Konten dari Pengguna
AI dan Pendidikan Tinggi yang Perlu Berbenah
9 Agustus 2025 18:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
AI dan Pendidikan Tinggi yang Perlu Berbenah
Di era AI, gelar formal tak lagi jadi jaminan. Dunia kerja lebih butuh soft skills: empati, kreativitas, komunikasi, adaptasi, dan belajar mandiri. Kampus harus berbenah agar lulusan tetap relevaMailizar
Tulisan dari Mailizar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan Anda baru saja lulus dari universitas ternama, menggenggam ijazah dengan bangga, siap menaklukkan dunia kerja. Namun, di tengah euforia itu, tiba-tiba Anda membaca laporan PwC, sebuah perusahaan konsultan ternama, terbaru: “Permintaan perusahaan terhadap gelar formal menurun drastis, terutama di bidang yang terdampak AI.” Rasanya seperti ditampar realita. Apakah gelar yang Anda perjuangkan bertahun-tahun kini tak lagi sakti?
Inilah kenyataan baru yang sedang kita hadapi. Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar jargon di seminar teknologi, melainkan kekuatan nyata yang mengubah wajah dunia kerja. Laporan PwC 2025 Global AI Jobs Barometer bahkan menyebut, kebutuhan skill di pekerjaan yang terekspos AI berubah 66% lebih cepat dibanding bidang lain. Artinya, apa yang Anda pelajari hari ini bisa jadi sudah usang dalam hitungan bulan.
Gelar Formal Masih Perlu, Tapi Bukan Segalanya
Dulu, gelar sarjana adalah tiket emas menuju karier cemerlang. Kini, dunia kerja lebih peduli pada apa yang bisa Anda lakukan hari ini, bukan sekadar apa yang Anda pelajari di masa lalu. Teknologi memungkinkan siapa saja mengakses pengetahuan dan membangun keahlian secara mandiri, tanpa harus duduk di bangku kuliah bertahun-tahun.
Joe Atkinson, Global Chief AI Officer PwC, bahkan menegaskan, “Kemampuan untuk belajar mandiri dan beradaptasi dengan cepat adalah syarat minimum baru di dunia kerja.” Jika Anda tidak mampu belajar hal baru secara mandiri, Anda akan tertinggal. Sederhana, tapi menohok.
Namun, bukan berarti pendidikan formal tak lagi penting. Kampus tetap punya peran vital dalam membentuk karakter, cara berpikir kritis, dan kemampuan berinteraksi. Tapi, jika kampus hanya jadi pabrik ijazah tanpa membekali mahasiswa dengan skill yang relevan, maka mereka sedang menyiapkan lulusan untuk dunia yang sudah berubah.
Skill yang Tak Bisa Digantikan Mesin
Di tengah gempuran AI, muncul pertanyaan: skill apa yang benar-benar dibutuhkan agar manusia tetap relevan? Jawabannya, justru bukan skill teknis semata. Masa depan adalah milik mereka yang menguasai soft skills—kemampuan manusiawi yang tak bisa digantikan robot.
Empati, misalnya. AI bisa menganalisis data perilaku konsumen, tapi hanya manusia yang bisa memahami “mengapa” di balik angka-angka itu.
Storytelling dan komunikasi efektif juga tak kalah penting. AI bisa menulis ribuan artikel, tapi hanya manusia yang bisa membuat cerita yang menyentuh hati dan menginspirasi perubahan.
Kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, resiliensi, hingga growth mindset—semua itu adalah “superpower” manusia yang tak bisa diprogramkan ke dalam algoritma. Di era AI, kemampuan untuk beradaptasi, belajar dari kegagalan, dan terus berkembang adalah kunci bertahan hidup.
Saatnya Perguruan Tinggi Berbenah
Realita ini seharusnya jadi tamparan bagi perguruan tinggi di Indonesia. Sudah saatnya kampus berbenah, bukan hanya mengejar akreditasi atau jumlah lulusan, tapi benar-benar menyiapkan mahasiswa untuk dunia yang berubah sangat cepat.
Pertama, kurikulum harus lebih fleksibel dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Jangan sampai mahasiswa belajar teori yang sudah ketinggalan zaman. Libatkan industri, praktisi, dan bahkan AI dalam proses belajar-mengajar. Jadikan kampus sebagai laboratorium inovasi, bukan sekadar ruang kuliah.
Kedua, tanamkan budaya belajar sepanjang hayat. Kampus harus mendorong mahasiswa untuk terus belajar, bahkan setelah lulus. Sediakan akses ke pelatihan, workshop, dan platform pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri.
Ketiga, fokus pada pengembangan soft skills. Jadikan empati, komunikasi, kreativitas, dan resiliensi sebagai bagian inti dari proses pendidikan. Dorong mahasiswa untuk aktif dalam organisasi, kegiatan sosial, dan kolaborasi lintas disiplin. Di sinilah karakter dan kemampuan manusiawi ditempa.
Bagi para mahasiswa dan calon lulusan, jangan hanya mengandalkan gelar. Asah soft skills, terus belajar, dan jadilah manusia yang adaptif. Bagi kampus, jangan terlena dengan tradisi lama. Berbenahlah, agar lulusan tetap relevan dan siap menghadapi masa depan.
Karena di era AI, yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling mampu beradaptasi.

