Konten dari Pengguna

Konser: Ekspresi atau Kontroversi?

Siti Mariza Syahrani
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Perbandingan Mazhab Hukum
9 Desember 2025 16:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Konser: Ekspresi atau Kontroversi?
Konser musik telah berkembang menjadi fenomena budaya dan ekonomi global, didorong oleh teknologi, namun selalu dihadapkan pada dilema etika dan kontroversi terkait norma dan regulasi publik.
Siti Mariza Syahrani
Tulisan dari Siti Mariza Syahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sedang menonton konser, sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang menonton konser, sumber: freepik.com
Konser musik telah menjadi salah satu fenomena budaya yang paling signifikan dan berubah-ubah di seluruh dunia. Sejak muncul pertama kali, acara ini selalu berhasil menarik jutaan penonton, menciptakan tren sosial, bahkan mempengaruhi ekonomi secara global. Kehadirannya semakin berkembang pesat, didorong oleh kemajuan teknologi dan platform digital, yang menjadikannya bagian penting dalam kehidupan sehari-hari kita, melintasi berbagai batas geografis, usia, dan latar belakang sosial. Namun, di balik keramaian panggung dan sorakan penonton, konser juga menyimpan berbagai dilema etika dan kontroversi yang tampaknya tidak ada habisnya.
Dalam konteks sosial yang beragam, konser sering kali berada dalam posisi yang tidak jelas, memicu perdebatan hangat tentang batasan moral dan regulasi publik. Di satu sisi, konser dianggap sebagai wadah utama untuk mengekspresikan kreativitas, menjadi penghubung, dan memberikan pengalaman emosional bagi masyarakat. Di sisi lain, beberapa elemen yang terkait dengan pertunjukan, seperti lirik, cara berpakaian, hingga interaksi dengan audiens, sering kali berhadap-hadapan dengan norma-norma kesopanan dan tuntutan ketepatan dalam masyarakat tertentu.
Perdebatan tentang status hukum dan etika dari pertunjukan musik masal memiliki latar belakang yang kompleks. Di banyak komunitas yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, legalitas hiburan tidak hanya ditentukan oleh hukum negara, tetapi juga oleh ajaran agama yang dianut. Ini menyebabkan munculnya variasi dalam respons dan pandangan hukum.
Salah satu kelompok pandangan yang kuat adalah mereka yang cenderung mengizinkan konser, asalkan memenuhi standar kepatutan tertentu. Kelompok ini menyoroti bahwa musik merupakan bentuk seni yang netral. Dasar argumennya berfokus pada tujuan utama dari pertunjukan: jika tujuannya adalah untuk menghargai seni, bersantai, atau menyampaikan pesan positif, maka tidak ada larangan. Aspek hukum ditentukan oleh konten dan konteks, bukan oleh musik itu sendiri.
Di sisi lain, terdapat pandangan yang lebih ketat. Kelompok ini memiliki batasan yang jelas terhadap penyelenggaraan konser, bahkan cenderung melarangnya dalam beberapa format. Pendekatan ini umumnya berpegang pada kemungkinan bahaya dari kesenangan dunia yang berlebihan, yang dapat mengabaikan kewajiban spiritual. Mereka menginginkan pengkajian mendalam terhadap semua aspek konser, termasuk lirik, kostum, dan pemisahan penonton.
Di antara kedua pandangan ekstrem ini, ada perspektif moderat yang berusaha menjembatani perbedaan. Pandangan ini mengakui pentingnya seni dan hiburan, tetapi mengharuskan adanya batasan tegas terhadap praktik yang melanggar norma, seperti konsumsi alkohol, percampuran antargender yang berlebihan, atau pakaian yang tidak pantas. Dalam pandangan moderat ini, konser diizinkan hanya jika semua elemen yang ada disaring dan diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.
Perbedaan interpretasi ini membawa dampak langsung terhadap kebijakan publik di lapangan. Di daerah dengan pandangan konservatif, regulasi konser sangat ketat, bahkan dilarang. Sementara itu, di daerah dengan pandangan liberal, penyelenggaraan konser lebih terbuka. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk menganalisis respons pemerintah terhadap konser di berbagai belahan dunia.
Menurut saya, isu antara konser musik sebagai bentuk ekspresi dan kontroversi bukan hanya sekadar angka atau wacana yang berkembang di kalangan elit. Ini mencerminkan tantangan yang kita hadapi sehari-hari sebagai masyarakat. Hal ini mengajarkan kita satu pelajaran penting: bahwa solusi tidak akan muncul dari satu pihak saja, melainkan dari kesadaran kolektif.
Kita tidak dapat lagi bertindak dengan acuh tak acuh. Setiap tindakan kecil, mulai dari menerima perspektif yang berlainan sampai meminta peraturan yang adil dan jelas, berperan penting dalam membangun masa depan budaya kita.
Trending Now