu, BRIN menyediakan berbagai e-book akses terbuka melalui penyelenggaraan Program Akuisisi Pengetahuan Lokal (APL). Selain dimaksudkan untuk meningkatkan kebermanfaatan hasil-hasil riset, program APL juga bertujuan untuk dapat mendokumentasikan dan mendiseminasikan berbagai pengetahuan lokal, khususnya yang terkait dengan kekayaan kebudayaan dan sumber daya alam Indonesia agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber literasi, baik untuk proses pembelajaran maupun referensi untuk kegiatan riset.
Dampak yang Diharapkan
Dampak positif dari layanan e-book gratis ini bukan hanya pada penyediaan sumber literasi, tetapi juga pada penguatan ekosistem riset nasional. Riset yang berkualitas tidak hanya bergantung pada laboratorium atau dana penelitian, tetapi juga pada kekayaan atau ketersediaan referensi yang mendukung kemampuan intelektual untuk membaca tren, menyusun argumen, dan membangun kerangka teoretis yang kokoh.
Dalam hal ini, koleksi e-book yang disediakan BRIN menjadi salah satu amunisi penting bagi para ilmuwan untuk bersaing di kancah global. Penyediaan e-book dengan akses terbuka ini juga diharapkan menjadi jembatan penghubung antara penulis dan pembaca untuk berinteraksi dan berkolaborsi dalam menghasilkan buku-buku yang memuat berbagai informasi ilmu pengetahuan.
Melalui upaya ini, para penulis yang notabene sebagai periset dan akademisi diharapkan dapat termotivasi dan tergerak untuk lebih mendiseminasikan informasi dan pengetahuan mereka agar dapat dimanfaatkan oleh kalangan yang lebih luas.
Jika publikasi dalam artikel jurnal dimaksudkan sebagai bentuk komunikasi science to science, maka publikasi buku merupakan bentuk komunikasi science to society. Hal ini disebabkan karena buku dipandang memiliki kemungkinan kemampuan lebih baik untuk dimanfaatkan khalayak yang lebih luas atau lebih besar (nonspesialis) dibandingkan dengan artikel jurnal.
Hari Buku! Menjaga Keberlanjutan
Satu lagi hal yang perlu dipastikan adalah kesinambungan inisiatif ini. Harapannya, program yang sangat bermanfaat ini jangan sampai berhenti di tengah jalan. Keterbukaan informasi tentang bagaimana layanan ini dikelola, sejauh mana jangkauannya, dan bagaimana pemerintah menjamin keberlanjutannya adalah hal yang perlu disampaikan secara transparan kepada publik.
Oleh karena itu, langkah strategis ini dapat dikembangkan lebih jauh. BRIN, bersama lembaga lain seperti Perpusnas dan Kemendiktisaintek dapat membangun ekosistem penerbitan ilmiah nasional berbasis akses terbuka, tidak saja untuk jurnal namun juga buku. Upaya ini termasuk digitalisasi buku-buku akademik, pembuatan platform penerbitan buku elektronik ilmiah nasional, serta pengarsipan hasil riset dalam bentuk digital yang mudah diakses.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna pengetahuan global, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan yang relevan dan berkualitas.
Akhirnya, pengetahuan bukan sekadar kumpulan informasi, ia adalah unsur kunci untuk pembangunan manusia. Untuk itu, negara harus menjamin bahwa warganya dapat mengakses dan memanfaatkan pengetahuan secara mudah, murah, dan merata, sebagaimana yang dimaktumkan dalam UU Sisbuk. Selamat Hari Buku!
Trending Now