Konten dari Pengguna

Refleksi untuk Ekosistem Kefilsafatan Kita Hari Ini

M Ja'far Baihaqi
Penulis lepas yang tertarik pada kajian Filsafat, Sosial-politik, Ekonomi, dan Budaya Pop. Alumni S1 prodi Aqidah dan Filsafat Islam di UIN SATU Tulungagung
30 Juli 2025 17:33 WIB
ยท
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Refleksi untuk Ekosistem Kefilsafatan Kita Hari Ini
Tulisan ini membahas pernyataan Ferry Irwandi โ€œJurusan filsafat pada tingkat S1 lebih baik dihapus saja.โ€ Kritik itu sebenarnya ditujukan pada eksklusifitas dalam tubuh iklim filsafat kita. #userstory
M Ja'far Baihaqi
Tulisan dari M Ja'far Baihaqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
contemplation https://id.pinterest.com/pin/253468285270787292/
zoom-in-whitePerbesar
contemplation https://id.pinterest.com/pin/253468285270787292/
Belakangan ini, diskursus di ruang publik digital diramaikan dengan pernyataan Ferry Irwandi mengenai โ€œJurusan filsafat pada tingkat S1 lebih baik dihapus sajaโ€.
Tentu, publik marah dengan pernyataan semacam ini. Baik dari komunitas filsafat, maupun orang-orang โ€œnon-filsafatโ€ yang menghasrati filsafat, berbondong-bondong memberikan pembelaannya melalui esai maupun video.
Namun, terlepas dari kontroversinya, pernyataan ini sekurang-kurangnya mampu menyerap atensi masyarakat pada satu diskursus yang sepenuhnya asing di masyarakat, yakni filsafat.
Hanya berselang beberapa jam setelah pernyataan itu viral, Ferry mengadakan pertemuan daring dengan teman-teman komunitas filsafat untuk memperdebatkan pernyataannya itu.
Beberapa hari setelahnya, Ferry bersama Dea Anugrah juga mengadakan siniar di saluran Youtube Malaka Project, bersama salah satu filsuf paling ternama di Indonesia, yaitu Martin Suryajaya. Setelahnya, ia juga masih melakukan siaran langsung bersama Bagus Muljadi untuk membicarakan persoalan yang serupa.
Dalam ketiga video tersebut, Ferry Irwandi mengatakan bahwa pernyataan kontroversial itu sebenarnya lebih bersifat retoris, alih-alih harfiah. Ferry menuturkan bahwa pernyataan itu sebenarnya adalah upayanya untuk mengangkat wacana filsafat ke ruang publik yang lebih populer. Ia sendiri sangat menyayangkan, mengapa ilmu filsafat yang sedemikian penting hanya berada di menara gading dan mengawang-ngawang.
Namun lebih dari itu, pernyataan tersebut dilontarkan olehnya bukan tanpa maksud yang jelas. Pertama-tama, klaim tersebut bukan didasari pada kebenciannya terhadap komunitas filsafat atau sentimen pribadinya karena sering diserang "filsuf" di X (Twitter), atau karena ia hanya berorientasi pada dimensi pragmatis dari pendidikan.
Sentimen semacam itu mungkin saja ada, pun sangat mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, seperti yang dikatakannya, ucapan itu terutama sekali didasari oleh keresahannya dan Dea Anugrah mengenai persoalan pelik dalam tubuh ekosistem ke-filsafat-an di Indonesia, baik di ruang akademik maupun ruang publik.
Persoalan tersebut sekurang-kurangnya bisa diringkas dalam satu kata, yakni eksklusivitas. Baik eksklusivitas komunitas filsafat terhadap orang-orang non-filsafat, maupun eksklusivitas keilmuan filsafat (di Indonesia) terhadap ilmu-ilmu lain. Masalah inilah yang membuat filsafat di Indonesia dan jurusannya dinilai sudah tidak lagi relevan secara retoris dan lebih baik dibubarkan saja.
OPINI ANDINA - Ilustrasi Komunitas Foto: Shutter Stock

Eksklusivitas Komunitas Filsafat

Mula-mula tentang eksklusivitas komunitas filsafat terhadap orang-orang non-filsafat.
Ferry menilai bahwa komunitas filsafat (utamanya di internet) di Indonesia tidak senang dengan orang yang tidak kuliah filsafat, tetapi membicarakan tentang filsafat.
Ia menceritakan pengalamannya yang pernah dikontak oleh salah seorang pegiat filsafat yang cukup ternama, intens selama seminggu, agar jangan membuat konten tentang filsafat. Sebab menurut orang tersebut, filsafat bukan ranah keilmuannya. Gatekeeping semacam ini mungkin tampak beralasan, demi menjaga โ€œkesucianโ€ ilmu filsafat.
Namun menurut Ferry, hal ini justru akan membuat filsafat semakin tak dikenal di masyarakat. Bagaimana mungkin orang mau mengenal filsafat, jika filsafat hanya boleh dibicarakan oleh orang dari bubble-bubble akademik tertentu. Hal ini hanya akan menjadikan filsafat yang sebenarnya sudah sekarat, masuk ke liang lahat.
Padahal, hal ini hampir tidak pernah terjadi dalam komunitas ilmu lain, seperti fisika, ekonomi, maupun matematika. Hal semacam ini tentu sangat disayangkan. Sebab, alih-alih menjaga kesucian filsafat, eksklusivitas ini justru menyebabkan filsafat semakin tidak dikenal di masyarakat, dan pada gilirannya tak akan memberikan dampak apa pun pada masyarakat.
Ferry sendiri menyebut bahwa ketertarikan calon mahasiswa baru terhadap filsafat dari tahun ke tahun semakin mengalami penurunan. Jika hal ini terus dibiarkan, dan komunitas filsafat masih saja eksklusif, serta terjebak dalam bubblenya sendiri, jurusan filsafat akan bubar dengan sendirinya karena kehilangan peminat.
Filsafat, tentu bukan hanya milik orang yang pernah menempuhnya melalui jalur akademik. Ia adalah milik semua orang, semua golongan.
Filsafat seharusnya boleh dibicarakan oleh siapa pun, baik itu sarjana ekonomi, fisika, biologi, atau influencer yang menyukai gagasan stoik, juga para Gen Z yang sedang bingung akan makna eksistensial, ataupun buruh yang dieksploitasi, dan petani yang tanahnya direbut oleh negara. Mempertahankan silo mentality hanya akan menghambat filsafat untuk bisa masuk dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Eksklusivitas dalam Keilmuan Filsafat di Indonesia

Selain komunitas yang dinilai cukup eksklusif, Ferry dan Dea juga menyebut bahwa ilmu filsafat pada jurusan filsafat sering kali diajarkan tanpa melibatkan disiplin ilmu yang lain. Hal ini membuat filsafat, yang konon merupakan ibu dari ilmu pengetahuan, menjadi terpisah dari anak-anaknya. Filsafat kemudian akan menjadi ibu yang kesepian, menua sendirian, dan mati secara perlahan.
Jika memang benar filsafat adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan, tidak selayaknya ia memisahkan diri dari anak-anaknya. Filsafat memang seharusnya mendampingi anak-anaknya dan membantu kebuntuan yang dialami oleh ilmu pengetahuan.
Tapi, bagaimana hal itu dimungkinkan, jika filsafat hanya sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa mengikuti perkembangan anaknya. Lebih parah lagi, bagaimana filsafat bisa membantu memecahkan kebuntuan dari ilmu pengetahuan, jika ia sama sekali tidak memahami tentang ilmu pengetahuan tersebut.
Tapi hal ini sebenarnya sama sekali bukan salah ilmu filsafat, sebab filsafat hingga hari ini juga sudah hidup berdampingan dengan sains.
Problemnya, menurut Ferry dan Dea, terletak pada kurikulum dalam jurusan filsafat di Indonesia. Jurusan filsafat di Indonesia sering kali mengajarkan filsafat tanpa disertai dengan pengajaran terhadap suatu ilmu pengetahuan yang konkret, sehingga mahasiswa filsafat sering kali paham tentang teori-teori filsafat, tetapi sama sekali kabur tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya.
Diskusi mahasiswa Foto: Dok. ITS
Keterpisahan dari ilmu pengetahuan ini, membuat filsafat dipelajari dengan cara yang kurang update terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Lebih parah lagi, filsafat akan menjadi teks kaku (dogmatisme), sesuatu yang sebenarnya sejak awal selalu dikritik oleh filsafat.
Tanpa melibatkan ilmu pengetahuan, filsafat hanya akan menjadi teks usang dari abad ke-18, 19 atau 20. Tentu, para pemikir dari abad lampau, bahkan Yunani, adalah para pemikir yang terlampau cemerlang. Mereka adalah โ€œnabiโ€ pada zamannya. Tapi sesuatu akan selalu bertumbuh dan berkembang. Apa yang dulu dikatakan para filsuf sebagai kebenaran, hari ini telah banyak diperbarui atau bahkan disanggah oleh ilmu pengetahuan.
Buah pemikiran para filsuf di masa lalu tentu amat mencerahkan, tapi ia telah usang dan hampir tidak relevan. Jika jurusan filsafat tidak mengikuti perkembangan sains, bukan tidak mungkin ada mahasiswa filsafat semester 1 atau 2 yang menganggap gagasan Thales, bahwa arche atau asal-usul alam semesta adalah air, sebagai kebenaran. Padahal hari ini gagasan tersebut telah direvisi oleh sains.
Contoh yang saya buat mungkin berlebihan, tapi Ferry dalam diskusinya bersama Bagus Muljadi memberikan contoh kasus yang serupa dan nyata adanya. Ia telah mewawancarai salah satu lulusan filsafat yang sepenuhnya percaya akan gagasan dualisme jiwa-tubuh Cartesian. Padahal, hari ini dualisme tersebut telah direvisi oleh sains, bahwa jiwa tidak lain merupakan hasil dari mekanisme biologis dan kimiawi dari jaringan-jaringan yang ada dalam tubuh.
Dan seperti yang telah disebut, keterpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan ini akan membuat filsafat terjatuh dalam dogmatisme yang dikritiknya sendiri.
Ferry berulang kali memberi contoh, bahwa dogmatisme ini sering terjadi saat orang filsafat (misalnya) berbicara tentang ekonomi.
Mahasiswa filsafat yang hanya belajar filsafat tanpa ground ilmu ekonomi, akan mampu berbicara tentang teori Marxis, dari pagi hingga sore hari. Tapi saat ditanya tentang mekanisme ekonomi hingga bagaimana, atau misalnya terkait realitas ekonomi yang sebaiknya diregulasi, mereka mendadak gagap dan menjawab: โ€œyang penting revolusiโ€.
Tak ada yang salah dengan hal ini. Tapi bagaimana mungkin kita mengkritik sesuatu tanpa benar-benar tahu tentang hal itu.
Pikiran Marx tentu sangat berpengaruh dan berdampak. Tapi, ia mengutarakan pikirannya pada abad 19, jauh sekali sebelum pelbagai realitas ekonomi yang tidak diprediksi oleh Marx muncul. Sehingga, mengutip Marx tanpa memahami realitas yang terjadi sekarang, tentu adalah nama lain dari dogmatisme filosofis.
Ilustrasi Marxisme. Foto: AFP/SANKA VIDANAGAMA

Dari Kontroversi ke Evaluasi

Pada eksklusivitas semacam itulah kritik Ferry dan Dea ditujukan. Mereka tentu tak ingin jurusan filsafat benar-benar bubar. Bahkan, Dea Anugrah sendiri adalah lulusan S1 filsafat UGM dan Ferry paham betul bagaimana pentingnya filsafat. Bahkan, ia ingin agar filsafat menjadi mata kuliah wajib pada setiap jurusan dan diajarkan sejak sekolah menengah. Tapi jika realitas di lapangan adalah seperti demikian, tanpa dibubarkan jurusan filsafat tentu akan bubar secara perlahan.
Saat mengatakan jurusan filsafat sebaiknya dibubarkan, Ferry sebenarnya ingin menampakkan problem laten itu ke permukaan. Dan tampaknya upayanya berhasil, publik marah dan filsafat segera memadati diskursus di ruang publik digital.
Tapi jangan sampai filsafat hanya viral sesaat seperti isu perselingkuhan pejabat. Momen ini seharusnya dimanfaatkan oleh komunitas filsafat untuk semakin mengenalkan filsafat pada masyarakat.
Filsuf hari ini tampaknya tak boleh hanya sekadar berada dalam ruang sepi, di bawah lampu temaram dan duduk di belakang meja. Hari ini, filsuf dituntut untuk berani disorot lampu terang dan mengisi ruang-ruang digital.
Jadi, alih-alih marah, seharusnya kritik semacam ini dijadikan alarm untuk berbenah, agar ekosistem filsafat di Indonesia menjadi semakin baik.
Sebab, tutur Martin Suryajaya, sejak semula filsafat memang hidup karena mengkritik dan dikritik. Dan jika kita percaya bahwa filsafat masih relevan dan sedemikian penting, juga jurusan filsafat masih layak dipertahankan, tentu menjadi eksklusif bukanlah sebuah jawaban.
Pun, jika filsafat memang ibu yang baik, maka sudah seharusnya ia memahami anak-anaknya. Pun sebagai anak yang berbakti, sudah seharusnya sains terus terhubung dengan ibunya. Keduanya seharusnya berkolaborasi, di mana filsafat membantu memecahkan kebuntuan sains, begitu pun sebaliknya. Sains juga membantu problem yang tak mampu dijawab filsafat.
Trending Now