Konten Media Partner
Curhat Guru Kepulauan di Sulut, Tak Lagi Terima TPP, Sulit Kembangkan Kompetensi
24 November 2025 18:45 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Curhat Guru Kepulauan di Sulut, Tak Lagi Terima TPP, Sulit Kembangkan Kompetensi
Jelang peringatan Hari Guru Nasional, para guru di kepulauan, justru curhat tentang kurangnya perhatian terhadap mereka. Ada yang tak lagi terima tambahan penghasilan. #publisherstory #manadobaciritaManado Bacirita

TALAUD - Jelang peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025, suara-suara minor para guru yang mengabdi di daerah terpencil atau di daerah kepulauan rupanya masih tetap terdengar.
Mereka mulai mengeluarkan ungkapan isi hati mereka (curhat) tentang nasib sebagai tenaga pendidikan di daerah yang justru butuh banyak perhatian, tetapi malah terkesan dilupakan.
Mulai dari permasalahan tak lagi menerima Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang membuat kehidupan mereka lebih susah karena hanya hidup dari gaji pokok tanpa tambahan, maupun sulitnya mereka mengikuti pengembangan kompetensi diri karena kekurangan fasilitas di daerah mereka mengabdi.
Jendryk Adilis, guru di SMA Negeri 1 Piningkatan Tule, Kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara (Sulut) misalnya. Dia mengaku sudah tak lagi menerima tambahan penghasilan di beberapa waktu terakhir ini.
"Bukan hanya saya tapi seluruh guru di tempat saya sudah tidak lagi menerima tambahan penghasilan. Jadi, kami itu hanya bergantung dari gaji pokok yang pas-pasan," kata Jendryk.
Jendryk mengatakan, salah satu alasan mereka tak lagi mendapatkan tambahan penghasilan adalah perubahan status desa tempat sekolah mereka berada yang kini jadi desa berkembang.
โMakanya kami guru-guru yang dari luar daerah hanya hidup mengandalkan gaji yang pas-pasan. Padahal di sini biaya hidup cukup mahal, khususnya bagi kami yang pendatang,โ kata Jendryk.
Bukan hanya terkait kesejahteraan guru, Jendryk juga mengeluhkan minimnya sarana prasarana yang dimiliki oleh sekolah. Menurutnya fasilitas tersebut jauh tertinggal dengan sekolah yang ada di perkotaan.
Kondisi ini, jelas dia, sangat menghambat proses pembelajaran, terutama ketika harus mengadakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).
โKomputer terutama, bahkan yang lalu untuk UNBK terpaksa menggunakan laptop beberapa orang guru,โ katanya.
Meski mengaku tetap semangat mengabdi, Jendryk tetap meminta agar pemerintah dapat menaruh perhatian terhadap sektor pendidikan, utamanya di daerah terpencil.
Ia juga meminta agar guru-guru di daerah kepulauan dapat difasilitasi untuk pengembangan kompetensi, supaya pemerataan kualitas pendidikan bisa dinikmati hingga ke daerah terpencil.
โBiasanya kalau ada pengembangan untuk peningkatan kompetensi guru, kami tidak bisa ikut karena kurang informasi, dan terkendala dana, karena sekolah tidak bisa tanggung untuk pengembangan diri,โ kata Jendryk berharap.
