Konten dari Pengguna
QS WUR 2026: Cermin Kualitas dan Jalan Panjang Perguruan Tinggi Indonesia
20 Juli 2025 1:17 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
QS WUR 2026: Cermin Kualitas dan Jalan Panjang Perguruan Tinggi Indonesia
QS WUR 2026 menjadi cermin kualitas pendidikan tinggi Indonesia. UI masuk 200 besar dunia, namun masih tertinggal dari Malaysia. Tantangan utama: riset dan internasionalisasi. Perlu investasi, kolaborMailizar
Tulisan dari Mailizar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, publikasi QS World University Rankings (QS WUR) menjadi momen yang dinanti dan sekaligus menegangkan bagi dunia pendidikan tinggi global. Tiga minggu yang lalu, QS (Quacquarelli Symonds) kembali merilis daftar universitas terbaik dunia. Seperti biasa, peringkat ini langsung menjadi bahan diskusi hangat di kalangan akademisi, pemerintah, hingga masyarakat umum. Namun, di balik euforia dan kebanggaan atas pencapaian, ada pertanyaan mendasar: apa makna peringkat ini bagi masa depan pendidikan tinggi Indonesia, dan bagaimana kita harus menyikapinya?
Indonesia vs Malaysia
Dalam QS WUR 2026, Universitas Indonesia (UI), sebagai kampus nomor satu di Indonesia dan satu-satunya kampus Indonesia yang masuk peringkat 200 besar, menempati posisi ke-189 dunia, sementara Universitas Gadjah Mada (UGM) posisi kedua di Indonesia berada di peringkat 224. Di sisi lain, Universiti Malaya (UM) dari Malaysia melesat di posisi ke-58 dunia, jauh meninggalkan dua kampus terbaik Indonesia. Tak hanya UM, beberapa universitas Malaysia lain juga menembus 200 besar dunia, menandakan konsistensi dan daya saing yang semakin baik dari negeri jiran.
Perbandingan ini bukan sekadar soal gengsi nasional, melainkan cermin dari realitas kualitas, strategi, dan kebijakan pendidikan tinggi di kedua negara. Malaysia, dalam dua dekade terakhir, secara sistematis membangun ekosistem pendidikan tinggi yang berorientasi global, mulai dari investasi riset, internasionalisasi, hingga reformasi tata kelola kampus. Sementara Indonesia, meski memiliki potensi besar, masih tertatih dalam mengejar ketertinggalan, terutama dalam aspek yang diukur oleh QS.
Membaca Data: Kekuatan dan Kelemahan Kampus Indonesia
QS WUR menilai universitas berdasarkan sebelas indikator utama, mulai dari reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, rasio dosen-mahasiswa, sitasi per dosen, hingga jejaring riset internasional dan keberlanjutan. Jika kita cermati data dua kampus terbaik Indonesia, UI dan UGM, sangat jelas bahwa titik lemah utama perguruan tinggi Indonesia terletak pada dua hal: kualitas riset dan internasionalisasi. Sebagai contoh, UI meraih skor sangat tinggi pada Employer Reputation (89,3), International Faculty Ratio (86,6), dan Academic Reputation (69,9). Namun, skor Citations per Faculty hanya (3,9), International Student Ratio (10,9), dan International Student Diversity (16,3). UGM pun demikian: Employer Reputation (84,7), Academic Reputation (70,2), namun Citations per Faculty hanya (3) dan International Student Ratio (8.9)
Bandingkan dengan Universiti Malaya (UM), yang tidak hanya unggul di Academic Reputation (92,3); Employer Reputation (96,7), tetapi juga sangat baik nilainya di Citations per Faculty (47,4), International Research Network (92,9), dan International Student Ratio (86,8). UM berhasil membangun ekosistem riset yang produktif dan jejaring internasional yang luas, dua aspek yang masih menjadi titik lemah kampus-kampus Indonesia.
Akar Masalah
Mengapa dua universitas terbaik Indonesia masih tertinggal jauh dalam dua aspek ini? Jawabannya terletak pada masalah sistemik dan struktural yang sudah lama membayangi ekosistem riset dan internasionalisasi di Indonesia. Pertama, anggaran riset di Indonesia masih sangat minim jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Pola pendanaan riset di Indonesia cenderung jangka pendek—umumnya hanya diberikan untuk satu tahun. Lebih jauh lagi, kontrak riset biasanya baru ditandatangani pada bulan Mei atau Juni, sementara laporan akhir riset harus sudah selesai pada bulan November di tahun yang sama. Siklus yang sangat singkat ini membuat peneliti kesulitan merancang dan menjalankan riset yang mendalam, berkelanjutan, dan berdampak.
Selain itu, pendanaan khusus untuk kolaborasi riset internasional juga sangat terbatas, sehingga peluang membangun jejaring dan proyek bersama dengan peneliti luar negeri menjadi semakin kecil. Tak heran, dua universitas terbaik di Indonesia—Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada—masih mendapat nilai sangat rendah pada indikator riset dan internasionalisasi. Jika kampus terbaik saja menghadapi tantangan sebesar ini, dapat dibayangkan betapa beratnya situasi bagi lebih dari 3.000 universitas lain di seluruh Indonesia.
Selain itu, daya tarik Indonesia bagi mahasiswa internasional juga masih rendah, baik karena faktor bahasa, infrastruktur, maupun promosi global yang kurang. Sementara itu, Malaysia dengan kebijakan proaktifnya berhasil menarik lebih dari seratus ribu mahasiswa serta ribuan dosen asing, serta mendorong dosen-dosennya untuk aktif dalam jejaring riset global.
Jalan Panjang Menuju World-Class University
Apa yang bisa dilakukan? Pertama, investasi dan tata kelola pendanaan riset harus ditingkatkan secara signifikan. Pemerintah dan universitas perlu mengalokasikan dana khusus untuk riset yang mendorong kolaborasi internasional. Kedua, internasionalisasi harus menjadi agenda utama. Ini bisa dilakukan dengan memperluas program double degree, joint research, dan pertukaran mahasiswa-dosen, serta memperbaiki layanan dan fasilitas bagi mahasiswa.
Ketiga, reformasi tata kelola dan budaya akademik. Universitas harus lebih adaptif dan berorientasi pada kualitas, bukan sekadar kuantitas. Dosen dan peneliti perlu didorong untuk aktif dalam komunitas ilmiah global serta menghasilkan riset yang berkulitas dan berdampak.
Keempat, promosi global. Indonesia harus lebih aktif memasarkan keunggulan dan keunikan pendidikan tingginya ke dunia internasional, baik melalui pameran, kerja sama, maupun branding digital.
Namun demikian, yang lebih penting adalah seperti yang diungkapkan oleh Hazelkorn dalam bukunya Rankings and the Reshaping of Higher Education, peringkat memang penting sebagai alat ukur dan motivasi, namun jangan sampai universitas kehilangan jati diri dan misi sosialnya. Indonesia harus belajar dari Malaysia, tapi juga harus menemukan jalannya sendiri, menyeimbangkan antara tuntutan global dan kebutuhan lokal.
QS WUR 2026 adalah cermin bagi pendidikan tinggi Indonesia. Ia memberi gambaran obyektif tentang posisi kita di kancah global. Jika ingin menjadi pemain utama, Indonesia harus berani berbenah, berinvestasi, dan berinovasi. Jalan menuju world-class university memang panjang dan menantang, tapi bukan mustahil jika ada komitmen bersama. Seperti kata Hazelkorn, “Rankings are here to stay, but it is up to us to shape how we respond to them.” Sudah saatnya Indonesia menjawab tantangan itu, bukan sekadar mengejar peringkat, tapi membangun kualitas dan daya saing, yang pada akhirnya peringkat akan mengikuti.

