Konten dari Pengguna

Analis Keuangan dan Filosofi Noken: Belajar Integritas dari Kantong Papua

Loami Gobai
Penulis Buku Matematika, pemerhati pendidikan Matematika, Dosen Pembantu di Universitas Ottow Geisler Papua.
11 Oktober 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Analis Keuangan dan Filosofi Noken: Belajar Integritas dari Kantong Papua
Filosofi Noken mengingatkan kita bahwa keuangan negara bukan tentang saldo, melainkan tentang makna hidup bersama
Loami Gobai
Tulisan dari Loami Gobai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Noken tas tradisional khas Papua. Foto: Billy Julius Krey/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Noken tas tradisional khas Papua. Foto: Billy Julius Krey/Shutterstock
Di Papua, Noken bukan sekadar tas anyaman. Ia adalah simbol kehidupan — wadah tempat segala hal penting disimpan: hasil kebun, benih, bahkan bayi. Noken merepresentasikan tanggung jawab, kasih, dan kepercayaan dalam komunitas. Di balik serat-serat yang teranyam, tersembunyi filsafat ekonomi yang sederhana namun dalam: semua hal berharga harus dijaga, dibagi, dan digunakan dengan bijak.
Filosofi itulah yang seharusnya menginspirasi profesi analis keuangan pusat dan daerah di Indonesia. Di tengah kompleksitas birokrasi, regulasi, dan angka-angka laporan, peran seorang analis bukan sekadar menghitung, tetapi memastikan bahwa setiap rupiah yang keluar dan masuk memiliki makna — seperti isi Noken yang dijaga untuk kehidupan bersama.

Noken sebagai Cermin Keuangan Publik

Dalam budaya Papua, Noken tidak dimiliki untuk diri sendiri. Ia selalu terhubung dengan orang lain: keluarga, komunitas, bahkan alam. Saat seseorang menenun Noken, ia memikirkan siapa yang akan menerima, apa yang akan dibawa, dan bagaimana benda itu memberi manfaat. Begitu pula seharusnya dengan pengelolaan keuangan negara. Seorang analis keuangan tidak hanya bekerja pada sisi teknis — menyusun RKA, mengevaluasi DPA, atau mengolah data realisasi. Lebih dari itu, ia bertugas menjaga makna penggunaan anggaran: apakah dana publik benar-benar digunakan untuk menghidupi masyarakat, atau sekadar berhenti pada formalitas administratif.
Filosofi Noken mengingatkan bahwa uang negara, seperti isi Noken, bukan milik individu, melainkan titipan untuk kehidupan bersama. Karena itu, ia menuntut kejujuran, kepedulian, dan kesadaran etis.

Kantong yang Menyimpan Kepercayaan

Noken selalu dibawa di kepala atau bahu — bukan di tangan. Dalam pandangan orang Papua, membawa Noken di kepala berarti membawa tanggung jawab dengan hati dan pikiran, bukan sekadar menjalankan tugas. Bagi seorang analis keuangan, ini adalah pesan moral yang kuat: bahwa pekerjaan mengelola anggaran harus dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan rutinitas.
Angka-angka yang tertulis dalam laporan keuangan sesungguhnya adalah wujud nyata dari kepercayaan rakyat. Setiap baris APBD dan APBN mencerminkan harapan — agar sekolah tetap berjalan, rumah sakit melayani, dan pembangunan berjalan adil di seluruh daerah.
Jika Noken robek, isi di dalamnya berceceran dan hilang. Begitu pula jika sistem keuangan publik bocor karena korupsi atau ketidakjujuran, kepercayaan publik runtuh. Maka menjaga transparansi dan akuntabilitas adalah bentuk “menenun ulang” kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Menjadi “Penjaga Noken” Keuangan Negara

Seorang analis keuangan sejati adalah penjaga Noken dalam sistem pemerintahan modern. Ia memastikan bahwa setiap benih (anggaran) ditanam di tempat yang tepat, setiap hasil (realisasi) kembali ke rakyat, dan tidak ada satu pun serat keuangan yang terputus tanpa alasan yang sah.
Dalam konteks hubungan pusat dan daerah, filosofi Noken juga mengajarkan harmoni: antara pemberi dan penerima, antara pusat yang menyalurkan dana dan daerah yang mengelola. Hubungan itu bukan sekadar teknis transfer dana, tetapi ikatan moral yang menuntut saling percaya dan saling menghormati.

Dari Noken ke Dashboard Keuangan

Era digital kini membawa semua sistem keuangan publik menuju keterbukaan data: aplikasi SIMDA, SAKTI, hingga sistem pelaporan online. Namun di balik semua perangkat modern itu, nilai-nilai dasar tetap sama — transparansi, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kesejahteraan rakyat.
Teknologi hanyalah wadah baru. Noken-nya kini berbentuk digital, tetapi semangatnya tidak berubah: mengelola dengan hati, menimbang dengan nurani, dan menjaga agar “isi Noken negara” tidak tercecer oleh keserakahan atau kelalaian.
Di beberapa kampung Papua, sebelum seseorang menutup Noken yang penuh hasil kebun, ia mengucap doa — ucapan syukur dan harapan agar isi itu membawa kehidupan bagi banyak orang. Begitu pula, setiap kali seorang analis keuangan menutup laporan tahunannya, semestinya ada kesadaran batin yang sama: bahwa di balik tabel dan angka, ada manusia yang bergantung pada hasil kerja itu.
Filosofi Noken mengingatkan kita bahwa keuangan negara bukan tentang saldo, melainkan tentang makna hidup bersama. Dan di tengah sistem yang semakin mekanis, kita memerlukan lebih banyak analis keuangan yang berpikir seperti penenun Noken — teliti, sabar, jujur, dan penuh cinta.
Trending Now