Konten dari Pengguna
Dari Ponorogo ke UNESCO: bagaimana Reog Menjadi Alat Diplomasi Budaya Indonesia.
3 Desember 2025 15:00 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Dari Ponorogo ke UNESCO: bagaimana Reog Menjadi Alat Diplomasi Budaya Indonesia.
Reog Ponorogo diakui UNESCO (3 Des 2024) sebagai WBTB ke-14 Indonesia. Melalui pertunjukan global, Reog sukses jadi alat diplomasi budaya yang memperkuat hubungan dan identitas bangsa. Ashma Ulinnuha Pambudi
Tulisan dari Ashma Ulinnuha Pambudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gerak, langkah, dan irama dipadu dengan rasa yang diwujudkan oleh Singo Barong, Bujang Ganong, Klono Sewandono, Warok, dan Jathil menghadirkan penampilan Reog yang sangat memukau. Penampilan ini memanjakan mata siapa pun yang melihatnya, karena masing-masing tokohnya memainkan peran yang berbeda. Tidak hanya itu, Reog juga menampilkan kisah yang menarik, sehingga membuat penonton mudah memahami alur cerita Reog secara utuh.

Beberapa penampilan Reog di luar negeri dapat kita lihat di berbagai pementasan seni budaya internasional, seperti: Festival Tari Internasional Daegu, Korea Selatan pada 9-12 Mei 2025 (DetikTravel, 2025), WOW Indonesia Festival, Washington D.C., Amerika Serikat pada 25 Agustus 2024 (Ponorogo News, 2024), dan Indonesian Japan Friendship, Taman Yoyogi, Jepang pada 19 Oktober 2025 (Portal Kemlu, 2025).
Berbagai pertunjukan inilah yang menjadi bukti bahwa Reog diakui sebagai warisan seni budaya Indonesia yang dapat diterima dengan baik di kancah internasional dan mampu menciptakan diplomasi seni dan budaya antarnegara. Hal ini juga diperkuat dengan masuknya Reog ke dalam United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ke-14 dari Indonesia pada 3 Desember 2024 (Portal Kemlu, 2025).
Diplomasi budaya ini dapat terjadi karena dapat meningkatkan hubungan kerja sama antara dunia internasional dengan Indonesia. Penyebab kerja sama ini muncul antara lain, meningkatnya wisatawan dan turis di berbagai negara yang mengadakan festival, berkembangnya pengetahuan seni budaya internasional, pengaruh festival dalam peningkatan ekonomi lokal, dan memperkuat hubungan bilateral antarnegara.
Selain itu, Reog juga menjadi ciri identitas bangsa yang sangat melekat, terutama penggunaan alat musik tradisional yang mengiringi setiap gerakannya, sehingga menghadirkan suasana penuh nuansa seni dan suara merdu khas Indonesia. Tentu hal ini sangat menguntungkan bagi para pecinta seni dan seniman dari berbagai negara, karena mereka dapat melihat dan menikmati pementasan Reog di negara mereka tanpa harus datang ke Indonesia.
Dengan demikian, dapat kita ketahui bersama bahwa masuknya Reog ke dalam United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tidak hanya menjadikannya sebagai seni tari daerah yang diakui berasal dari Indonesia, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap diplomasi budaya dan kepentingan antarnegara yang bekerja sama. Hal ini menjadikan pengakuan UNESCO sebagai modal awal yang sah untuk terus melangkah dan berkembang. Hal serupa juga disampaikan oleh Duta Besar Tetap RI untuk UNESCO Mohamad Oemar, "Pengakuan ini tidak hanya menonjolkan pentingnya seni Reog tetapi juga menegaskan komitmen untuk melestarikan identitas budaya Indonesia bagi generasi mendatangβ (Portal Kemlu, 2024).
Dengan adanya soft diplomacy ini, menjadikan Indonesia sebagai negara yang diakui memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dengan berbagai keindahan di setiap penampilannya. Hal ini semakin menguatkan posisi Indonesia dalam dunia internasional sebagai negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang masih terjaga.

