Konten Media Partner
INDEKS dan FNF Gelar Diskusi Potensi Web 3.0 dalam Mendorong Kesejahteraan
9 Oktober 2025 18:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
INDEKS dan FNF Gelar Diskusi Potensi Web 3.0 dalam Mendorong Kesejahteraan
Potensi Web3 dalam mendorong kesejahteraan sangat besar, terutama jika dilihat dari pengguna internet yang mencapai 223,26 juta orang atau 78,3 persen dari populasi. #publisherstory #manadobacirita Manado Bacirita

JAKARTA – Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (INDEKS) bersama Friedrich Naumann Foundation (FNF) Indonesia dan Kementerian HAM (Kemenham) RI, menggelar diskusi Online bertajuk “Digitalisasi Ekonomi: Mengenal Potensi Web3 dalam Mendorong Kesejahteraan”.
Isu-isu yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah ketimpangan akses informasi, dominasi segelintir 'Raksasa Teknologi' hingga inefisiensi sistem terpusat yang menjadi hambatan utama bagi pemerataan kesejahteraan.
Dalam diskusi ini, dua narasumber dihadirkan yaitu Ketua Perkumpulan Lembaga INDEKS, Nanang Sunandar, dan Kepala Pemasaran Konten Xellar & Pembuat Konten Web3, Ajeng Vera Farlina. Adapun moderator adalah Dedi Irawan, Staf Program Lembaga INDEKS.
Adapun tujuan diskusi ini untuk menganalisis keterkaitan antara kebebasan ekonomi, digitalisasi, dan kesejahteraan, serta menjelaskan konsep Web3 atau Web 3.0 dan desentralisasi bagi masyarakat luas. Diskusi tersebut juga mengidentifikasi peluang karier, kewirausahaan, dan inovasi bisnis di ekosistem Web3 Indonesia, sekaligus mengkaji tantangan regulasi, risiko, dan kesenjangan literasi yang dihadapi.
Analis Hukum Biro Perencanaan dan Kerja Sama, Kemenham RI, Erlangga Kristanto, dalam sambutannya, menyampaikan betapa pentingnya melihat digitalisasi ekonomi dari sisi manusia.
“Kami meyakini digitalisasi ekonomi ini bukan semata tentang teknologi melainkan tentang manusia, ini harus digarisbawahi,” ungkap Erlangga.
Ia juga menambahkan bahwa diskusi publik yang diselenggarakan FNF dan INDEKS ini sangat relevan, dengan harapan dapat menumbuhkan pemahaman bersama lintas sektor dalam membangun ekosistem digital yang setara, aman, dan berkeadilan.
Sementara itu, Elgawaty Samosir, Program Officer FNF Indonesia, dalam sambutannya menyoroti diskusi yang saat ini selaras dengan alur pemikiran global dan pentingnya inovasi digital dalam hubungannya terhadap kesejahteraan.
“Teknologi berkaitan dengan demokrasi dan partisipasi warga. Kita sedang berjalan selaras dengan alur pemikiran global, tentang bagaimana inovasi digital dapat menjembatani kesejahteraan dan kebebasan,” ujar Elga.
Pada diskusi tersebut, Nanang Sunandar, menjelaskan pengertian mendasar mengenai kebebasan ekonomi. Menurutnya, kebebasan ekonomi ialah hak setiap orang untuk menjalankan aktivitas ekonomi dan mengambil manfaat ekonomi yang berasal dari dirinya maupun harta benda pribadinya. Selain itu, ia menekankan hubungan kebebasan ekonomi dan kesejahteraan.
“Jika masyarakat memiliki kebebasan dalam menggunakan apa yang dimiliki, untuk kepentingannya, maka itu akan menghasilkan kesejahteraan bagi dirinya sebagai pelaku ekonomi. Mengapa demikian? Karena unit primer dalam kebebasan ekonomi adalah individu, bukan kelompok,” ungkap Nanang.
Sementara, Ajeng yang dikenal sebagai Web3 Content Creator, memberikan pemaparan mulai dari hal mendasar, termasuk transformasi dari Web1 sampai Web3.
Menurutnya, adanya Web3 bukan bermaksud untuk menggantikan generasi sebelumnya, melainkan lebih berfungsi memberikan nilai tambah atau solusi lebih dari yang generasi sebelumnya miliki. Sebab baginya, Web generasi terdahulu, tidak mempunyai kepemilikan penuh terhadap aset.
Dijelaskan Ajeng, terdapat empat ciri utama Web3, yaitu tidak ada otoritas tunggal seperti bank atau perusahaan besar (decentralized), transaksi dan data dapat diverifikasi publik (transparent), pengguna benar-benar memiliki aset digital (ownership), dan partisipasi pengguna dihargai melalui token ekonomi (incentive-driven).
Lebih jauh lagi, Ajeng juga menyoroti peluang nyata dalam ekosistem Web3, baginya banyak sekali kesempatan dalam berkarier di Web3.
“Peluang karier di Web3 bukan hanya dikhususkan untuk role teknologi saja, tapi juga pada skill lain misalnya membuat konten, strategi pemasaran, legal dan konsultan, serta pada jasa seperti project manager, moderator, event organizer, researcher,” ujar Ajeng.
“Web3 bukan cuma soal teknologi baru, tapi cara baru kita membangun kepercayaan, kepemilikan, dan masa depan yang lebih adil,” kata Ajeng.
Pada kesempatan tersebut, moderator diskusi, Dedi Irawan, menyimpulkan jika diskusi tersebut sangat penting dilaksanakan untuk mengurai kompleksitas, mengidentifikasi peluang nyata, dan merumuskan peta jalan partisipasi Indonesia dalam ekonomi digital masa depan yang lebih inklusif dan desentralistik.
"Dalam manfaat jangka panjang, ini mendukung transparansi hukum dan hak asasi manusia dalam hal kebebasan kepemilikan aset,” ungkap Dedi.
