Konten Media Partner

Begini Jumlah Populasi Babi di Sulawesi Utara, Ikut Pengaruhi Harga Jual

19 Agustus 2025 11:56 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Begini Jumlah Populasi Babi di Sulawesi Utara, Ikut Pengaruhi Harga Jual
Jumlah populasi hewan ternak babi di Sulawesi Utara yang sempat mencapai 450 ribu ekor turun drastis hingga 50 ribu ekor karena wabah virus African Swine Fever (ASF). #publisherstory #manadobacirita
Manado Bacirita
Ilustrasi peternakan babi di Sulawesi Utara.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peternakan babi di Sulawesi Utara.
MANADO - Kondisi peternakan babi di Sulawesi Utara (Sulut) ternyata hingga kini masih belum pulih seutuhnya usai wabah virus ASF (African Swine Fever) menyerang di akhir tahun 2023 lalu.
Walaupun mulai menunjukkan tren peningkatan jumlah populasi ternak, namun angkanya belum mencapai setengah dari tahun sebelum ASF merebak dan menyebabkan banyak ternak babi mati mendadak.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Hanna O. Tioho, menyebutkan jika jumlah ternak babi sebelum tahun 2023 atau sebelum ASF menyerang ada di angka 450 ribu.
Namun, setelah ASF masuk dan menjadi wabah, jumlah ternak turun drastis hingga hanya menyisakan 50 ribu ekor babi saja secara keseluruhan.
"Jadi setelah tahun 2023 itu, jumlah ternak babi kita hanya berjumlah 50 ribu saja. Angka ini memang sangat mengkhawatirkan," ujar Hanna.
Menurut Hanna, melihat angka ini, kemudian membuat pemerintah maupun stakeholder terkait seperti Karantina Sulawesi Utara lebih memperketat lalu lintas masuknya hewan ke daerah nyiur melambai, untuk mencegah adanya virus ASF yang terbawa.
Walaupun diakui oleh Hanna, virus ASF masih ditemukan di beberapa peternakan di Sulut, namun hal itu masih bisa diantisipasi karena lokasinya sudah diketahui dan bisa langsung diberikan penanganan karena hanya berasal di dalam daerah.
"Tapi jika virus itu masuk dari luar, kan kita kesulitan antisipasinya. Makanya pengawasan lebih ketat, termasuk yang dilakukan Karantina. Semua dokumen diperiksa agar benar-benar hewan atau daging yang masuk dalam kondisi sehat. Bukan karena ada apa-apanya," ujar Hanna.
Saat ini, Hanna mengatakan jika pengawasan yang ketat serta penanganan yang lebih terukur, membuat perlahan jumlah populasi ternak babi di Sulut naik.
"Kini tercatat sudah ada 150 ribu ternak babi di Sulut. Angka ini memang masih jauh sebelum 2023 lalu, tapi setidaknya progres baik sudah terlihat dari hasil pengawasan dan penanganan yang baik," ujar Hanna kembali.
Trending Now