Konten dari Pengguna

Ranking Satu

Makhsun Bustomi
Penulis Esai, sehari-sehari bekerja sebagai Policy Analyst di Pemerintah Kota Tegal.
21 Desember 2025 11:53 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ranking Satu
Kisah tentang ayah yang rajin mengambil rapor anaknya. Ukuran ayah yang baik perlu dirumuskan dan diketahui para ayah.
Makhsun Bustomi
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada awal ajaran baru biasanya muncul gerakan ayah mengantar anak sekolah. Kini pada ujung semester, muncul Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah.
Dahulu setelah ambil rapor, disambut pertanyaan "ranking berapa?". Soal ranking, kalau yang dirangking bukan nilai akademis melainkan kehebatan ayah, maka saya bisa bersaing sebagai ayah peringkat satu. Itu jika ukurannya konsistensi mengambil rapor anak.
Photo by DS stories: https://www.pexels.com/photo/medals-on-pedestal-on-pink-studio-background-7267588/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by DS stories: https://www.pexels.com/photo/medals-on-pedestal-on-pink-studio-background-7267588/
Bagaimana tidak? Sejak putri saya berseragam SD sampai lulus SMA, hampir saya tak pernah absen mengambil rapor setiap semester. Salah satu sebab, karena sebagai guru, ibunya, harus bertugas membagikan rapor di kelasnya.
Waktu berlalu tak bisa dikejar. Tak begitu terasa, kini saya sudah melewati fase mengambil rapor. Di hari ini, Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah berganti menjadi gerakan jemput anak di Shuttle Point.
Kini, ia sudah berani dan mandiri melakukan perjalanan 200 km dengan moda transportasi umum. Belajar packing sendiri. Saya menjemputnya di shuttle point, sebelah Domino’s Pizza, Jalan Gajah Mada, Tegal. Setidaknya itulah prestasi yang harus saya apresiasi untuknya.
Anak makin beranjak dari remaja menuju dewasa muda, membuat saya semakin mengamati rapor diri sendiri sebagai orang tua. Jelas, anak adalah prioritas nomor satu bagi ayah dan ibunya. Tetapi bagi anak, apakah saya menjadi peringkat satu untuk dapat didengarkan kata-katanya, dicontoh perilakunya?
Alhamdulillah, satu semester awal di Universitas Padjadjaran terlewati. Dia pulang libur semester. Sudah kuliah, tentu sudah tidak relate bertanya ranking berapa. Melihatnya turun dari mobil travel, saya bertanya begini,
“Kamu nyangking apa, Nok?”.
Nyangking adalah kata kerja dalam Bahasa Jawa yang bermakna membawa. Ternyata barang yang diturunkan bukan hanya yang ada di tangannya. Bawaannya terlihat banyak. Tas ransel, tas duffle dan totebag.
“Baju kotor, Ayah”.
Dalam hati saya ingin membalas. “Oh, kalau soal cucian. Bunda yang ranking satu”.
Saya nggak jadi sombong. Saya jadi teringat ibunya. Ia bekerja menyokong finansial keluarga. Dan tak pernah alpa mengurusi urusan domestik. Ayah macam apa aku ini, cuma ambil rapot semesteran saja sombong.
Sepertinya pemerintah harus membuat semacam panduan yang jelas bagi para ayah. Bukan sekadar gerakan-gerakan ambil rapor dan posting masalah fatherless. Jadi, tidak membuat ayah seperti saya menjadi overrated.
Trending Now