Konten dari Pengguna

Cinta yang Terhalang Tembok Emosional: Mengurai Sikap Dingin Pasangan

Lutri Bunga Lestari
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
13 Januari 2026 9:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cinta yang Terhalang Tembok Emosional: Mengurai Sikap Dingin Pasangan
Sikap cuek pasangan bisa jadi bentuk perlindungan diri dari luka masa lalu. Butuh empati, bukan penilaian, untuk membangun hubungan yang sehat bersama.
Lutri Bunga Lestari
Tulisan dari Lutri Bunga Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam dinamika hubungan romantis, sikap cuek dari pasangan kerap kali menjadi keluhan yang umum. Banyak yang merasa tidak mendapat perhatian, kasih sayang, atau kehangatan yang mereka harapkan. Namun, di balik sikap dingin dan menjaga jarak tersebut, sering tersembunyi pengalaman emosional yang lebih dalam luka dari masa lalu.
Sikap cuek ini tidak selalu berarti tidak peduli. Dalam banyak kasus, itu adalah bentuk perlindungan diri. Seseorang yang pernah disakiti, dikhianati, atau mengalami hubungan yang tidak sehat cenderung membangun tembok emosional. Mereka menjadi lebih berhati-hati, menjaga jarak, dan membatasi ekspresi kasih sayang karena takut mengalami luka yang sama.
Contoh gambar ilustrasi ketika seseorang sedang cenderung menghindari konflik, tapi malah justru menjauh saat ada masalah. Sumber foto: buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
Contoh gambar ilustrasi ketika seseorang sedang cenderung menghindari konflik, tapi malah justru menjauh saat ada masalah. Sumber foto: buatan AI
Secara psikologis, ini dikenal sebagai mekanisme coping atau bisa dikatakan upaya penyesuaian diri dengan cara seseorang bertahan dari luka emosional yang belum sembuh. Meski masih memiliki keinginan untuk menjalin hubungan yang sehat, mereka bisa mengalami keterikatan emosional yang terputus (emotional detachment). Bukan karena tidak punya perasaan, tetapi karena takut kehilangan kendali, takut kembali disakiti, atau dimanipulasi.
Fenomena ini cukup umum, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh di era media sosial. Banyak yang belajar soal cinta dari tayangan atau unggahan online, namun belum cukup matang secara emosional untuk menghadapi kompleksitas hubungan nyata. Mereka yang pernah mengalami ghosting, perselingkuhan, atau gaslighting sering kali merasa sulit untuk kembali membangun kepercayaan bahkan dalam hubungan yang sebenarnya sehat.
Dalam kondisi seperti ini, penting bagi pasangan untuk tidak terburu-buru menilai atau menghakimi. Yang dibutuhkan adalah komunikasi terbuka, empati, dan kesediaan untuk tumbuh bersama dalam proses penyembuhan. Hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang sempurna secara emosional, tetapi tentang dua orang yang saling memahami dan mau bertumbuh bersama.
Sikap cuek bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang berjuang. Jika didekati dengan pemahaman yang tepat, sikap itu justru bisa membuka jalan untuk membangun kedekatan secara perlahan. Karena sejatinya, cinta bukan tentang menuntut, tetapi tentang keberanian untuk memahami luka yang tidak selalu tampak di permukaan.
Sering ditemukan, perubahan sikap pasangan yang tiba-tiba menjadi dingin atau tak lagi hangat sering kali membuat pasangannya merasa ditolak atau tidak dicintai lagi. Padahal, perubahan ini bisa saja berasal dari dinamika emosi yang tak mereka ungkapkan secara langsung. Ketika seseorang terlihat menjauh atau tidak menunjukkan rasa sayang seperti sebelumnya, bukan berarti rasa itu benar-benar hilang.
Bisa jadi, itu adalah cara mereka menghadapi kecemasan emosional yang belum selesai. Dibalik sikap pasif itu, tersimpan harapan untuk dipahami tanpa harus selalu dijelaskan. Maka, daripada mengartikan sikap tersebut sebagai akhir dari sebuah hubungan, lebih bijak jika kita melihatnya sebagai awal dari proses saling mengenal lebih dalam bukan hanya siapa dia hari ini, tetapi juga luka-luka yang membentuknya.
Trending Now