Konten dari Pengguna

Eropa Tertinggal: Krisis Ekonomi yang Mengguncang Benua Biru

Lusiana Desy Ariswati
I am a management lecturer at the Faculty of Economics Mulawarman University. In addition to teaching, I also have a passion for writing and conducting research.
1 Juni 2025 15:47 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Eropa Tertinggal: Krisis Ekonomi yang Mengguncang Benua Biru
Eropa tertinggal di belakang AS & China karena stagnasi inovasi. Krisis ekonomi mengancam dominasi benua biru. Bisakah Eropa bangkit? Simak analisisnya!
Lusiana Desy Ariswati
Tulisan dari Lusiana Desy Ariswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: diolah oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: diolah oleh penulis
Europe is in trouble. Kalimat ini mungkin terdengar dramatis, tetapi realitasnya tak bisa dipungkiri. Eropa, yang selama berabad-abad menjadi pusat peradaban dan kekuatan ekonomi global, kini terjebak dalam bayang-bayang Amerika Serikat dan China. Dominasi ekonomi yang dulu menjadi kebanggaan kini mulai memudar, dan benua biru ini seolah kehilangan arah di tengah persaingan global yang semakin sengit.
Dulu Raksasa, Kini Tertinggal
Bayangkan: 500 tahun lalu, Eropa adalah pusat dunia. Dari revolusi industri hingga penemuan teknologi yang mengubah sejarah, seperti telepon, mobil, dan kereta api, Eropa selalu berada di garis depan. Negara-negara seperti Jerman, Inggris, dan Prancis bukan hanya pemain utama, tetapi juga penentu arah ekonomi global. Namun, kini ceritanya berbeda. The news for Europe just keeps getting worse, seperti yang dikatakan para pengamat ekonomi.
Data dari World Bank menunjukkan gambaran yang mencolok: sementara Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika melesat dan China mengejar dengan kecepatan luar biasa, Eropa justru berjalan di tempat. Jerman, yang masih menempati posisi ketiga dunia dalam hal PDB, bersama Inggris (posisi 6) dan Prancis (posisi 7), memang masih masuk dalam daftar 10 besar ekonomi dunia. Namun, pertumbuhan mereka stagnan, jauh tertinggal dibandingkan laju Amerika dan China.
Penyebab Krisis: Inovasi yang Mandek
Lalu, apa yang salah? Akar masalahnya ternyata berasal dari dalam: kurangnya inovasi. Mario Draghi, mantan Presiden European Central Bank dan salah satu ekonom paling berpengaruh di Eropa, menyoroti kegagalan Eropa memanfaatkan peluang revolusi digital. Ketika internet mulai mengubah dunia pada awal 2000-an, Amerika dengan cepat beralih fokus ke pengembangan software, hardware, dan produk digital, termasuk kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, Eropa masih terpaku pada sektor tradisional seperti otomotif.
Keputusan Eropa untuk bertahan di sektor yang dianggap "matang" memang logis untuk mengurangi risiko. Namun, ini justru membuat mereka ketinggalan jauh. Saat ini, hanya 4-5 perusahaan teknologi Eropa yang masuk dalam daftar 50 besar dunia, dan masing-masing berasal dari negara yang berbeda: Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, dan Swedia. Bandingkan dengan Korea Selatan dan Jepang, yang masing-masing memiliki dua perusahaan teknologi di daftar yang sama.
Ancaman dari Luar: Perang Dagang dan Kebijakan Global
Stagnasi inovasi bukan satu-satunya masalah. Ketegangan geopolitik, seperti ancaman tarif dari Donald Trump, membuat Eropa semakin panik. Perang dagang antara Amerika dan China juga menempatkan Eropa dalam posisi sulit, terjepit di antara dua raksasa yang terus berebut dominasi. Sementara Amerika dan China berlomba menguasai perdagangan internasional, Eropa seolah hanya menjadi penonton.
β€œPeople are waking up to the fact that Europe really is in trouble,” kata para analis. Dan memang, data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Eropa tak mampu mengejar laju dua kekuatan besar tersebut. Bahkan, negara-negara yang dulu menjadi tulang punggung Eropa, seperti Jerman, Inggris, dan Prancis, kini menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Eropa berada di persimpangan jalan. Untuk bangkit, benua ini perlu berani keluar dari zona nyaman dan berinvestasi besar-besaran di sektor teknologi dan inovasi. Fokus pada artificial intelligence, green technology, dan transformasi digital bisa menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan. Selain itu, kerja sama antarnegara di Uni Eropa harus diperkuat untuk menciptakan ekosistem inovasi yang kompetitif.
Namun, waktu terus berjalan. Jika Eropa tidak segera bertindak, risiko kehilangan relevansi di panggung global semakin nyata. Is this the end of Europe’s golden era? Pertanyaan ini kini menghantui, dan jawabannya bergantung pada langkah yang diambil hari ini.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Eropa masih bisa bangkit dari keterpurukan ini? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!
Trending Now