Konten Media Partner
Tumbuhan Pangan Liar, Harta Terlupakan di Hutan Nusantara
18 November 2025 19:05 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Konten Media Partner
Tumbuhan Pangan Liar, Harta Terlupakan di Hutan Nusantara
Tumbuhan pangan yang banyak ditemukan di Indonesia seperti Daun Kelor, Umbi Gembili, Buah Kemunting, memiliki kandungan nutrisi dan gizi yang menyamai Superfood. #publisherstory #manadobaciritaManado Bacirita
Penulis: Kamaluddin (Mahasiswa Program Studi Doktor Biologi UGM)

Sementara itu, gaya hidup modern yang serba cepat mendorong masyarakat beralih ke makanan instan, tinggi gula, dan rendah serat. Akibatnya, kasus obesitas, diabetes, dan hipertensi meningkat tajam, terutama di wilayah perkotaan.
Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara ketersediaan sumber pangan alami dan pola konsumsi masyarakat modern. Padahal, Nusantara memiliki kekayaan tumbuhan pangan liar yang luar biasa sebagai sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang selama berabad-abad menjadi penopang kehidupan masyarakat adat. Sayangnya, kekayaan ini perlahan terlupakan.
Indonesia termasuk salah satu negara mega biodiversitas di dunia. Kekayaan ini terlihat dari melimpahnya spesies flora dan fauna yang banyak di antaranya tidak ditemukan di wilayah lain. Beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan tropis hingga terumbu karang, menjadikan Indonesia pusat penting keanekaragaman hayati global.
Namun, sebagian besar belum dikenali secara ilmiah dan hanya dimanfaatkan oleh komunitas lokal. Hutan Indonesia sebenarnya merupakan lumbung hayati yang luar biasa kaya namun sumber pangan alternatif yang belum banyak dikembangkan.
Kandungan Gizi yang Menyamai Superfood
Banyak tumbuhan liar memiliki kandungan nutrisi setara atau bahkan lebih tinggi dibanding tanaman budidaya populer. Misalnya pada Daun Kelor, Umbi Gembili, Buah Kemunting, krokot dan daun Pegagan.
Kearifan Lokal
Bagi masyarakat adat, hutan bukan hanya tempat hidup, tapi juga dapur dan apotek alami. Masyarakat adat dalam memanfaatkan tumbuhan liar sebagai sayuran maupun bahan obat-obatan. Masyarakat Nusa Tenggara juga memanfaatkan Lontar sebagai sumber pangan dan masyarakat Papua hidup dari sagu, umbi, dan buah hutan.
Masyarakat adat memahami cara memanen tanpa merusak ekosistem, menunjukkan bahwa kearifan lokal sejatinya adalah bentuk konservasi yang hidup.
Sayangnya, arus modernisasi membuat pengetahuan ini terpinggirkan. Generasi muda kini lebih mengenal makanan kemasan daripada nama-nama tumbuhan di sekitar mereka. Jika kondisi ini dibiarkan, kita tidak hanya kehilangan sumber pangan, tetapi juga identitas ekologis.
Menjawab Krisis Pangan dan Iklim
Ketergantungan Indonesia pada bahan pangan impor seperti beras, gandum dan kedelai menjadikan sistem pangan kita rentan terhadap krisis global, padahal begitu banyak sumber pangan lokal seperti umbi, suweg, talas, dan gembili yang dapat menjadi alternatif karbohidrat lokal.
Tumbuhan pangan liar berperan penting dalam diversifikasi pangan dan ketahanan pangan Nasional, karena tumbuhan liar lebih tahan terhadap perubahan iklim dan dapat tumbuh di berbagai ekosistem.
Tantangan yang Harus Diatasi
Potensi tumbuhan liar masih belum dimanfaatkan secara maksimal karena beberapa hambatan utama. Salah satunya adalah minimnya penelitian mendalam terkait kandungan gizi, manfaat kesehatan, dan aspek keamanan konsumsinya.
Selain itu, masih terdapat stigma di masyarakat yang memandang pangan liar sebagai βmakanan kalangan bawahβ, sehingga pemanfaatannya kurang dihargai dan jarang dipromosikan. Dukungan kebijakan untuk riset serta pengembangan pangan alternatif juga masih sangat terbatas, membuat inovasi di bidang ini berjalan lambat.
Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan kolaborasi erat antara peneliti, pemerintah, dan komunitas adat agar dapat dibangun sistem dokumentasi, edukasi, serta pemanfaatan tumbuhan liar yang lebih terarah dan berkelanjutan. Dengan cara ini, kekayaan pangan lokal dapat dioptimalkan tanpa mengabaikan aspek konservasi dan pelestarian budaya.
Menuju Masa Depan Pangan Indonesia
Pada beberapa negara, tumbuhan liar justru menjadi produk unggulan. Di Jepang, sayuran liar gunung (sansai) dianggap makanan premium, di Eropa, jamur dan daun liar dijual di restoran mewah. Indonesia bisa mengambil langkah serupa dengan mempromosikan tumbuhan potensi pangan sebagai pangan lokal bernilai tinggi. Dengan inovasi pengolahan, penelitian gizi, dan dukungan pemasaran, tumbuhan liar dapat menjadi ikon pangan sehat khas Nusantara.
Saatnya Kembali ke Alam
Hutan Indonesia tidak hanya berperan sebagai paru-paru dunia, tetapi juga menjadi pusat kehidupan yang mampu menopang kebutuhan pangan jutaan orang.
Keberadaan tumbuhan pangan liar bukan sekadar peninggalan masa lampau, melainkan aset penting yang menawarkan peluang besar bagi kemandirian pangan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Dengan melindungi hutan, kita sebenarnya sedang menjaga keberlangsungan hidup generasi masa depan. Selama ini hutan telah menyediakan kita oksigen untuk bernapas, air bersih untuk dikonsumsi, dan sumber makanan yang menopang kehidupan sehari-hari.
Karena itu, sudah waktunya kita memberikan timbal balik melalui penelitian, pengelolaan yang bijak, dan peningkatan kepedulian bersama. Pada akhirnya, pangan yang benar-benar menyehatkan berakar dari alam yang dijaga dengan penuh tanggung jawab dan tetap lestari.
