Konten Media Partner
Nilai Tukar Petani Sulut di November 2025 Turun 0,61 Persen
4 Desember 2025 19:03 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Nilai Tukar Petani Sulut di November 2025 Turun 0,61 Persen
Tomat dan gabah menjadi komoditas utama yang menyebabkan penurunan Indeks Harga yang diterima Petani Sulawesi Utara di bulan November 2025. #publisherstory #manadobaciritaManado Bacirita

MANADO - Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan November 2025 alami penurunan sebesar 0,61 persen menjadi 133,42 dibandingkan dengan bulan Oktober 2025 yang bernilai 134,24.
Penurunan NTP disebabkan penurunan Indeks Harga yang diterima Petani (It) yang lebih besar dibandingkan penurunan Indeks Harga yang dibayar Petani (Ib). Nilai It di November turun sebesar 1,74 persen, sedangkan nilai Ib turun sebesar 1,14 persen.
Adapun komoditas utama yang menyebabkan Indeks Harga Terima Petani alami penurunan adalah Tomat dan Gabah. Sementara Indeks Harga Bayar Petani yang juga turun, penyumbang utamanya adalah komoditas cabai rawit dan beras.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut, Aidil Adha, menjelaskan, jika dilihat secara Year to Date (YTD) atau tahun kalender, NTP Sulut justru mengalami kenaikan sebesar 11,65 persen.
"Searah dengan itu, NTP secara Year on Year (YoY) atau tahun ke tahun juga mengalami kenaikan sebesar 14,51 persen," ujar Aidil.
Lebih lanjut, Aidil menjelaskan jika pada bulan November 2025, empat subsektor mengalami kenaikan NTP dan satu subsektor mengalami penurunan NTP.
Subsektor yang mengalami penurunan NTP yaitu subsektor Hortikultura yang turun sebesar 7,91 persen. Sementara subsektor yang mengalami kenaikan NTP yaitu subsektor Tanaman Pangan yang naik sebesar 0,96 persen; subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,89 persen, subsektor Peternakan sebesar 1,37 dan subsektor Perikanan yang naik sebesar 2,52 persen.
"Dari enam provinsi di Pulau Sulawesi, hanya dua provinsi mengalami kenaikan NTP yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,22 persen dan 0,16 persen, sementara empat lainnya mengalami penurunan dengan penurunan terbesar terjadi di Sulawesi Barat dengan penurunan sebesar 2,80 persen," ujar Aidil kembali.
