Konten dari Pengguna

Makan Bergizi Gratis dan Kemampuan Matematika

Mailizar
Mailizar adalah akademisi dari Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. Ia dikenal sebagai dosen dan peneliti, khususnya di bidang pendidikan matematika. Mailizar aktif dalam berbagai penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan pendidikan
13 Agustus 2025 22:49 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Makan Bergizi Gratis dan Kemampuan Matematika
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu siswa lebih siap belajar, namun peningkatan kemampuan matematika butuh pembelajaran berkualitas, guru profesional, dan infrastruktur sekolah yang memadai.
Mailizar
Tulisan dari Mailizar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi makan bergizi gratis: Gambar dihasilkan oleh Seedream AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makan bergizi gratis: Gambar dihasilkan oleh Seedream AI
Baru-baru ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Indonesia, Stella Christie, menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat meningkatkan kemampuan matematika dan bahasa Inggris anak-anak jika dikemas secara kreatif. β€œSetiap hari adalah kesempatan luar biasa bagi anak untuk belajar,” ujarnya, seraya menyebutkan bahwa melalui MBG, anak-anak tidak hanya mendapat asupan gizi, tetapi juga bisa belajar berhitung dan menambah kosakata bahasa Inggris dari nama-nama makanan.
Sekilas, pernyataan ini terdengar logis dan menginspirasi: perut kenyang, hati senang, dan siap belajar. Namun, dari sudut pandang kebijakan, lompatan dari gizi ke prestasi akademik, terutama matematika, seringkali menjadi ilusi: masalah kompleks yang disederhanakan menjadi solusi instan.
Kita perlu mengapresiasi langkah MBG sebagai upaya menuju keadilan sosial, dan data awal memang cukup menggembirakan. Badan Pangan Nasional melaporkan bahwa kehadiran siswa di sekolah meningkat sejak program ini diluncurkan, dan kisah-kisah dari daerah terpencil menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan konsentrasi siswa dalam belajar.
Penelitian internasional juga konsisten menunjukkan bahwa program makan di sekolah dapat meningkatkan kehadiran, mengurangi rasa lapar, dan meningkatkan konsentrasi siswa dalam jangka pendek. Semua ini adalah fondasi penting, namun fondasi bukanlah bangunan, kehadiran bukanlah pembelajaran, dan konsentrasi bukanlah pemahaman konsep.
Kemampuan matematika tidak tumbuh hanya dari menghitung potongan ayam di piring. Kemampuan itu tumbuh dari proses pembelajaran dan interaksi antara siswa dan guru yang benar-benar memahami materi dan pedagogi, serta siswa yang aktif terlibat dalam pelajaran yang menantang dan menyenangkan.
Peningkatakan kualitas tidak akan terjadi hanya sekadar menambah aktivitas kreatif secara sporadis tanpa desain kurikulum yang jelas. Mengganti latihan matematika terstruktur dengan menghitung makanan saat makan siang mungkin menyenangkan, tetapi tidak setara dengan membangun penalaran aljabar, pemahaman proporsional, atau berpikir spasial, dan kemampuan matematika lainnya.
Kita sering tergoda untuk melihat intervensi non-instruksional sebagai solusi instan karena dampaknya terasa langsung dan mudah dikomunikasikan. Hasil riset menunjukkan apa yang terjadi di dalam kelas melalui tangan para guru adalah faktor paling penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Prestasi akademik merupakan hasil dari investasi jangka panjang dalam pengembangan profesional guru, kesejahteraan guru, dan infrastruktur sekolah.
Untuk matematika, membangun penguasaan matematika yang melampaui sekadar prosedur diperlukan guru yang memahami prinsip-prinsip di balik prosedur matematika, mampu mengantisipasi miskonsepsi siswa, dan dapat merancang rangkaian tugas yang mendorong siswa untuk berargumen, membandingkan strategi, dan meningkatkan kemampuan matematis mereka. Untuk mencapai hal tersebut, pelatihan guru satu kali saja tidak cukup. Yang benar-benar berdampak adalah pengembangan profesional berkelanjutan seperti pelatihan di kelas, lesson study, komunitas belajar guru, dan observasi sejawat dengan umpan balik terstruktur.
Menjamin kesejahteraan guru adalah prasyarat pendidikan berkualitas. Guru yang diharapkan menjadi arsitek pembelajaran bermutu membutuhkan ruang untuk terus tumbuh, gaji yang layak, beban administrasi yang wajar, waktu untuk merencanakan dan mengevaluasi pembelajaran, serta dukungan lainnya dalam menjalan tugas mereka. Di banyak daerah, terutama yang terpencil, masalah penempatan dan kesejahteraan guru masih menjadi masalah utama. MBG mungkin dapat mengisi piring siswa, tetapi tidak dapat mengobati kelelahan guru akibat jam mengajar yang panjang dan beban administrasi yang berat.
Infrastruktur sekolah merupakan masalah yang sangat mendasar. Pembelajaran Matematika yang berkualitas di tingkat dasar dan menengah tidak mungkin berlangsung optimal jika hanya mengandalkan papan tulis retak, kapur tulis patah atau spidol kering. Di ruang kelas yang pengap, bising, dengan bangku reot dan dinding rusak, tidak realistis mengharapkan siswa mampu fokus dan memenuhi tuntutan kognitif Matematika.
Kebijakan yang baik dapat membedakan antara input, proses, dan hasil. MBG memang input penting yang membantu mempersiapkan siswa untuk belajar, tetapi hasil seperti kemampuan matematika hanya muncul jika proses pembelajaran diperbaiki. Untuk mencapainya, dibutuhkan asesmen formatif rutin, dukungan remedial berbasis data, sumber belajar berkualitas, serta kebijakan pendidikan yang memprioritaskan pembelajaran di atas urusan administratif.
Klaim tentang dampak MBG terhadap kemampuan matematika harus diuji dengan evaluasi, bukan hanya sekadar anekdot inspiratif. Mengalihkan beban pencapaian akademik ke program MBG berisiko mengaburkan tujuan utamannya yaitu memastikan hak setiap anak atas makanan yang layak dan bergizi bukan sarana untuk meningkatkkan kualitas pembelajaran matematika atau atau pelajaran lainnya.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa tidak ada satu program pun yang mampu menyelesaikan semua permasalahan pendidikan. Pendidikan adalah sebuah ekosistem. Makan Bergizi Gratis merupakan fondasi yang baik dan patut dipertahankan. Namun, untuk beranjak dari kesiapan belajar menuju kompetensi nyata dalam matematika, Indonesia membutuhkan reformasi menyeluruh dalam pengembangan profesional guru, kesejahteraan guru, dan infrastruktur sekolah.
Seperti sebuah mesin, makanan adalah bahan bakar dan proses pembelajaran adalah keterampilan untuk menjalankan mesin terbut. Jika kita benar-benar ingin meningkatkan kualitas pendidikan, hentikan janji-janji jalan pintas dan fokuslah berinvestasi pada hal-hal yang benar-benar penting untuk peningkatan kualitas pendidikan.
Trending Now