Konten dari Pengguna
Dari Stres ke Anxiety: Bagaimana Biopsikologi Memengaruhi Emosi Harian?
23 Oktober 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Dari Stres ke Anxiety: Bagaimana Biopsikologi Memengaruhi Emosi Harian?
Pahami bagaimana stres berubah jadi anxiety dari sudut biopsikologi. Peran kortisol, neurotransmitter, dan struktur otak dalam mengatur emosi serta cara memutus siklusnya.Maritza Nabilasari
Tulisan dari Maritza Nabilasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era modern ini, stres hampir tidak dapat dihindari dalam rutinitas harian. Mahasiswa menghadapi beragam tugas perkuliahan, tekanan lingkungan sosial, dan kegelisahan menghadapi dunia kerja. Para pekerja juga berlomba memenuhi target, sementara para orang tua berupaya keras memastikan kesejahteraan ekonomi keluarga.
Pada dasarnya, stres berfungsi sebagai alarm biologis yang mengaktifkan sistem pertahanan tubuh saat menghadapi tantangan. Namun, jika tekanan ini berlanjut secara konsisten tanpa ada kesempatan tubuh untuk memulihkan diri, kondisi tersebut berisiko berkembang menjadi gangguan kecemasan.
Gangguan ini ditunjukkan dengan pikiran yang terus khawatir, kondisi emosi yang terus menerus tegang, dan reaksi tubuh seperti kesulitan untuk tidur atau detak jantung yang tidak beraturan. Perubahan dari stres normal menjadi kecemasan klinis ini layak ditelaah melalui pendekatan biopsikologi, karena prosesnya melibatkan interaksi rumit antara faktor mental dan mekanisme biologis di sistem saraf.
Menurut Lazarus dan Folkman (1984, dikutip dalam Lumban Gaol, 2016), stres terjadi ketika seseorang menilai tuntutan lingkungan melebihi kemampuan dirinya untuk menghadapinya. Awalnya, respons ini bermanfaat karena mendorong seseorang beradaptasi. Misalnya, mahasiswa yang merasa tertekan menjelang ujian akan terdorong untuk belajar lebih giat dan mengatur waktu lebih baik.
Namun, jika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa penyelesaian, sistem biologis yang seharusnya melindungi justru mengalami gangguan fungsi. Kecemasan (anxiety) merupakan keadaan ketika tubuh terus merasa waspada dan tegang, walaupun ancaman yang memicunya sudah tidak ada.
Misalnya, setelah ujian selesai, mahasiswa masih merasa cemas dan terus memikirkan apakah hasilnya akan sesuai dengan harapannya. Penelitian membuktikan bahwa semakin lama seseorang mengalami stres, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialaminya (Konstantopoulou et al., 2020).
Salah satu sistem biologis utama yang terhubung dengan respons stres adalah sistem hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA). Stres memicu hipotalamus untuk melepaskan corticotropin releasing factor (CRF), yang merangsang kelenjar adrenal untuk menghasilkan adrenocorticotropic hormone (ACTH).
Kelenjar adrenal kemudian bereaksi terhadap hormon ini dengan melepaskan kortisol, hormon stres utama yang membantu tubuh mengatasi tekanan. Karena kortisol meningkatkan tekanan darah, gula darah, dan kewaspadaan, sehingga seseorang lebih siap untuk menangani tantangan (Daviu et al., 2019). Namun, kadar kortisol tinggi dapat berdampak buruk pada otak apabila stresor muncul terus-menerus tanpa pemulihan.
Neuron hipokampus adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas pembelajaran, pengendalian emosi, dan menenangkan diri. Penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat kortisol berlebihan merusak neuron hipokampus ini (Feng et al., 2023). Akibatnya, tubuh tidak bisa tenang dan terus merasa terancam, kemudian menimbulkan kecemasan.
Selain sistem hormon, zat kimia otak yang disebut neurotransmitter berperan menghubungkan stres dengan kecemasan. Misalnya serotonin yang berfungsi menjaga kestabilan suasana hati. Jika kadar serotonin menurun, risiko mengalami kecemasan dan depresi akan meningkat (Nursadrina, 2025).
Neurotransmiter lain seperti gamma-aminobutyric acid (GABA) berfungsi menenangkan aktivitas saraf. Saat kadar GABA berkurang, sistem saraf menjadi terlalu aktif dan memicu ketegangan, rasa cemas, atau sulit tidur. Norepinefrin yang meningkat saat stres memicu telapak tangan berkeringat, jantung berdebar, dan gelisah. Ketidakseimbangan ketiga neurotransmitter ini menjelaskan mengapa tekanan mental dapat memicu reaksi fisik nyata pada tubuh.
Stres dan kecemasan juga dipengaruhi struktur otak. Saat cemas, bagian otak bernama amygdala memproses rasa takut dan ancaman akan bekerja sangat aktif. Di sisi lain, korteks prefrontal berfungsi mengendalikan emosi dan menjaga pikiran tetap rasional dengan cara mengurangi aktivitas amygdala.
Sayangnya, stres berkepanjangan melemahkan fungsi korteks prefrontal, sehingga pengendalian terhadap emosi menjadi lemah dan amygdala lebih mendominasi perilaku kita (Daviu et al., 2019). Terdapat juga hipokampus, berfungsi membedakan situasi berbahaya dan aman. Ketika terus terpapar kortisol tinggi, hipokampus mengalami kerusakan dan kehilangan kemampuan mengenali konteks aman. Akibatnya, seseorang jadi mudah bereaksi berlebihan pada situasi sehari-hari yang sebenarnya tidak mengancam.
Perbedaan reaksi terhadap stres dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian menunjukkan seseorang dengan variasi tertentu pada gen serotonin transporter (5-HTTLPR) lebih mudah mengalami stres dan kecemasan (Ghasemi dkk., 2024). Pengalaman traumatis di masa kecil juga meninggalkan jejak biologis melalui proses epigenetik.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik mengalami perubahan cara gen bekerja, khususnya gen yang mengatur sistem HPA, membuat mereka lebih sensitif terhadap stres saat dewasa. Namun, lingkungan positif dapat membantu menurunkan respons biologis terhadap stres. Dukungan sosial, tidur berkualitas, olahraga, dan pola makan sehat terbukti efektif menurunkan dampak stres pada tubuh.
Penelitian di Indonesia membuktikan mahasiswa yang memiliki dukungan sosial kuat menunjukkan kadar kortisol lebih rendah saat menghadapi ujian daripada mereka yang merasa sendirian (Sholihat, 2025). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa stres dan kecemasan dipengaruhi oleh gabungan faktor biologis dan sosial seseorang.
Salah satu masalah di kehidupan saat ini adalah siklus berulang antara stres dan kecemasan. Penelitian Frontiers in Psychology oleh Feng dan kolega (2023) menjelaskan bagaimana stres tinggi memicu "spiral ganda ke bawah", stres membuat seseorang lebih mudah cemas, dan kecemasan memperburuk cara pandangnya terhadap stres berikutnya.
Untuk memutus siklus ini, diperlukan pendekatan yang menenangkan pikiran dan menyeimbangkan sistem biologis. Latihan relaksasi dan mindfulness terbukti menurunkan kortisol dan meningkatkan sistem saraf parasimpatis. Olahraga juga dapat meningkatkan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang memperkuat fungsi hipokampus. Selain itu,
(CBT) membantu memperkuat kontrol korteks prefrontal terhadap amigdala, sehingga seseorang mampu menghadapi stres dengan tenang.
Dari sudut pandang biopsikologi, stres dan kecemasan bukanlah persoalan mental semata, melainkan interaksi kompleks antara otak, hormon, dan lingkungan. Apabila sistem hormon stres dan jaringan otak terus bekerja berlebihan tanpa pemulihan, tubuh akan kehilangan kemampuan mempertahankan keseimbangan emosional.
Namun, sistem biologis manusia bersifat adaptif yang memungkinkan perbaikan dengan cara seperti relaksasi, tidur berkualitas, olahraga, serta dukungan sosial. Dengan memahami dasar biologis di balik emosi, kita dapat menyadari bahwa kecemasan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal tubuh yang memerlukan keseimbangan.

