Konten dari Pengguna

Perspektif Epidemiologi dan Kondisi Tenaga Kesehatan di Rafah

Haris Rizki Maulana
1. Profesi Ners 2. Peneliti PUSAD (Pusat Studi Anti-Korupsi Dan Demokrasi) universitas muhammadiyah surabaya 3. Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Timur (DPD IMM JATIM)
2 Juni 2024 9:23 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perspektif Epidemiologi dan Kondisi Tenaga Kesehatan di Rafah
Rafah adalah sebuah kota di sebelah selatan jalur Gaza, Palestina, peristiwa yang terjadi di Rafah, memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan dan tenaga kesehatan yang berada di lokasi.
Haris Rizki Maulana
Tulisan dari Haris Rizki Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber : https://www.shutterstock.com/id/image-photo/palestinians-look-survivors-after-israeli-airstrike-2374212975
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : https://www.shutterstock.com/id/image-photo/palestinians-look-survivors-after-israeli-airstrike-2374212975
Baru-baru ini kita disuguhkan dengan beberapa berita di media sosial tentang peristiwa yang terjadi di Rafah. Sebuah kota di sebelah selatan jalur Gaza, Palestina. Yang memberikan dampak signifikan kepada warga sipil dan khusunya NAKES yang terlibat di lokasi tersebut.
Berbicara tentang Palestina, yang memiliki historis pilu dalam sektor agamis dan kemanusiaan. Kesedihan yang tak kunjung usai dari warga palestina, memberikan sayatan yang pedih bagi seluruh umat manusia, terutama persoalan empati terhadap Tenaga Kesehatan (NAKES), menjadi garda terdepan perihal kemanusiaan, tanpa pamrih dan tanpa imbalan sekalipun tentang materi serta hal apapun yang sifatnya duniawi.
Penderitaan yang panjang untuk para penduduk palestina, secara umum memberikan perhatian khusus di tingkat Internasional. Demontrasi tentang kemanusiaan terjadi di berbagai belahan penjuru dunia, sampai detik inipun tetap tak kunjung membuat konflik antar dua kaum itu mereda.
Sejarah awal yang simpang siur terkait alasan kenapa konflik itu terjadi, kian menjadi perdebatan panjang dan tak memberikan dampak apapun untuk kaum tertindas. Apapun alasan yang di buat, kedamaian hidup manusia harusnya di junjung tinggi, bahkan secara fakta invasi ini, secara tidak langsung adalah perluasan wilayah teritorial Israel sebagai pendatang di tengah negara Palestina.
Bagaimana konflik ini tidak menjadi perhatian bagi seluruh umat manusia, banyaknya korban dari warga sipil yang tak terhitung jumlahnya, bahkan dampak yang paling signifikan adalah tenaga kesehatan (NAKES) kian pun menjadi imbas dari serangan yang sudah di lakukan oleh zionis.
Serangan itu kini mengurucut ke daerah yang disebut sebagai wilayah terakhir masyarakat Palestina yaitu Rafah. Munculnya istilah "All Eyes On Rafah" yang diduga pertamakali diungkapkan oleh perwakilan organisasi kesehatan Dunia atau WHO Richard Peeperkom. Sehingga demonstrasi tersebut kian melebar luas di media sosial, serta perhatian publikpun tertuju ke Rafah sebagai wilayah terakhir dari rakyat Gaza.
Sungguh ironis rasanya, melihat secara nyata para tenaga kesehtan ikut terkena imbas dari kekejaman zionis Israel. Tidak hanya blokade terhadap kebutuhan kesehatan, serta banyaknya tenaga kesehatan (NAKES) yang tewas ataupun luka-luka, serangan zionis itupun turut banyak merusak fasilitas kesehatan yang ada.
Kembali lagi pada Kejadian di Rafah, sebagai asumsi bahwa wilayah tersebut di sebut sebagai Safe Zone, Mengutip dari UNRWA, "sekitar 1,2 juta penduduk Gaza yang berlindung diwiyah tersebut". Sayangnya, dugaan tersebut hanyalah diksi belaka, yang hakikatnya tidak pernah ada wilayah gaza yang benar-benar aman untuk berlindung diri.
Tercatat hanya dalam 3 hari, pasukan Israel menyerang Rafah hingga 2 kali. Serangan pertama "pada hari Minggu 25 Mei 2024 saat malam hari di kamp pengungsian di Tal as-Sultan, tepatnya di bagian utara kota Rafah". Mengutip dari Al Jazeera, "sedikitnya 45 orang meninggal dalam serangan tersebut".
Mentri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa "serangan tersebut adalah suatau kesalahan yang tragis", faktanya upaya Israel dalam melakukan penyerangan tak kunjung usai, bahkan terbukti "pada tanggal 28 Mei 2024, Israel melakukan serangan kedua ke Rafah". Bukan hanya warga sipil yang turut menjadi korban serangan tersebut. Para relawan dan Tenaga Kesehatan (NAKES) pun turut menjadi korban atas serangan tersebut.
Korban kian bertambah, pelayanan dan fasilitas kesehatan ikut hancur atas kejaidian yang ditimbulkan oleh serangan Israel. Perwakilan dari WHO Richard Peeperkorn mengatakan bahwa "ada tiga rumah sakit di rafah kini hanya tinggal satu rumah sakit yang tersisa, dan jika serangan tersebut tetap berlanjut, kita akan kehilangan rumah sakit terakhir di Rafah". Rumah sakit yang tersisa itu bernama Abu Youssed Al-Najar, sayangnya rumah sakit ini pun sudah hampir tidak beroprasi.
Dari peristiwa yang terjadi di Rafah, apapun alasannya, menyerang warga sipil dan tenaga kesehatan (NAKES) tidak dibenarkan. Secara hukum di Internasional sudah sangat terpampang jelas, adanya larangan penyerangan kepada NAKES dan warga sipil yang menjadi korban.

Perspektif Hukum Internasional dan Dampaknya pada Tenaga Kesehatan di Rafah

Tidak hanya konflik yang terjadi di Gaza, konflik ataupun perang yang terjadi dibelahan bumi ini, diatur oleh Hukum humaniter internasional baik secara ketat dan objektif, terdapat larangan yang keras menyerang warga sipil apalgi tenaga kesehatan (NAKES).
Akan tetapi, konflik atau peperangan yang terjadi di gaza dan baru-baru ini melanda Rafah, memberikan potret yang pilu, serangan yang menewaskan banyak warga sipil dan beberapa nakes yang ikut gugur dalam menjalankan tugasnya, menjadi pelanggaran atas batasan serta objek sasaran militer berdasarkan hukum Internasional dan Hukum Humaniter.
Pasal 52 Hukum Humaniter Internasional, tentang "larangan menyerang warga sipil", atas konflik peperangan yang terjadi. Penyerangan hanya boleh dilancarkan kepada seluruh anggota angkatan bersenjata yang terlibat konflik kecuali personil medis dan personil keagamaan. Tidak hanya menyerang, bahkan larangan tersebut tercantum perihal adanya larangan meneror warga sipil.
Cangkupannya cukup luas, tidak hanya perihal menyerangan secara langsung dan meneror warga sipil. Tidak boleh menyerang hal yang bersifat esensial bagi warga sipil dalam kebutuhan hidup sehari-hari seperti, lahan pertanian, Pasar, peternakan, dan lain sebagainaya sesuai dengan larangan yang berlaku.
Bukan hanya larangan menyerang warga sipil, adapun larangan menyerang dan meneror tenaga kesehatan atau NAKES dan Rumah sakit. Personil medis harus dihormati dan dilindungi dalam segala keadaan. Pasalnya mereka kehilangan perlindungan ketika melakukan tindakan yang mencelakakan pihak musuh di luar fungsi kemanusiaan mereka. Tenaga medis juga termasuk alat transportasi medis dan satuan medis lainnya.

Dampak Serangan pada NAKES di Rafah

Secara fakta yang terjadi di Rafah khususnya, menjadi perhatian lebih bagi masyarakat Internasional. Bagaimana ungkapan salah satu relawan dari WHO, data yang diungkapkan, keadaan yang memperhatinkan, seperti hancurnya rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Rafah. Pelanggaran tersebut harusnya memberikan cukup bukti kekejaman zionis Israel terhadap warga palestina atau Gaza, pelanggaran perlanggaran tersebutpun harusnya segera di tindak, guna tidak memperkeruh keadaan disana.
Adanya korban NAKES yang tewas ataupun luka-luka akibat serangan, memberikan empati dan simpati yang lebih, mengingat jasa dan tanggungjawab yang mereka berikan kepada kalangan sipil, namun akhirnya mereka sendiri yang menjadi korban.
Berbicara persoalan mental health para tenaga kesehatan NAKES, medis, relawan kesehatan dari beberapa penjuru dunia, harusnya tidak usah di pungkiri. Keadaan serta pengalaman yang nyata pada kejadian khususnya terjadi di Rafah, secara mental dan psikisnya, sudah pasti memberikan dampak yang sangat signifikan.
Rasa Trauma, stress, dan ketakutan yang dialami oleh NAKES di Rafah menjadi konkrit atas kejadian beberapa hari lalu, keputus asaan atas serangan zionis Israel, potret pilu yang perlu dikecam oleh kalangan medis didunia.
Hancurnya mental mereka, atas peperangan yang dampaknya mereka rasakan, serta melihat banyaknya tenaga medis dan para relawan yang gugur. Trauma yang sangat luar biasa, bahka bisa saja mereka terkena resiko depresi.

Resiko Darurat Kesehatan dan Potret Epidemiologi di Rafah

Penjelasan diatas mengenai dampak yang terjadi pada NAKES di Rafah, tidak akan lepas dari kondisi yang beresiko kepada darurat kesehatan di Rafah. Mengingat apa yang sudah di paparkan, bahwa, Israel secara ketat memblokade pemasok bantuan baik berupa kebutuhan pangan dan kesehatan serta air.
Sudah kita ketahui bersama, sistem kesehatan di Gaza berada diambang kehancuran. Notabene yang terjadi adalah kekurangan gizi bagi balita dan anak-anak. Kejadian semacam itu, memberikan resiko yang tinggi pada wilayah pemukiman di Rafah. Kurangnya obat-obatan, bahan makanan, air, dan pelayanan serta fasilitas kesehatan banyak yang hancur, akibat serangan yang dilakukan oleh israel.
Potret Epidemiologi yang terjadi di Gaza khususnya Rafah, memiliki Resiko krisis sanitasi dan penyabran penyakit yang menular. Akibat daripada serangan yang dilakukan oleh Israel di wilayah Rafah, memberkan pukulan yang sangat menyakitkan bagi masyarakat yang mengungsi, tak luput pula dari NAKES yang gugur akibat serangan tersebut.
Genosida yang terjadi, tidak dapat dipungkiri, bahwa mental health dan psikis NAKES di Rafah khususnya terguncang hebat. Walaupun dalih atas serangan tersebut bukanlah menyerang sipil dan NAKES, akan tetapi, secara fakta, bagaimana banyaknya korban yang tewas dan luka-luka notabene warga sipil dan tak luput pula para NAKES, serta rusaknya fasilitas rumah sakit yang turut membuat luka para NAKES atas kejaian tersebut.
Dari beberapa ulasan yang singkat ini, menjadi perhatian lebih untuk kasus yag terjadi di Rafah. Sebagai salah satu upaya dalam membuka mata publik atas genosida yang terjadi, serta upaya dalam memberikan rasio resiko konflik tetap berlanjut. apapun alasannya, tanpa melihat Status, RAS, AGAMA, dengan kita cukup menjadi manusia yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan HAM serta norma, penyerangan warga sipil apalagi NAKES yang turut menjadikorban, tetaplah menjadi pelanggaran yang menaggal ketentuan hukum humaneter Internasional. Semoga konflik panjang ini segera usai, dan warga palestina merdeka atas kekuasannya All Eyes O Rafah and Palestine.
Trending Now