Konten dari Pengguna

Meremehkan Orang Pakai ChatGPT

Mataharitimoer
penulis, blogger, aktivis literasi digital
21 Oktober 2025 6:15 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Meremehkan Orang Pakai ChatGPT
Sama-sama pakai ChatGPT, kenapa ada yang dicemooh dan ada yang dipuji? Artikel ini bongkar bedanya: apakah kamu pakai AI buat tampil pintar, atau buat benar-benar membantu pekerjaan?
Mataharitimoer
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam sebuah pertemuan, ada seseorang yang mempresentasikan ide kerjanya. Slaidnya menarik, rapi, dan cara dia menjelaskannya meyakinkan. Meskipun saya tahu sebagian materinya mungkin dibantu AI, hal itu tidak menjadi masalah. Bagi saya, dia memahami apa yang dia sampaikan, mengerti konteks yang dibahas, dan itu yang terpenting.
Meremehkan Orang Pakai ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Hingga akhirnya, salah seorang berkomentar dengan nada meremehkan, โ€œSlaid kamu isinya sama kayak ChatGPT saya.โ€
Ruangan mendadak terasa dingin.
Reaksi orang memang berbeda-beda saat menyikapi individu yang memanfaatkan AI untuk menunjang pekerjaannya. Dalam psikologi sosial, reaksi seperti itu dikenal sebagai threat to self-concept, atau ancaman terhadap identitas diri.
Individu yang terbiasa merasa โ€œpaling tahuโ€ dapat merasa terganggu saat teknologi memungkinkan orang lain tampil seolah memiliki kompetensi yang sama dengannya. Mereka merasa status dan prestisenya terancam. Maka muncul mekanisme pertahanan diri dengan merendahkan hasil kerja seseorang yang memanfaatkan AI.
Padahal yang sebenarnya mereka takuti bukan AI, melainkan rasa kehilangan posisi dominan. Mereka belum menyadari bahwa AI menjadikan akses terhadap pengetahuan terbuka, cepat, dan demokratis.
Ironisnya, orang-orang seperti itu sebenarnya juga menggunakan AI secara diam-diam. Bukan untuk belajar bersama, tetapi untuk menegaskan superioritasnya. Mereka membuka ChatGPT dulu sebelum rapat, mencari kalimat keren atau istilah teknis agar terlihat paling mengerti. Namun begitu ada orang lain yang juga menggunakan AI secara terbuka dan kreatif, malah dicemooh seolah tidak orisinal. Padahal, bedanya hanya pada niat: satu pihak menggunakan AI untuk tampil pintar, pihak lain menggunakannya untuk benar-benar membantu pekerjaan.
Dalam konteks tim kerja, terdapat Pemimpin Adaptif dan Pemimpin Defensif. Pemimpin Adaptif memahami bahwa AI adalah teman berpikir. Mereka bertanya dengan rasa ingin tahu, bukan dengan nada curiga.
โ€œKamu pakai ChatGPT ya? Coba ceritakan bagaimana kamu mengolah hasilnya sampai menjadi sebagus ini!โ€
Mereka tahu, kemampuan penting hari ini bukan sekadar bisa menulis dari nol, tetapi bisa mengkurasi, menginterpretasi, dan memanusiakan hasil mesin.
Sebaliknya, Pemimpin Defensif cenderung bereaksi dengan sikap meremehkan. Bukan karena AI itu buruk, tetapi karena mereka belum berdamai dengan perubahan yang menghapus batas antara โ€œyang ahliโ€ dan โ€œyang belajar cepat.โ€
Mereka sering berkata, โ€œAh, paling itu hasil ChatGPT.โ€ Padahal, mereka sendiri belum pernah menggunakannya secara serius, atau bahkan ikut menggunakannya agar terkesan lebih pintar di depan sirkelnya yang buta AI.
Dalam manajemen, hal ini disebut status threat, rasa takut kehilangan pengaruh karena dunia tak lagi bergantung pada otoritas lama. Tim yang dipimpin oleh pemimpin defensif bisa menjadi stagnan, takut bereksperimen, takut salah, dan takut tumbuh. Padahal di era AI, yang kita butuhkan justru keberanian untuk terus belajar tanpa gengsi.
Pernyataan, "Slaid kamu isinya sama kayak ChatGPT saya." membawa kita pada pertanyaan mendasar: Mungkinkah hasil AI dari dua orang bisa benar-benar sama?
Jawabannya tentu tidak. Karena ChatGPT bukan mesin fotokopi, tetapi refleksi dari cara seseorang bertanya, berpikir, dan mengolah gagasan. Kalimat yang keluar dari ChatGPT seseorang adalah cermin dari kualitas pikirannya sendiri. Kalau hasilnya mirip, mungkin bukan karena AI-nya sama, tetapi karena cara berpikir mereka yang belum cukup berbeda.
Trending Now