Konten dari Pengguna
Sampah Abadi: Sampah yang Datang Setiap Detik
3 Desember 2025 8:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sampah Abadi: Sampah yang Datang Setiap Detik
Sampah yang terabaikan dibalik potensi masalah dan nilai pengelolaannya. Maria Laras Wati Candra Sari
Tulisan dari Maria Laras Wati Candra Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perhatian publik terhadap krisis sampah plastik memang sangat beralasan, mengingat sifatnya yang sulit terurai dan dampaknya yang luas terhadap ekosistem laut dan darat. Indonesia sendiri, menghasilkan jutaan ton sampah setiap tahunnya, dengan plastik menjadi salah satu komponen terbesar setelah sisa makanan.
Namun, di tengah fokus pada plastik, sering kali kita melupakan "sampah abadi" yang datang setiap detik, disebut juga sampah organik berupa daun gugur, yang meskipun alami, juga menimbulkan tantangan pengelolaan yang signifikan di berbagai wilayah. Meskipun berasal dari proses alamiah, akumulasi besar sampah daun di lingkungan perkotaan dan pedesaan, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memicu serangkaian konsekuensi negatif yang signifikan terhadap infrastruktur, kesehatan masyarakat, dan lingkungan secara keseluruhan.
Potensi Masalah Sampah Daun
Di alam, daun gugur adalah bagian dari siklus nutrisi alami. Di lingkungan, jutaan pohon menghasilkan volume daun yang besar setiap harinya, terutama saat musim tertentu. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sampah sisa makanan mendominasi komposisi sampah di Indonesia, mencapai lebih dari 41% pada tahun 2023, diikuti oleh plastik dan kayu/ranting. Meskipun statistik spesifik sampah daun murni sulit dipisahkan dari kategori "organik" atau "kayu/ranting", volumenya di area dengan banyak vegetasi sangatlah besar.
Jika tidak dikelola dengan baik, tumpukan sampah daun dapat menyebabkan berbagai masalah seperti penyumbatan saluran air. Di musim penghujan, daun-daun kering yang ringan mudah terbawa oleh angin dan aliran air. Mereka cenderung menumpuk di mulut saluran air, gorong-gorong, dan sistem drainase. Akumulasi ini secara efektif menciptakan sumbatan alami yang menghambat laju air hujan. Akibatnya, terjadi genangan air atau bahkan banjir lokal. Selain mengganggu mobilitas dan aktivitas sehari-hari, genangan air yang stagnan ini dengan cepat berubah menjadi sarang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), yang merupakan ancaman kesehatan serius di Indonesia.
Selain masalah infrastruktur drainase, tumpukan sampah daun yang membusuk juga menimbulkan bahaya kesehatan dan lingkungan yang lebih luas. Proses pembusukan bahan organik membutuhkan waktu dan dalam kondisi lembap, tumpukan daun menjadi habitat yang sempurna bagi berbagai hama. Tikus, kecoak, dan serangga pengganggu lainnya tertarik pada lingkungan yang kotor dan lembap ini, meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular ke area pemukiman terdekat.
Lebih jauh lagi, proses dekomposisi tersebut menghasilkan cairan yang disebut leachate (air lindi). Cairan ini bersifat asam dan kaya akan bahan organik terlarut, yang jika meresap ke dalam tanah tanpa pengolahan yang tepat, dapat mencemari air tanah dan sumber air lokal.
Ancaman lingkungan lainnya muncul dari kebiasaan membakar sampah daun untuk alasan praktis. Praktik ini melepaskan gas rumah kaca berbahaya seperti karbon dioksida dan polutan udara lainnya (misalnya, partikulat halus PM2.5), yang secara langsung memperburuk kualitas udara dan berkontribusi pada krisis perubahan iklim global.
Solusi Pengelolaan Sampah Daun
Berbeda dengan limbah plastik yang membutuhkan proses daur ulang kompleks, mahal, dan sering kali berteknologi tinggi, sampah daun menawarkan jalur solusi yang lebih sederhana, alami, dan berkelanjutan.
Salah satu solusi paling mendasar dan efektif adalah pengomposan. Proses ini memanfaatkan siklus nutrisi alami dengan mendaur ulang bahan organik kembali ke tanah. Daun gugur adalah bahan baku utama yang kaya akan karbon dan jika dicampur dengan sisa makanan atau rumput, akan terurai menjadi kompos yang subur.
Kompos yang dihasilkan berfungsi sebagai kondisioner tanah (soil conditioner) yang sangat baik, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas retensi air, dan menyediakan nutrisi esensial bagi tanaman. Penerapan kompos secara luas dapat mengurangi ketergantungan petani dan pekebun rumahan terhadap pupuk kimia sintetis, yang sering kali memiliki dampak lingkungan negatif dalam jangka panjang.
Solusi praktis lainnya yang dapat diterapkan langsung di area taman atau kebun adalah teknik mulsa (pelapis tanah). Daun kering tidak perlu diolah menjadi kompos terlebih dahulu. Mereka dapat disebarkan langsung di permukaan tanah di sekitar tanaman atau di lahan kosong. Sebagai mulsa, daun kering menjalankan fungsi ekologis vital, yaitu menjaga kelembapan tanah dengan mengurangi penguapan air, menekan pertumbuhan gulma secara alami, dan melindungi akar tanaman dari perubahan suhu ekstrem. Seiring waktu, mulsa daun akan terurai perlahan, menambahkan bahan organik secara bertahap ke dalam tanah, sehingga meningkatkan kesehatan ekosistem mikroorganisme tanah.
Pada tingkat intervensi rumah tangga yang cerdas dan berskala kecil, terdapat teknik Lubang Resapan Biopori atau penggunaan Keranjang Takakura. Metode biopori melibatkan pembuatan lubang vertikal di tanah untuk memasukkan sampah organik, termasuk daun. Aktivitas organisme di dalam lubang tersebut tidak hanya mempercepat penguraian sampah menjadi kompos alami di tempat, tetapi juga meningkatkan kemampuan tanah untuk meresapkan air hujan, yang secara langsung mengurangi risiko genangan air. Keranjang Takakura menawarkan solusi pengomposan aerobik sederhana yang cocok untuk halaman sempit atau apartemen.
Dengan mengimplementasikan solusi-solusi efektif mulai dari pengomposan sederhana, penggunaan mulsa, hingga pemanfaatan industry, kita dapat mengubah volume besar limbah harian menjadi sumber daya bernilai. Mengelola sampah organik secara bijak di sumbernya adalah langkah krusial dalam mewujudkan ekonomi sirkular (circular economy) sejati, di mana tidak ada yang terbuang sia-sia, dan setiap "masalah" lingkungan diubah menjadi "berkah" berkelanjutan.

