Konten dari Pengguna
Pangandaran Green and SustainableTourism: Visi berkelanjutan atau tren semata?
6 Oktober 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Pangandaran Green and SustainableTourism: Visi berkelanjutan atau tren semata?
Tingginya minat masyarakat pada destinasi wisata di Kabupaten Pangandaran mendorong pengelolaan wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan berada di persimpangan, sebuah visi atau pemenuhan tren semataLuthfi Thirafi
Tulisan dari Luthfi Thirafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potensi Wisata Pangandaran
Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal di pesisir pantai selatan pulau jawa. Selain Pantai Pangandaran, daerah ini juga dikenal dengan destinasi wisata lain seperti Green Canyon, Pantai Madasari, Batu Karas, Batu Hiu, hutan mangrove hingga kampung turis yang menyajikan pilihan seafood segar beraneka ragam. Tidak heran selama bertahun-tahun wilayah ini menjadi pilihan destinasi wisata saat weekend maupun saat momen libur panjang.
Berdasarkan keterangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, pada momen libur lebaran tahun 2025 saja tercatat 395.440 wisatawan berkunjung ke enam destinasi utama Pantai Pangandaran. Destinasi yang menyumbang wisatawan terbanyak adalah Pantai Pangandaran yang mencapai 243.889 pengunjung diikuti oleh Batu Karas sebanyak 63.136 pengunjung dan destinasi-destinasi wisata lainnya. Kunjungan wisatawan sebesar ini mendorong Pemerintah Kabupaten Pangandaran untuk menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp.45 Miliar pada tahun 2025, dimana Rp. 9 miliar diantaranya sudah tercapai dari retribusi wisata dan pajak hotel/restoran selama momen libur lebaran.
Potensi yang besar ini menimbulkan sebuah pertanyaan, siapkah Kabupaten Pangandaran menjadi sebuah destinasi wisata yang berkelanjutan?
Green and Sustainable Tourism
Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita mengenal terlebih dahulu apa itu green tourism. Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) mendefinisikan green tourism sebagai pendekatan pengelolaan pariwisata yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi serta melibatkan masyarakat lokal. United Nations (UN)tidak secara spesifik mendefinisikan green tourism, namun UN Tourism menjelaskan sebuah konsep yang serupa yakni sustainable tourism. Sustainable tourism adalah pengelolaan wisata yang memperhatikan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang ditimbulkan saat ini dan dimasa yang akan datang. Secara umum dapat disimpulkan konsep ini menginginkan pengelolaan wisata yang meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan, sosial dan masyarakat sehingga destinasi wisata tersebut dapat terjaga keberlangsungannya.
Perhatian besar terhadap konsep ini bukan tanpa alasan. Global Sustainable Tourism Council melaporkan bahwa sepanjang tahun 2024 sekitar 92% wisatawan mempertimbangkan wisata ramah lingkungan, sementara sekitar 56,9% merealisasikannya. Selain itu, dilaporkan pula bahwa lebih dari 70% wisatawan bersedia membayar lebih untuk pengalaman wisata yang ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan akan wisata ramah lingkungan menjadi tren saat ini dan sudah sepatutnya permintaan tersebut direspon oleh para pengelola daerah wisata.
Pangandaran Green and Sustainable Tourism
Pada dasarnya green tourism sudah mulai diterapkan di Pangandaran. Salah satu contohnya adalah objek wisata Green Canyon yang sejak 2024 Pemerintah Pangandaran bekerja sama dengan PLN untuk meluncurkan program Eco-Tourism. Beberapa hal yang dilakukan dalam kerja sama ini antara lain konversi 12 perahu wisata dari awalnya menggunakan bahan bakar fosil menjadi mesin listrik, pemasangan panel surya untuk mendukung energi terbarukan, pemasangan SPLU dan SPKLU di sekitar objek wisata hingga inisiasi UMKM ramah lingkungan dengan memberi bantuan kompor induksi dan edukasi ramah lingkungan.
Contoh lain dari penerapan pariwisata ramah lingkungan adalah hadirnya Eco-Frendly Lodges seperti Hau Eco Lodges Citumang. Destinasi ini menawarkan pengalaman glamping dengan fasilitas layaknya hotel namun tetap mampu berdampingan dengan asrinya alam di sekitar Hau Citumang. Hal ini menunjukkan bahwa para stake holder pariwisata di Pangandaran telah memiliki inisiasi dan keinginan untuk mewujudkan Pangandaran Green Tourism atau Pangandaran Sustainable Tourism. Hanya saja masih diperlukan upaya untuk meratakan praktik ramah lingkungan seperti ini di seluruh wilayah pariwisata Kabupaten Pangandaran dan tentunya hal tersebut tidak mudah dilakukan.
Potensi dan Tantangan
Secara umum potensi pengembangan green tourism atau sustainable tourism sangat besar di Pangandaran, bahkan bisa dikatakan menjadi sebuah kebutuhan bila kita melihat pada daya tarik wisata Pangandaran yang banyak didominasi oleh wisata alam. Paling tidak terdapat 67 titik wisata di Kabupaten Pangandaran yang terdiri atas pantai, tebing, hutan mangrove, aliran sungai hingga konservasi penyu, mayoritasnya menjual kekayaan alam. Jika pengelolaan wisata di Pangandaran tidak memperhatikan kualitas lingkungan maka sejatinya wisata di Pangandaran akan kehilangan main value-nya.
Penerapan green dan sustainable tourism sejatinya menjadi peluang besar bagi Pangandaran untuk meraup pangsa pasar wisatawan yang lebih luas lagi. Hal ini tidak lepas dari tren wisata yang semakin mengarah pada pengalaman yang ramah lingkungan. Selain itu dengan serius menerapkan green dan sustainable tourism, Pangandaran dapat menciptakan branding diri sebagai salah satu rujukan dalam model pariwisata berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.
Tentu upaya tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang paling utama adalah biaya yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan upaya penyediaan sarana prasarana pendukung seperti panel surya, pengelolaan limbah hingga penggunaan kemasan ramah lingkungan. Selain itu tidak semua wisatawan memiliki kesadaran untuk mendukung terlaksananya pariwisata yang ramah lingkungan. Destinasi wisata di Pangandaran juga masih banyak yang dikelola oleh masyarakat atau BUMDes dengan manajemen dan peralatan pendukung seadanya. Tantangan lainnya masih banyak pengelola wisata yang belum memahami dan menerapkan konsep green dan sustainable tourism. Insentif khusus mungkin diperlukan untuk meningkatkan awareness dan keterlibatan para pelaku usaha dalam mewujudkan pariwisata Pangandaran yang berkelanjutan. Untuk itu diperlukan adanya regulasi dan upaya edukasi secara aktif yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pangandaran guna mendukung terciptanya Pangandaran Green and Sustainable Tourism.
Kesimpulan
Sejatinya upaya mewujudkan Pangandaran Green and Sustainable Tourism tidak bisa dipandang sebagai upaya memenuhi tren pariwisata semata. Lebih jauh lagi, pengelolaan wisata yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan menjadi sebuah kebutuhan bagi Pangandaran jika ingin terus berkembang di masa yang akan datang. Sudah saatnya Pangandaran Green and Sustainable Tourism menjadi visi Pemerintah Kabupaten Pangandaran untuk mengoptimalkan potensi daerah sekaligus memastikan potensi tersebut dapat turut dirasakan oleh generasi-generasi mendatang.

