Konten Media Partner
Cerita di Balik Turunnya Cakupan Imunisasi di Kota Manado
24 Juli 2025 6:11 WIB
Β·
waktu baca 11 menit
Konten Media Partner
Cerita di Balik Turunnya Cakupan Imunisasi di Kota Manado
Capaian Imunisasi di Kota Manado, Sulawesi Utara, turun di tahun 2024. Sejumlah penyebab menjadi faktor pendorong penurunan hingga ke angka 79,6 persen. #publisherstory #manadobaciritaManado Bacirita
Liputan Mendalam

Sebanyak 13.336 anak di Sulawesi Utara pada tahun 2024 masuk pada kategori Zero Dose atau anak-anak yang belum lengkap atau bahkan belum menerima imunisasi.
Data dari Kementerian Kesehatan ini memperlihatkan terjadinya lonjakan anak kategori Zero Dose dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya ada di kisaran 2.000-an saja.
Kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, menjadi salah satu daerah dengan capaian imunisasi lengkap yang alami penurunan.
Pada laporan Global Health Strategies, kendala terbesar pada capaian imunisasi ada dua faktor utama. Pertama adalah informasi terbatas, di mana masyarakat tidak memiliki pemahaman yang cukup atau bahkan tak tahu tentang imunisasi. Ada 55,21 persen responden yang menyebut alasan ini.
Faktor kedua adalah kekhawatiran tentang pengalaman sebelumnya, di mana anak setelah mendapatkan imunisasi alami demam yang biasa disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Ada 30,90 persen responden yang mengutarakan alasan ini.
Direktur Imunisasi Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan jika cakupan imunisasi yang tinggi dan merata dapat membentuk kekebalan kelompok atau Herd Immunity dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan.
Menurutnya, setiap orang yang mendapatkan imunisasi akan membentuk antibodi spesifik terhadap penyakit tertentu. Imunisasi sendiri adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling berhasil dalam menurunkan kesakitan dan kematian bayi anak akibat penyakit menular.
"Saat ini imunisasi mencegah kematian 2-3 juta anak setiap tahunnya akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I," ujar dr Prima.
"Saya Kira Itu Tak Penting": Ketidaktahuan yang Menjadi Ancaman Kesehatan
Sambil menggendong anaknya yang berusia hampir dua tahun, Yati, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di dalam kompleks pasar Bersehati Manado, mengaku jika seluruh anaknya tak pernah dia bawa untuk imunisasi. Baik itu di Puskesmas ataupun di kegiatan Posyandu.
Yati, wanita yang belum berusia lebih dari 40 tahun ini, telah memiliki empat orang anak. Yang tertua kini berusia 12 tahun, lalu umur delapan tahun, empat tahun dan yang paling bungsu baru mau berumur dua tahun.
"Ia, sejak anak pertama tidak pernah kasih imunisasi. Itu yang disuntik to? Ia tidak pernah," kata Yati saat dijumpai di bawah jembatan Soekarno.
Menurut Yati, tak hanya anak-anaknya saja yang tak diimunisasi, anak dari adik ipar serta beberapa orang lainnya yang keseharian hidup mereka di pasar Bersehati, juga tak mendapatkan imunisasi.
"Nda hanya kita (saya), keponakan dan anak-anak lain di pasar (bersehati), juga nda imunisasi," tutur Yati.
Yati mengaku jika dia tahu imunisasi itu adalah suntikan yang dikasih ke anak bayi, yang setelah itu akan timbul sakit. Namun, guna dari imunisasi itu tak diketahuinya untuk apa. Untuk itu, karena mengaku tak terlalu paham dengan kegunaan imunisasi, dia mengatakan jika tak membawa anaknya untuk imunisasi.
Saat diberi tahu jika imunisasi akan menciptakan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu dengan tujuan mengurangi risiko terinfeksi penyakit, Yati mengaku kurang paham dengan itu. Dia menyebut jika selama ini anaknya cenderung sehat walaupun tak diberi imunisasi.
"Ya kalau sakit paling hanya flu atau demam begitu," kata Yati.
Dijelaskan Yati, dia memang tidak paham dengan persoalan baik atau tidaknya imunisasi. Apalagi menurutnya, tak ada orang yang memberikan penjelasan tentang imunisasi tersebut, sehingga merasa jika itu tak wajib untuk anak-anaknya.
Apalagi ditambah dengan kesibukannya di pasar, dia mengaku sering lupa dan cenderung lalai untuk datang ke Puskesmas atau ke kegiatan Posyandu untuk memeriksakan atau untuk mengikuti jadwal imunisasi untuk anak-anaknya.
"Ya kasihan, torang (kami) di sini kerja. Jadi tak ada waktu juga," ujarnya.
Namun demikian, dia mengaku jika ada kunjungan dari Puskesmas di pasar tempatnya tinggal, lalu diwajibkan untuk anaknya diberikan imunisasi, maka dia akan membawa anaknya agar mendapatkan imunisasi tersebut.
"Kalau ada yang datang ke pasar (bersehati) untuk kasih imunisasi, torang (kami) mo hadir," ujarnya lagi.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Manado, dr Steaven Dandel, menyebut jika secara garis besar, pemahaman masyarakat tentang imunisasi sudah baik. Buktinya, capaian imunisasi di Kota Manado awalnya selalu berada di atas 90 persen.
Menurutnya, di setiap Puskesmas maupun pelaksanaan Posyandu, selalu dilakukan penyuluhan terkait dengan pentingnya imunisasi, serta apa yang bisa terjadi (KIPI) setelah dilakukan imunisasi.
"Pelaksanaan imunisasi ini sudah lama sekali dilakukan. Sebagai dokter saya sudah terlibat sejak 2005. Capaiannya itu selalu di atas 90 persen. Jadi secara garis besar, saya pikir pemahaman masyarakat tentang imunisasi itu sudah baik," ujar Steaven.
Namun demikian, Steaven mengaku jika setelah COVID-19, memang ada penurunan capaian imunisasi. Ini disebabkan oleh banyaknya cerita tentang KIPI yang muncul saat pelaksanaan vaksinasi COVID-19, ikut mempengaruhi keputusan orang tua terkait pemberian imunisasi.
Hal ini dikatakan Steaven sangat berpengaruh pada pemahaman warga. Seperti ketika pihaknya menggelar Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Menurutnya, banyak orang tua yang kemudian tidak memberikan izin anak mereka untuk mendapatkan imunisasi atau disuntik vaksin di sekolah.
"Di semua sekolah pasti ada orang tua yang menolak anak mereka divaksin. Dan itu terjadi tak hanya di sekolah Islam tapi di sekolah umum," ujar Steaven.
"Di sini kami sadar, bahwa kami harus memberi pesan kembali tentang imunisasi ini sehingga masyarakat yang awalnya terpapar cerita waktu COVID-19, bisa kembali aware tentang imunisasi ini," kata Steaven lagi.
Kendala yang Dihadapi Hingga Terjadi Penurunan Cakupan Imunisasi di Kota Manado
Pemerintah Kota Manado tak menampik penurunan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL). Dari data yang ada, penurunan terjadi pada tahun 2024, di mana dari 6.706 bayi sasaran imunisasi (SI), yang menerima imunisasi hanya sebanyak 5.338 bayi atau persentase 79,6 persen.
Angka persentase yang diraih pada tahun 2024 ini turun cukup tinggi karena pada tahun 2023, cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 92,2 persen. Di tahun 2024 sendiri ada 5.923 bayi baru lahir, dengan target sasaran imunisasi (SI) sebanyak 6.706 dan jumlah Bayi di Bawah dua tahun (Baduta) sebanyak 6.295 anak.
Di tahun 2024 ini, dari 16 Puskesmas yang tersebar di Kota Manado, ada tiga di antaranya yang capaiannya berada di bawah 60 persen. Ketiganya adalah Puskesmas Tongkaina sebesar 53,9 persen (103 anak IDL), Puskesmas Bengkol 57,2 persen (143 anak), dan Puskesmas Wawonasa 56,4 persen (189 anak).
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi pada Dinas Kesehatan Kota Manado, Fanny Barends S.Psi, mengungkapkan jika turunnya cakupan imunisasi di tahun 2024 dikarenakan adanya beberapa wilayah yang masih rendah kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.
"Kendala terbesar justru adalah ketakutan orang tua yang tidak beralasan serta adanya hoaks mengenai vaksin, sehingga mengakibatkan adanya negative campaign untuk program imunisasi," ujar Fanny.
Sementara itu, Steaven mengatakan jika persoalan ketersediaan vaksin juga ikut menyebabkan turunnya capaian imunisasi di Kota Manado pada tahun 2024. Steaven yang di tahun 2024 merupakan Kepala Dinas Kesehatan, menyebutkan jika sejak pertengahan tahun 2024 vaksin habis.
Padahal menurut Steaven, pengadaan vaksin justru dilakukan secara centralized di Kementerian Kesehatan, sehingga daerah hanya menunggu pasokan stok.
"Semua petugas sampai kena marah orang tua yang sudah datang ke Puskesmas, karena ternyata vaksin habis. Orang tua yang sudah mau, tapi tak terlayani karena vaksin habis," ujar Steaven.
Selain itu, Steaven mengaku jika ada kendala teknis manajemen data dalam pelaporan. Diakuinya, pada tahun 2024 tersebut, sistem merekam jika jumlah vaksin di Sulawesi Utara itu masih dalam kondisi banyak. Ini menurutnya, karena pelaporan yang keliru sehingga mengakibatkan salah di perhitungan.
"Terus terang waktu itu saya sempat marah. Tapi, kalau hanya marah tak selesaikan masalah. Jadi, kami beri pemahaman ke masyarakat," ujarnya kembali.
(Masih) Kurangnya Edukasi Tentang Imunisasi di Media Sosial Milik Pemerintah
Salah satu temuan Global Health Strategies terkait hambatan Imunisasi anak di Kota Manado dan Kota Bitung, Sulawesi Utara, adalah masyarakat kurang memiliki informasi atau tidak tahu dan tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang imunisasi anak.
Faktor ini menjadi yang tertinggi, di mana ada sebesar 55,21 persen responden yang menjawab alasan tersebut sehingga anak mereka tak diberikan imunisasi.
Penelusuran yang dilakukan di halaman media sosial milik pemerintah, edukasi tentang Imunisasi memang sangat kurang. Bahkan di media sosial Facebook milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Manado, informasi terkait edukasi maupun sosialisasi tentang pentingnya imunisasi, dampak dari imunisasi dan kejadian ikutan pasca imunisasi sangat minim.
Unggahan tentang imunisasi pun hanya berbentuk dokumentasi kegiatan Posyandu atau pemberian Imunisasi di Puskesmas, tanpa ada penjelasan tentang apa itu imunisasi dan juga pentingnya anak mendapatkan imunisasi.
Pada periode bulan Januari hingga Maret 2025 misalnya. Hanya ada dua unggahan terkait edukasi maupun ajakan imunisasi yang ada di akun Facebook Dinkes Manado. Unggahan itu ada di tanggal 20 Maret 2025 dan 26 Maret 2025. Unggahan ini sendiri berasal dari konten yang diproduksi oleh Global Health Strategies, terkait dengan ajakan untuk imunisasi dan gaya hidup Imunisasi.
Barulah pada bulan April 2025, unggahan soal imunisasi mulai banyak. Ini berkaitan dengan peringatan Hari Imunisasi Dunia yang memang diperingati di bulan April setiap tahunnya. Selain itu, ada peningkatan konten edukasi soal imunisasi yang diunggah, di mana konten-konten itu diproduksi oleh Global Health Strategies.
Steaven, mengaku pihaknya sudah melakukan sosialisasi di media sosial terkait imunisasi. Namun, dia mengaku kurang di blow up sehingga terkesan tak ada sosialisasi.
Selain itu, dia menyebut jika ada kelemahan melakukan sosialisasi di media sosial. Salah satunya adalah pesan yang diunggah bisa tidak tersampaikan, karena sistemnya yang saling tumpang tindih.
"Dan yang juga harus diingat jika para petugas di Dinkes itu bukan ekspert untuk urusan media sosial. Belum lagi tupoksi kerja mereka yang tentunya bukan terkait media sosial," katanya.
Namun demikian, dia mengatakan jika saat ini pihaknya sudah meningkatkan sosialisasi di media sosial. Salah satunya adalah dengan Global Health Strategies.
"Kami juga coba untuk melakukan kolaborasi dengan instansi lain, walaupun memang belum terlaksana dengan baik," ujarnya.
"Tapi untuk sosialisasi di Posyandu itu rutin dilakukan," katanya lagi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kota Manado, Erwin Kontu, mengaku jika pihaknya selalu terbuka untuk melakukan kampanye di media sosial terkait hal-hal baik, termasuk terkait dengan konten positif tentang imunisasi dari Dinas Kesehatan.
Menurut Erwin, dengan pengikut di fanpage yang dikelola Dinas Kominfo yang sudah melebih 100 ribu lebih akun, maka kampanye itu akan lebih efektif karena akan lebih banyak orang yang terjangkau.
βTorang (kami) bantu flyer ataupun pa torang pe fanpage yang sudah 100 ribu lebih pengikut,β kata Erwin.
Namun, koordinasi harus berjalan dengan baik, mengingat walaupun Tupoksi Kominfo adalah menyebarluaskan informasi dari Pemerintah, tetapi jika tidak ada pemberitahuan atau koordinasi, maka hal itu akan luput.
βSebenarnya torang boleh bantu dinas mana pun untuk sosialisasi tinggal koordinasi. Di lain pihak Kominfo nda tahu kalau tidak diberitahukan,β kata Erwin kembali.
Bagaimana Upaya Pemerintah untuk Menaikkan Cakupan Imunisasi?
Pada pemaparan terkait evaluasi imunisasi di Kota Manado, Seksi Surveilans dan Imunisasi pada Dinas Kesehatan, menyebutkan jika upaya paling pertama yang dilakukan adalah memberikan edukasi kepada orang tua lewat cara memberikan informasi dan pengingat langsung.
Salah satunya dengan dibuatkan grup di WhatsApp dengan nama Ibu Pandai di Puskesmas Tuminting. Di grup itu, pihak puskesmas atau kader posyandu langsung merespons kekhawatiran orang tua terkait KIPI dan lainnya.
Pemanfaatan teknologi digital juga mulai dilakukan, termasuk mengelola data untuk mengidentifikasi anak yang belum hadir pada kegiatan imunisasi, sehingga sasaran bisa lebih terfokus.
"Pengembangan media promosi imunisasi juga mulai dilakukan untuk menjangkau target audiens yang lebih luas," kata Fanny.
Apa yang Penting Dilakukan Saat Ini?
Jonesius Eden Manoppo, Pakar Epidemiologi dan Universitas Negeri Manado (UNIMA), mengatakan jika terkait dengan cakupan imunisasi itu adalah hal yang penting, terutama terkait dengan harapan untuk bisa mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok. Dia bilang, jika komunitas menjadi kebal, maka bisa saja penyakit itu tidak akan muncul lagi.
Untuk mencapai kondisi kebal secara kelompok, Jonesius mengatakan jika diperlukan cakupan imunisasi yang tinggi, tergantung pada tingkat penularan penyakit. Semakin banyak yang mendapatkan imunisasi, maka kelompok itu akan tidak mudah terkena penyakit.
βContoh penyakit campak membutuhkan cakupan di atas 95 persen, polio sekitar 80 hingga 86 persen. Dengan jumlah ini, diharapkan individu yang belum bisa divaksinasi, seperti bayi atau orang dengan gangguan imun, tetap terlindungi secara tidak langsung,β kata Jonesius.
Hal yang harus diingat oleh masyarakat tentang imunisasi menurut Jonesius adalah imunisasi penting untuk semua kalangan usia, untuk mencegah penyakit yang mudah menular, sulit dikendalikan dan sulit untuk diobati seperti TBC, Polio, difteri, batuk rejan, tetanus, campak, yang memang masuk kategori penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Lalu mengapa imunisasi menjadi lebih potensial diberikan kepada anak-anak, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat ini mengatakan karena sistem kekebalan alamiah mereka belum terbentuk, sehingga perlu diimunisasi.
βJadi, dengan memberikan pengenalan awal kuman penyakit pada tubuh anak, maka tubuh bisa memberi respons perlindungan apabila kuman yang sama dari lingkungan masuk ke tubuh. Kalau tubuh bisa menghentikan penyakit maka rantai penularan bisa dipotong, dan tidak akan menularkan ke lingkungan,β ujarnya.
Lebih lanjut, Jonesius mengatakan jika apa yang sudah dilakukan saat ini seperti kampanye bulan imunisasi, kunjungan rumah, kunjungan sekolah, promosi kesehatan dan pendekatan kepada tokoh agama, harus dipertahankan untuk menuju capaian tersebut.
Namun, dia mengaku jika seharusnya pengenalan imunisasi ini juga gencar dilakukan di sosial media. Diakuinya, saat ini masyarakat sudah banyak terjamah sosial media, sehingga kampanye di platform itu menjadi sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, membangun kesadaran dan kemudian memicu tindakan
βSaya bisa katakan, saat ini konten-konten yang membantah hoaks tentang imunisasi itu jarang sekali. Padahal itu penting dan memang harus dilakukan,β katanya.
βMemang ada kecenderungan pemberitaan pentingnya imunisasi di media mainstream juga seringkali dicurigai masyarakat sebagai propaganda untuk membangun opini publik dan citra pemerintah. Namun, harus dilakukan terus menerus, karena informasi yang disampaikan itu penting dan tidak boleh menyerah untuk dilakukan,β ujar Jonesius kembali.
