Konten dari Pengguna

Kebebasan Berpendapat di Tengah Demokrasi yang Rapuh

Roy Martin Simamora
Dosen Filsafat Pendidikan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
8 Juni 2025 14:01 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kebebasan Berpendapat di Tengah Demokrasi yang Rapuh
Tulisan ini mengulas ancaman terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia, dengan menyoroti kasus intimidasi terhadap penulis opini sebagai cermin rapuhnya praktik demokrasi kita saat ini.
Roy Martin Simamora
Tulisan dari Roy Martin Simamora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Freedom of Speech. Sumber: istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Freedom of Speech. Sumber: istockphoto.com
Kebebasan berpendapat adalah salah satu hak dasar yang seharusnya dijunjung tinggi dalam masyarakat demokratis. Namun, apa yang dialami oleh penulis opini Detikcom, YF, justru memperlihatkan wajah kelam dari sebuah sistem yang mengaku demokratis. YF menulis sebuah opini yang menyoroti pengangkatan seorang Letnan Jenderal sebagai Direktur Jenderal Bea Cukai, yang ia nilai tidak sesuai dengan prinsip meritokrasi. Tulisan itu seharusnya menjadi ruang terbuka untuk berdiskusi secara sehat, tetapi sayangnya, justru diikuti oleh intimidasi yang mengancam keselamatan penulisnya.
Kejadian intimidasi ini terjadi dua kali dalam satu hari, yang pertama ketika YF dihampiri oleh dua orang pengendara motor yang mendorongnya hingga terjatuh, dan kedua ketika ia ditendang oleh orang tidak dikenal saat sedang membeli makan siang. Apa yang menimpa YF sungguh mencerminkan bahwa di balik kata-kata “kebebasan berpendapat” yang sering dikumandangkan, masih ada kekuatan yang lebih senang merespons kritik dengan kekerasan. Ini sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Banyak pihak kemudian menyampaikan pernyataan untuk meredam kekhawatiran publik. Pemerintah menyatakan tidak anti kritik, dan TNI melalui juru bicaranya pun menolak terlibat dalam intimidasi ini. Namun, semua pernyataan tersebut seakan-akan hanya menjadi basa-basi politik belaka. Apa yang dialami YF adalah fakta nyata bahwa masih ada ruang gelap di negeri ini: kebebasan berpendapat tidak dilindungi, bahkan dibungkam melalui teror fisik yang nyata.
Memang, musuh terbesar kebebasan adalah kebodohan yang terorganisir. Dalam kasus ini, kita melihat bagaimana upaya untuk meredam kritik tidak dilakukan melalui argumen yang lebih rasional, tetapi dengan cara-cara kekerasan yang mengancam nyawa. Padahal, dalam sebuah masyarakat yang beradab, setiap kritik seharusnya dijawab dengan dialog terbuka, bukan dengan intimidasi.
Apa yang terjadi juga memperlihatkan bahwa media, yang seharusnya menjadi benteng kebebasan berpendapat, seringkali berada di bawah tekanan. Awalnya, Detikcom menyatakan penghapusan artikel YF adalah rekomendasi Dewan Pers. Namun kemudian, pernyataan itu berubah: ternyata penghapusan dilakukan demi keselamatan penulis sendiri. Tampak bahwa bahkan media pun akhirnya terpaksa tunduk pada rasa takut, bukan pada keberanian untuk mempertahankan kebenaran.
Saya kira, kebenaran hanya akan bertahan jika orang-orang memiliki kebebasan untuk menyatakannya tanpa rasa takut. Sebaliknya, ketika intimidasi muncul, maka kebenaran pun ikut mati pelan-pelan. Apa yang menimpa YF adalah contoh nyata betapa mudahnya kebebasan itu direnggut ketika ada kepentingan yang merasa terganggu. Dan ketika kebebasan berpendapat direnggut, maka demokrasi pun hanya menjadi slogan kosong.
Sangat disayangkan bahwa intimidasi ini terjadi pada seorang penulis opini, yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang dan dijunjung tinggi oleh pemerintah. Kalau kritik yang disampaikan oleh seorang warga biasa saja sudah cukup untuk memicu kekerasan, maka apa yang bisa kita harapkan dari kebebasan berekspresi di negeri ini? Apakah kita hanya boleh berbicara sepanjang sesuai dengan narasi yang disetujui oleh penguasa?
Sekarang ini, menurut saya, berpikir kritis dan tidak menyerah pada tekanan sangatlah penting. Dalam kasus ini, kita belajar bahwa berpikir kritis memang tidak selalu mudah, apalagi jika nyawa yang menjadi taruhannya. Namun, justru itulah sebabnya perlindungan terhadap mereka yang berani berbicara menjadi begitu penting. Negara yang sehat adalah negara yang melindungi warga yang bersuara kritis, bukan yang membiarkannya menjadi korban intimidasi.
Pemerintah dan aparat seharusnya tidak sekadar memberikan pernyataan normatif bahwa mereka “tidak anti kritik.” Tindakan nyata jauh lebih penting: memastikan bahwa orang-orang seperti YF aman dan bebas dari ancaman. Jika tidak, maka seluruh rakyat akan belajar bahwa diam adalah satu-satunya cara selamat. Dan inilah bibit dari masyarakat yang penuh kepalsuan dan ketakutan.
Lebih jauh lagi, kejadian ini adalah peringatan bagi kita semua. Kebebasan berpendapat bukan hanya urusan wartawan atau penulis opini, tetapi hak yang menjadi dasar bagi semua orang. Jika satu suara dibungkam dengan kekerasan, maka hari esok mungkin suara kita sendiri yang akan dibungkam. Ini bukan sekadar soal YF, tetapi soal masa depan kebebasan di negeri ini.
Kita harus berani mengakui bahwa intimidasi terhadap penulis opini ini adalah aib bagi demokrasi. Ini adalah cermin bahwa masih banyak orang yang belum siap menerima kritik. Saya percaya bahwa kebenaran tidak pernah lahir dari paksaan, tetapi dari keberanian untuk terus berpikir dan berdialog. Dan intimidasi hanya menunjukkan bahwa mereka yang melakukannya tidak memiliki keyakinan pada kebenaran yang mereka yakini.
Kasus ini seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah dan seluruh lembaga yang mengaku menghormati demokrasi. Perlindungan terhadap kebebasan berpendapat tidak cukup hanya lewat kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah kepura-puraan dan slogan-slogan kosong yang menutupi wajah asli kekuasaan.
Pada akhirnya, kita semua punya tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan kekerasan ini menjadi hal biasa. Kita harus tetap menyuarakan bahwa kebebasan berpendapat adalah hak semua orang, dan setiap bentuk intimidasi harus dilawan. Kebebasan bukan hadiah dari mereka yang berkuasa, tetapi hak yang harus kita perjuangkan bersama-sama.
Dan bagi YF, serta semua orang yang pernah mengalami hal serupa, keberanian mereka adalah cahaya kecil yang mengingatkan kita bahwa akal sehat dan kebenaran masih hidup. Kita hanya perlu memastikan bahwa cahaya itu tidak pernah padam, meski diancam oleh kegelapan yang mencoba menelannya.(*)
Trending Now