Konten dari Pengguna

AI SAMPAH

Mataharitimoer

Mataharitimoer

penulis, blogger, aktivis literasi digital

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ini orang beneran atau AI?"

​Pertanyaan meluncur saat seorang kawan melihat video buatan saya. Isinya sebuah kritik untuk pejabat publik yang perilakunya makin hari makin halu. Begitu saya jawab bahwa video itu adalah hasil generate AI, suasana mendadak dingin. Pujian yang tadi sempat menggantung di udara mendadak menguap, berganti cibiran. Dia tidak bisa terima sebuah karya lahir dari kecerdasan buatan.

​Di matanya, karya yang saya riset dengan teliti, narasi yang saya susun dengan hati-hati, dan visualnya saya rancang agar pesannya menghujam, seketika berubah jadi sampah hanya karena ada olahan AI.

​Saya mengerti dengan sikapnya. Memang kita sudah terlalu sering dijejali dengan konten AI yang terasa dangkal, seperti foto bersama pesohor, video rekayasa yang menunjukkan kita ada di mana-mana, hingga visual yang memanipulasi realitas. Konten-konten seperti itulah yang membuat saya memahami, mengapa kawan saya merasa muak terhadap segala hal yang berbau AI.

​Namun sebelum kita terburu-buru menghakimi karya olahan AI sebagai sampah, ada realitas pahit yang jarang terlihat dari balik meja kerja yang nyaman atau ruang kuliah yang mentereng.

​Bagi banyak orang, teknologi mungkin sekadar hobi atau mainan baru. Bagi saya, teknologi adalah tali penyelamat. Saya teringat masa-masa sulit dulu. Saya tumbuh sebagai orang miskin yang bahkan tak sanggup menebus ijazah SMA. Bagi saya, ijazah itu barang mewah. Apalagi ruang kuliah. Kalau saya tidak kenal teknologi, kalau saya tidak nekat menjadi otodidak dengan berburu buku dan majalah bekas di emperan Kwitang, kalau saya tidak penasaran dengan baris perintah DOS (Disc Operating System) di pusat layanan pengetikan di perempatan Matraman, mungkin hari ini saya masih nongkrong di terminal atau pasar, entah jadi preman, atau entah menjadi apa pun yang lebih kelam.

​Bagi mereka yang lahir dengan privilese, teknologi mungkin terasa sebagai ancaman terhadap eksklusivitas. Namun bagi orang seperti saya, teknologi adalah tali tambang yang dilemparkan ke dasar sumur ketidakmungkinan agar saya bisa memanjat keluar.

​Banyak orang bicara soal kemurnian seni. Seolah-olah seni hanya milik mereka yang mampu membeli kamera mahal, menyewa studio musik, atau mereka yang sanggup membayar uang pangkal sekolah desain atau sekolah musik yang harganya selangit. Mereka bilang AI adalah jalan pintas buat orang tidak kreatif, buat orang malas. Malas kayak mana?

​Ketika saya menggubah lagu melalui Suno dari kumpulan puisi saya sendiri, itu bukan karena saya enggan memetik gitar. Juga tak berniat membunuh para musisi. Saya lakukan itu karena tidak punya uang untuk membayar musisi dan menyewa studio rekaman. Saya sadar bahwa lagu-lagu yang saya buat tidak akan mematikan para musisi sebab bagaimanapun mereka dilahirkan sebagai musisi yang karyanya pun saya kagumi. Popularitas mereka tak akan tersaingi oleh AI. Saya yakin banget tentang ini. Saya jelas akan tetap menikmati The Beatles, Koesplus, Stones, Metallica, Nirvana, Rhoma Irama, Iwan Fals, Blackbrothers, dan Waljinah meskipun ada saja orang yang membuat versi AI-nya.

Ketika saya membantu branding ibu-ibu pengusaha UMKM menggunakan bantuan AI, itu bukan karena saya ingin mematikan profesi fotografer dan videografer, tetapi karena pengusaha mikro itu memang mustahil sanggup membayar jasa fotografer atau videografer profesional.

​Apakah salah jika mereka yang memiliki keterbatasan, ingin juga memiliki karya yang layak? ingin juga bersuara dengan kualitas visual setara dengan mereka yang modalnya tak berseri?

​Jiwa itu ada di kepala, bukan di mesin.

​AI cuma alat, kawan. Sama seperti mesin tik, kamera digital, atau Photoshop. Mesin tidak punya amarah. Mesin tidak punya kegelisahan soal rakyat yang tercekik kebijakan. AI tak punya kepedulian terhadap korban bencana Sumatra. Saya, manusia yang punya luka dan pengalaman hidup, adalah orang yang memasukkan "jiwa" itu ke dalam baris perintah di layar laptop maupun smartphone.

​AI tidak tiba-tiba menciptakan kritik sosial sendirian. Dia butuh keresahan saya. Dia butuh riset saya. Dia butuh esai dan buku yang saya tulis untuk memandu logikanya. Tanpa manusia di belakangnya, AI hanyalah tumpukan kode yang bisu dan tuli.

​Jadi jika ada yang bilang karya AI itu tak punya jiwa, mungkin mereka lupa bahwa jiwa sebuah karya terletak pada pesannya, bukan pada alatnya.

​Dunia sedang bergerak. Ketakutan terhadap teknologi baru jangan-jangan hanyalah ketakutan akan hilangnya sekat-sekat eksklusivitas. AI memang alat yang kuat, tetapi di tangan orang yang tepat, orang-orang yang tumbuh dari kerasnya jalanan dan terbatasnya akses, AI bisa menjadi alat perlawanan dan instrumen perjuangan kelas.

​Sebelum Anda meludah pada karya AI, tanyakanlah pada diri sendiri: Apakah Anda sedang membela kemurnian seni, atau sebenarnya sedang merendahkan mereka yang hanya punya teknologi sebagai cara untuk aktualisasi diri? Apakah AI inklusif hanya untuk teman disabilitas?

​Saya menggunakan AI untuk menggenapkan kegelisahan di kepala, membantu sesama, dan memastikan suara saya tetap terdengar meski tak punya gelar. Jika bagi Anda apa yang saya buat tetap dianggap sampah, silakan. Namun bagi saya, AI adalah cara saya merayakan martabat sebagai manusia yang menolak kalah oleh keadaan, menolak tunduk pada negara yang gemar merusak hutan dan membunuh ribuan rakyatnya.

Trending Now