Konten dari Pengguna
Inovasi BRIN Manfaatkan Bahan Alami sebagai Pencegah Karat Ramah Lingkungan
24 Agustus 2025 0:13 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Inovasi BRIN Manfaatkan Bahan Alami sebagai Pencegah Karat Ramah Lingkungan
kekayaan sumber daya alam Indonesia juga menyimpan peluang lain yang tak kalah penting: menjadi sumber zat aktif alami penghambat karatFadly Suhendra
Tulisan dari Fadly Suhendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Selama ini, potensi hayati tersebut dimanfaatkan terutama untuk pangan, obat-obatan, dan kosmetik. Namun, dalam pandangan ilmuwan, kekayaan sumber daya alam Indonesia juga menyimpan peluang lain yang tak kalah penting: menjadi sumber zat aktif alami penghambat korosi.
Korosi adalah musuh senyap yang dapat melemahkan material logam, merusak infrastruktur, hingga mengancam keselamatan manusia. Dari jembatan, pipa migas, kapal, hingga gedung bertingkat, semua berpotensi rapuh jika tidak dilindungi dari korosi.
Ancaman ini pula yang menjadi fokus orasi ilmiah pengukuhan Gadang Priyotomo, peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai Profesor Riset bidang Teknik Pencegahan Korosi, di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, BRIN Jakarta, pada Rabu (20/8).
Dalam orasi berjudul “Teknologi Mitigasi Korosi Ramah Lingkungan untuk Konservasi Struktur Rawan Korosi”, Gadang menekankan perlunya pendekatan baru dalam mengatasi masalah korosi. Bukan sekadar teknologi mahal dan berorientasi jangka pendek, melainkan solusi yang terintegrasi, ramah lingkungan, dan sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
“Riset ini membuka peluang peningkatan nilai tambah serta diversifikasi produk tanaman, yang tidak hanya bermanfaat di bidang medis, pangan, dan kosmetik, tetapi juga di bidang keteknikan,” ungkap Doktor bidang Teknik dari Graduate School of Engineering, Osaka Prefecture University, Jepang ini.
Korosi: Ancaman Senyap yang Mahal dan Berbahaya
Secara ilmiah, korosi adalah proses alami kembalinya logam ke bentuk asalnya yang lebih stabil, misalnya menjadi oksida. Namun, di balik proses alami itu tersimpan konsekuensi serius. Korosi bukan hanya karat biasa, tetapi bisa menyebabkan jembatan retak, pipa minyak bocor, kapal berkarat, hingga gedung runtuh.
“Korosi pada struktur logam dapat menyebabkan bencana lokal maupun regional yang berakibat fatal, termasuk potensi kehilangan jiwa manusia,” tegas Gadang. Ia mencontohkan kasus runtuhnya sebuah gedung di kawasan Slipi, Jakarta, pada 2020 akibat korosi pada baja tulangan beton—sebuah bukti betapa berbahayanya korosi jika diabaikan.
Dari Metode Konvensional ke Pendekatan Ramah Lingkungan
Selama ini industri telah menggunakan berbagai cara untuk menahan laju korosi: memilih material tahan karat, melapisi permukaan dengan cat khusus, memasang proteksi katodik, hingga menambahkan inhibitor kimia sintetis. Sayangnya, metode ini seringkali mahal dan berisiko mencemari lingkungan.
Sebagai contoh, cat antifouling yang digunakan pada lambung kapal umumnya berbahan kimia berbahaya, seperti Cu₂O (tembaga oksida) atau senyawa timah. Meskipun efektif, residunya dapat mencemari laut, meracuni plankton, ikan, hingga manusia.
Di sinilah muncul paradigma baru yang ditawarkan Gadang: mitigasi korosi berbasis hayati, memanfaatkan bahan alami sebagai penghambat karat sekaligus menjaga lingkungan.
Salah satu fokus penelitian Gadang adalah ubi ungu. Tanaman ini kaya antosianin, senyawa antioksidan yang dalam bidang medis berfungsi melawan radikal bebas. Dalam pendekatan multidisiplin, mekanisme ini diadaptasi untuk mencegah korosi.
“Zat antosianin dalam ubi ungu terbukti dapat membentuk senyawa kompleks dengan logam melalui proses chelating, sehingga berpotensi digunakan sebagai inhibitor alami dalam industri minyak dan gas bumi,” jelas Profesor Riset yang memperoleh gelar Sarjana Teknik Metalurgi dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini.
Menurutnya, kerusakan logam akibat korosi yang melepaskan ion-ion bebas memiliki analogi dengan konsep radikal bebas di bidang kesehatan. Oleh karena itu, antioksidan alami dari tumbuhan bisa menjadi solusi mitigasi yang efektif.
Memanfaatkan Limbah Pertanian dan Ekstrak Tumbuhan
Penelitian tidak berhenti pada ubi ungu. Limbah pertanian yang sebelumnya dianggap sampah juga dieksplorasi potensinya. Misalnya, Kulit buah kelengkeng: mampu menghambat korosi hingga 93% pada konsentrasi 500 ppm, efektif untuk pembersihan pipa migas; Kulit buah naga: kandungan senyawa fenolnya dapat mengurangi kerusakan akibat korosi hingga 87,73%; Daun talas: ekstraknya menekan laju korosi hingga 72% pada konsentrasi optimum 4000 ppm.
Demikian juga dengan daun tembakau: nikotin di dalamnya terbukti menurunkan kerusakan korosi hingga 80% dengan injeksi 60 ppm; Daun bawang: ekstraknya mampu memberikan perlindungan korosi pada baja di atas 90%; dan Daun teh putih: yang dikenal memiliki kadar antioksidan tinggi, terbukti efektif mengurangi kerusakan hingga 96% pada media asam klorida.
Menurutnya, senyawa organik dalam tumbuhan—seperti polifenol, terpen, asam karboksilat, dan alkaloid—umumnya mengandung heteroatom (P, N, S, O) dan ikatan rangkap. Zat-zat ini membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam melalui mekanisme adsorpsi, sehingga korosi dapat ditekan secara signifikan.
Potensi dari Laut: Antifouling Ramah Lingkungan
Selain tumbuhan darat, potensi juga datang dari laut. Ekstrak alga dan mikroorganisme laut dapat dimanfaatkan sebagai antifouling alami, pengganti cat berbasis biosida sintetis.
Hal ini sangat relevan bagi Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Infrastruktur maritim—pelabuhan, dermaga, kapal, hingga instalasi lepas pantai—berada dalam kondisi sangat korosif akibat paparan air asin, kelembaban, dan mikroorganisme.
Kerugian akibat korosi laut sangat besar: kapal harus sering dicat ulang, perawatan mahal, dan risiko kebocoran pipa bawah laut yang berpotensi menimbulkan tumpahan minyak. Dengan riset lintas disiplin, sektor maritim dapat beralih ke teknologi ramah lingkungan yang menekan biaya sekaligus menjaga ekosistem laut.
Inovasi Multidisiplin dan Tren Global
Penelitian korosi menuntut kolaborasi lintas bidang: teknik material, kimia, biologi, hingga ilmu lingkungan. Ahli material mempelajari sifat pelapis, ahli kimia meneliti reaksi elektrokimia, sementara ahli biologi mengeksplorasi sumber senyawa aktif.
“Masa depan riset korosi ada pada inovasi multidisiplin. Kita tidak bisa hanya mengandalkan baja yang lebih kuat atau cat yang lebih tebal. Korosi harus dijawab dengan kombinasi pengetahuan, dari molekul hingga infrastruktur skala besar,” ujar peneliti yang juga menjadi Ketua kelompok Riset Korosi dan Teknologi Mitigasi di Pusat Riset Metalurgi BRIN ini..
Pendekatan ini sejalan dengan tren internasional menuju teknologi hijau. Dunia semakin menuntut material ramah lingkungan, sejalan dengan target netral karbon dan agenda pembangunan berkelanjutan. Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas tropisnya, berpeluang menjadi pelopor.
Korosi dan Pembangunan Berkelanjutan
Mengapa mitigasi korosi penting untuk pembangunan berkelanjutan? Infrastruktur adalah fondasi ekonomi: jalan, jembatan, gedung, pelabuhan, dan pembangkit energi. Jika cepat rusak karena korosi, biaya perbaikan akan terus membebani anggaran negara.
Dengan memperpanjang umur pakai infrastruktur melalui teknologi ramah lingkungan, Indonesia dapat menghemat biaya, mengurangi limbah material, dan menekan jejak karbon dari produksi baja baru. Prinsip ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular: memaksimalkan pemakaian material yang sudah ada dan meminimalkan limbah.
Lebih jauh lagi, teknologi berbasis hayati memastikan bahwa perlindungan infrastruktur tidak dilakukan dengan mengorbankan ekosistem. Lingkungan laut tetap terjaga, tanah tidak tercemar, dan masyarakat tetap mendapat manfaat pembangunan.
Peran BRIN dan Hilirisasi Riset
Sebagai Profesor Riset, Gadang memiliki misi mengintegrasikan hasil riset ke kebijakan dan praktik industri nasional. BRIN memegang peran strategis untuk menjembatani dunia akademik dengan industri, serta mempercepat hilirisasi hasil penelitian.
Langkah ini menuntut dukungan lintas sektor: industri memberi data lapangan, pemerintah menyediakan regulasi, peneliti menghasilkan inovasi, dan universitas menyiapkan SDM. Kolaborasi ini akan memperkuat posisi Indonesia menghadapi tantangan global.
Menurutnya, meski riset mitigasi korosi berbasis hayati di Indonesia masih tertinggal dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysia, hal ini menjadi motivasi untuk mempercepat langkah. Dengan kekayaan biodiversitas tropis, peluang pengembangan zat antikorosi alami sangat besar.
"Masa depan mitigasi korosi tidak hanya pada penemuan zat aktif, tetapi juga integrasi ke dalam cat komersial, sistem pelapisan, dan teknologi perlindungan infrastruktur yang lebih luas," tegasnya.
Orasi ilmiah Gadang Priyotomo mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di atas kertas. Ia harus menjawab tantangan nyata bangsa. Dengan mengembangkan teknologi mitigasi korosi ramah lingkungan, bukan hanya melindungi, tetapi juga menjaga warisan lingkungan bagi generasi mendatang.

