Konten dari Pengguna
Literasi AI Nirempati
1 Januari 2026 21:10 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Literasi AI Nirempati
Canggih di AI, tapi lumpuh empati? Literasi digital gagal jika cuma mengajarkan prompting, tapi abai korban deepfake. Kekerasan seksual bukan "iseng". Lawan normalisasi!Mataharitimoer
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rupanya kita masih dalam euforia kecerdasan artifisial. Platform Artificial Intelligence (AI) dipuja sebagai super tools yang mampu melakukan segalanya. Ruang diskusi publik penuh dengan perdebatan mengenai masa depan karier para desainer, musisi, hingga videografer yang merasa terancam oleh kemudahan AI. Media sosial dipenuhi dengan konten-konten buatan AI. Mulai dari yang biasa saja, menghibur, edukatif, sampai yang lebay dan unfaedah. Para aktivis literasi digital pun banyak yang sibuk keliling kota, mengajarkan cara membuat prompt yang efektif demi mendukung produktivitas usaha dan pekerjaan.

Namun di balik kegaduhan merayakan kemudahan itu, ada kegelapan yang mengerikan. Sementara kita sibuk mengajar cara memanfaatkan AI, kita abai pada mereka yang "diterkam" oleh penjahat yang menggunakan AI.
AI di tangan mereka yang nirempati, menjelma menjadi senjata pemusnah martabat. Kasus yang menimpa 37 mahasiswi di Universitas Udayana, Bali, adalah pengingat yang pedih. Seorang mahasiswa tega menyunting foto wajah rekan-rekannya menggunakan bot AI untuk diubah menjadi konten vulgar. Begitu pula dengan skandal di Semarang, di mana puluhan siswi hingga guru menjadi korban deepfake pornografi yang disebar dengan buas.
Tragedi ini mengungkap celah dalam narasi literasi digital kita selama ini.
Mungkin kita terlalu fokus menjalankan program literasi, namun buta terhadap kemanusiaan. Para penggiat literasi digital dan pemangku kebijakan tampak gagap, atau mungkin enggan melihat bahwa di balik skor literasi digital yang meningkat, terdapat kejahatan yang leluasa menyebar melalui layar ponsel.
Lebih menyedihkan lagi adalah sikap para pihak yang punya otoritas namun memilih untuk menormalisasi kekerasan. Ada saja yang menyebut serangan terhadap kehormatan tubuh sebagai sekadar "kenakalan remaja" atau "keisengan" belaka. Ini pun berlaku untuk kasus lainnya seperti perundungan. Ingat tulisan saya tentang hal ini.
Kita mestinya sepakat bahwa normalisasi adalah bentuk partisipasi dalam kejahatan. Ketika sekolah, universitas, atau aparat tidak menindaklanjuti kasus-kasus kekerasan dengan keseriusan penuh, atau membiarkannya menguap sebagai sanksi etik internal tanpa perlindungan hukum yang kuat, mereka sebenarnya sedang memberikan ruang lapang bagi kekerasan untuk terus tumbuh.
Wahai para pemilik otoritas, menghancurkan mental dan masa depan korban dengan kekerasan apapun, tidak bisa dianggap sebagai keisengan belaka, meskipun dilakukan oleh pelajar Sekolah Dasar!
Sudah saatnya kita mengubah arah. Literasi digital jangan hanya menjadi program seremonial untuk mencapai KPI saja. Dengan anggaran yang melimpah, jadikan program literasi digital sebagai pendidikan tentang batasan etika dan harga diri manusia. Sekolah, orang tua, dan negara tidak boleh lagi bersembunyi di balik dalih "tidak tahu" atau "gagap teknologi" untuk menghindari tanggung jawab moral mereka.
Di tengah kepungan algoritma yang makin liar, jangan biarkan para korban berjalan sendirian. Jika Anda, atau siapa pun di sekitar Anda, menjadi sasaran penyalahgunaan teknologi ini, laporkan segera. Anda bisa melaporkan ke mana saja. Polisi, Kementerian, Lembaga Negara, dan Organisasi Masyarakat Sipil. Kawan-kawan di SAFEnet juga menyediakan ruang untuk bersuara dan mencari keadilan. Jangan diam, karena diam sama saja membiarkan pelaku kekerasan leluasa mencari mangsa baru.
Adukan kasus Anda melalui:
Laman: stopkbgo.id atau aduan.safenet.or.id
Telegram: @LaporKBGO
Email: [email protected]

