Konten dari Pengguna
Mencari Makna Pendidikan di Tengah Gelombang Otomasi di Era AI
25 Juli 2025 12:11 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mencari Makna Pendidikan di Tengah Gelombang Otomasi di Era AI
Di tengah euforia AI di pendidikan, muncul pertanyaan: untuk apa pendidikan? Nietzsche mengingatkan, pendidikan sejati membebaskan manusia, bukan sekadar mencetak pekerja patuh. Era AI menantang maknaMailizar
Tulisan dari Mailizar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah euforia revolusi kecerdasan buatan (AI) yang melanda dunia pendidikan, kita seolah-olah sedang menyaksikan babak baru dalam sejarah manusia. Sekolah dan universitas berlomba-lomba mengadopsi teknologi terbaru: dari chatbot pengajar, sistem penilaian otomatis, hingga platform pembelajaran adaptif berbasis machine learning. Namun, di balik gegap gempita inovasi ini, ada pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan: untuk apa sebenarnya pendidikan?
Lebih dari 150 tahun lalu, Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, memberikan serangkaian kuliah yang kemudian didokumentasikan dalam buku Anti-Education: On the Future of Our Educational Institutions. Dalam karya ini, Nietzsche melontarkan kritik tajam terhadap sistem pendidikan modern yang menurutnya telah kehilangan jiwa. Pendidikan, kata Nietzsche, telah berubah menjadi pabrik pencetak pekerja patuh, bukan tempat tumbuhnya manusia merdeka. Ironisnya, kritik Nietzsche terhadap pendidikan semakin relevan di era AI saat ini.
Pendidikan yang Kehilangan Makna
Nietzsche menyoroti bahaya pendidikan yang hanya berorientasi pada kebutuhan ekonomi dan negara. Ia melihat universitas dan sekolah berubah menjadi institusi yang lebih peduli pada efisiensi, output, dan penyesuaian dengan pasar tenaga kerja, ketimbang membangun karakter dan kebijaksanaan. Dalam kuliah-kuliahnya, Nietzsche menyampaikan, “Pendidikan telah menjadi pelayan bagi kebutuhan praktis, bukan lagi jalan menuju pembentukan manusia seutuhnya.”
Kini, di era AI, obsesi pada efisiensi dan produktivitas mencapai puncaknya. Banyak sekolah dan universitas mengadopsi AI untuk mengotomasi proses belajar, menilai tugas, bahkan mempersonalisasi kurikulum.
Di satu sisi, AI memang menawarkan solusi atas berbagai masalah klasik pendidikan seperti kelas besar, kekurangan guru, dan kebutuhan akan pembelajaran yang lebih adaptif. Namun, di sisi lain, ada risiko besar yaitu pendidikan semakin dipandang sebagai proses mekanis—persis seperti yang dikritik Nietzsche.
AI dan Krisis Otonomi Manusia
Nietzsche percaya bahwa pendidikan sejati harus membangkitkan semangat, rasa ingin tahu, dan pencarian makna hidup. Ia menolak pendidikan yang hanya menyiapkan manusia menjadi “roda gigi” dalam mesin sosial. Di era AI, kekhawatiran ini semakin nyata. Ketika algoritma mulai menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, dan bagaimana, ruang bagi kebebasan dan kreativitas semakin menyempit.
AI memang mampu mengidentifikasi kelemahan siswa, merekomendasikan materi, bahkan memotivasi dengan gamifikasi. Namun, apakah pendidikan yang diarahkan oleh mesin masih bisa membentuk manusia yang otonom, kritis, dan berani berpikir di luar kebiasaan? Atau justru kita sedang menciptakan generasi yang terlalu bergantung pada “saran” algoritma, kehilangan kemampuan untuk bertanya dan menantang status quo?
Nietzsche menulis, “Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membebaskan, bukan yang menundukkan.” Di tengah gelombang AI, kita harus bertanya: apakah teknologi ini membebaskan manusia, atau justru menundukkan mereka pada algoritma?
Membangun Pendidikan yang Membebaskan di Era AI
Bukan berarti Nietzsche menolak kemajuan. Ia menuntut agar pendidikan tidak kehilangan tujuan utamanya: membentuk manusia yang utuh, bukan sekadar pekerja yang efisien. Di era AI, tantangan ini semakin mendesak. Kita harus memastikan bahwa teknologi menjadi alat, bukan tujuan. AI harus digunakan untuk memperluas cakrawala berpikir, bukan mempersempitnya.
Bagaimana caranya? Pertama, AI bisa membantu mengakses informasi, tapi hanya manusia yang bisa merenungkan makna dan menafsirkan nilai dari informasi yang diberikan.
Kedua, pendidik harus tetap menjadi inspirator, bukan sekadar operator teknologi. AI bisa menjadi asisten, tapi tidak bisa menggantikan peran manusia dalam membimbing, memotivasi, dan menantang siswa untuk berpikir kritis.
Ketiga, kurikulum harus memberi ruang bagi kegagalan dan eksperimen. AI cenderung mengoptimalkan hasil, tapi pendidikan sejati justru tumbuh dari proses, bukan sekadar output. Seperti kata Nietzsche, “Jangan biarkan pendidikan menjadi sekadar pelayan bagi kebutuhan praktis.”
Era AI menawarkan peluang besar, tapi juga ancaman nyata bagi makna pendidikan. Jika kita hanya mengejar efisiensi dan produktivitas, kita berisiko mengulangi kesalahan yang dikritik Nietzsche: menciptakan pendidikan tanpa jiwa.
Sudah saatnya kita kembali bertanya, seperti Nietzsche: untuk apa pendidikan? Jawabannya harus melampaui sekadar kebutuhan pasar. Pendidikan harus tetap menjadi ruang pembebasan, pencarian makna, dan pembentukan manusia seutuhnya—bahkan, dan terutama, di era AI.

