Konten dari Pengguna

Belajar dari Jepang, Lawan Toxic Masculinity dengan Nilai Omotenashi

Lyla Wahyu Budi Lestari
Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.
20 Oktober 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Belajar dari Jepang, Lawan Toxic Masculinity dengan Nilai Omotenashi
Di Jepang, merawat diri adalah bentuk rasa hormat pada diri dan orang lain. Lewat nilai omotenashi, kita belajar melawan toxic masculinity yang masih kuat di Indonesia.
Lyla Wahyu Budi Lestari
Tulisan dari Lyla Wahyu Budi Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pria menggunakan Masker Wajah | Sumber : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Pria menggunakan Masker Wajah | Sumber : Shutterstock
Laki-laki dan skincare sering menjadi bahan olok-olokan netizen di media sosial. Komentar seperti “Laki-laki kok pakai skincare?” atau “Cowok sejati nggak perlu sun screen” mencerminkan toxic masculinity yang masih kuat di masyarakat. Padahal, skincare pria bukan soal keperempuanan, melainkan soal kesehatan dan kebersihan kulit.

Mengenal Toxic Masculinity :

Komentar toxic masculinity seperti itu masih sangat sering muncul di sosial media bahkan dalam percakapan langsung sekalipun. Toxic masculinity sendiri berarti perilaku atau kepercayaan, tentang laki-laki yang dianggap ideal oleh budaya patriarkal, namun justru malah berdampak negatif bagi laki-laki itu sendiri maupun orang yang berada di sekitarnya. (Seravim et al., 2023)
Lahirnya pendapat seperti ini masih terjadi karena mayoritas masyarakat Indonesia, terutama laki-laki masih sering menganggap bahwa skincare atau perawatan kulit merupakan ‘dunia perempuan’ saja. Padahal definisi dari skincare adalah produk yang digunakan di luar tubuh manusia yang berguna untuk perawatan kulit, melindungi kulit, membersihkan, dan mengubah penampilan menjadi lebih baik (Setiyani et al., 2023).
Namun ketika banyak laki-laki sudah mulai peduli terhadap perawatan diri dan kesehatan kulit, mereka masih merasa tabu, canggung, dan takut dicap sebagai orang ‘aneh’. Seolah-olah kebersihan dan kesehatan kulit hanya pantas dilakukan oleh satu jenis kelamin saja, ekspresi perawatan diri tengah dibatasi oleh konstruksi gender yang kurag tepat. Bukannya dipandang sebagai kebutuhan dasar, namun perawatan diri justru seolah hanya menjadi label dari sebuah gender. (Hermawan & Hidayah, 2023)

Skincare Pria di Jepang: Antara Budaya dan Etika Sosial

Di sisi lain, di negeri bunga sakura, perawatan kulit atau skincare merupakan suatu hal yang wajar bagi semua orang tanpa adanya cemooh atau stigma. Malah justru dengan merawat diri seperti itu, masyarakat jepang akan sangat menghargai orang yang menjaga kebersihan dan penampilan. Di Jepang, skincare telah menjadi kebiasaan umum bagi semua orang, baik perempuan maupun laki-laki (Mizukoshi & Akamatsu, 2013). Saat ini Industri skincare di Jepang telah menyediakan produk untuk semua kalangan, termasuk untuk pria, tanpa adanya label ‘feminin’.
Di Jepang, skincare bukan sekadar tren yang muncul karena media sosial belaka. Melainkan telah menjadi bagian dari rutinitas harian masyarakat yang berlangsung sejak lama. Baik perempuan maupun laki-laki sudah terbiasa melakukan perawatan dasar ini, seperti mencuci muka menggunakan pembersih wajah, toner, pelembab, hingga tabir surya setiap hari. Bagusnya lagi, di Jepang laki-laki tidak merasa canggung dalam membeli produk skincare atau berbicara tentang perawatan kulit. Dalam budaya kerja Jepang yang sangat menjunjung kesopanan dan kerapian, memiliki kulit bersih dan terawat justru dianggap bagian dari profesionalitas. (Tso, 2021)
Bahkan negeri matahari terbit ini juga menjadi salah satu pelopor lahirnya banyak produk perawatan kulit untuk pria di dunia. Contohnya adalah Shiseido, Gatsby, Muji, Biore, Melano CC, Uno, dan masih banyak lagi. Dari banyaknya brand dan produk perawatan kulit ini tidak heran jika kita menemukan banyak iklan dari produk-produk tersebut di tempat publik. Hal itu menunjukkan penerimaan sosial yang luas terhadap perawatan kulit oleh laki-laki. Sama hal nya dengan perempuan, laki-laki di Jepang juga banyak yang telah menggunakan skincare sejak usia remaja.
Budaya yang terbuka seperti ini menunjukkan bahwa perawatan kulit tidak dibatasi oleh gender. Perawatan kulit dipandang sebagai kewajiban untuk merawat diri, bukan sebagai simbol akan feminimitas. Hal ini kontras dengan kondisi di Indonesia, dimana banyak stigma mengenai pria yang melakukan perawatan kulit.

Stigma Skincare Pria di Indonesia yang Masih Kuat

Di Indonesia, pandangan bahwa skincare merupakan ‘urusan perempuan’ masih sangat kuat. Bahkan banyak laki-laki yang enggan memakai produk perwatan kulit seperti pelembab dan tabir surya karena takut dicap ‘kemayu’ atau tidak jantan. Komentar seperti yang saya sebutkan di atas tadi masih banyak muncul di media sosial karena adanya ekspektasi sosial terhadap maskulinitas tradisional. Di Indonesia sendiri, maskulinitas di identik dengan kekuatan fisik, ketahanan terhadap rasa sakit, dan menolak segala bentuk kelembutan atau perawatan yang dianggap sebagai ‘feminin’. Sebagai hasilnya, banyak pria memilih sabun muka biasa saja, bahkan di iklim tropis yang membuat kebutuhan akan perawatan kulit menjadi sangat penting.
Elfi (2023) dalam studi Analyzing Gender-Related Factors Toward the Purchase Intention of Male Skincare Products in Indonesia menemukan bahwa pria cenderung memilih skincare dengan label “for men” atau membeli produk skincare secara online agar privasi lebih terjaga, serta terkadang memilih desain yang netral agar tidak terasosiasi dengan produk wanita.
Pria Menggunakan Tabir Surya | Sumber : Shutterstock

Konsep dan Nilai Sosial Jepang di Balik Pandangan soal Skincare Pria

Jika dibandingkan, negara Jepang dan Indonesia memperlihatkan dua wajah yang berbeda dalam memandang perawatan diri pada laki-laki. Di Jepang, konsepkirei (bersih dan rapi) tidak pernah dikaitkan secara eksklusif dengan perempuan. Pria yang menjaga penampilan justru dianggap menghormati dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. Penelitian oleh Tso (2023) menunjukkan bahwa di lingkungan kerja Jepang, penampilan rapi merupakan bentuk profesionalisme, bukan keinginan untuk tampil feminin. Nilai sosial seperti omotenashi (keramahan dan kepedulian terhadap orang lain) bahkan mendorong seseorang untuk menjaga kebersihan dan tampilan luar agar tidak mengganggu orang di sekitarnya.

Saatnya Ubah Cara Pandang Soal Skincare Pria di Indonesia

Sebaliknya, di Indonesia, norma maskulinitas ini masih menempatkan perawatan diri sebagai aktivitas yang ‘tidak jantan’. Elfi (2023) menemukan bahwa persepsi ini memengaruhi perilaku konsumsi pria yang lebih nyaman membeli produk skincare dengan label “for men” dan menghindari konotasi feminin. Artinya, stigma sosial masih mengatur cara pria berinteraksi dengan tubuhnya sendiri. Akibatnya, banyak pria memilih untuk “diam” dan menahan diri, padahal mereka juga menghadapi masalah kulit dan tekanan sosial untuk tampil baik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perawatan diri sebenarnya bukan hanya tentang persoalan gender, tetapi persoalan budaya dan persepsi. Jepang berhasil menjadikan grooming sebagai bagian dari etika sosial, bukan simbol dari keperempuanan. Indonesia, di sisi lain, yang masih terjebak pada pandangan lama bahwa kelembutan dan keindahan adalah wilayah perempuan. Jika masyarakat mulai melihat skincare sebagai bentuk tanggung jawab dan kebersihan bukan sekadar kosmetik, maka stigma ini bisa perlahan berubah. Sebenarnya masyarakat tidak perlu meniru Jepang sepenuhnya, tetapi dapat belajar bagaimana budaya mereka menormalisasi perawatan diri sebagai ekspresi penghormatan terhadap diri sendiri.
Perbedaan antara laki-laki Jepang dengan laki-laki di Indonesia dalam memandang skincare mencerminkan bagaimana kedua budaya membentuk konsep maskulinitas. Di Jepang masyarakat menunjukkan bahwa pria bisa tetap tampak kuat tanpa harus mengabaikan perawatan diri. Kerapian dan kebersihan dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab sosial, bukan tanda keperempuanan. Sebaliknya, di Indonesia masih banyak pria masih terjebak dalam norma lama yang menilai kelembutan sebagai ancaman terhadap citra maskulin.
Mungkin saat ini sudah saatnya masyarakat Indonesia meninjau ulang pandangan terhadap skincare untuk pria. Edukasi publik dari kampanye kesehatan di sosial media dapat membantu membangun kesadaran bahwa perawatan diri merupakan bagian dari kesejahteraan manusia tanpa batasan gender. Karena pada akhirnya, kulit tidak mengenal jenis kelamin, ia hanya membutuhkan perhatian.
Trending Now