Konten dari Pengguna
NGO Dasteran
13 Desember 2025 14:26 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
NGO Dasteran
NGO ibarat daster: santai tapi rentan. Konflik dipendam atas nama "kekeluargaan" malah jadi racun. NGO sehat itu yang berani "menjahit" masalah, bukan cuma bayar kedamaian biar drama kelar.Mataharitimoer
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Organisasi non-profit, atau NGO (baca: Enjio), kadang mirip daster emak-emak. Kelihatannya santai, longgar, dan niat awalnya memang biar nyaman dipakai. Tapi ingat, bahannya sering kali tipis. Sekali ada sobekan kecil, entah itu gosip, ego, iri jabatan, atau drama personal, kalau tidak segera diambilkan benang dan dijahit, sobekannya pasti melebar.

Biasanya dimulai dari bisik-bisik sederhana. "Eh, kok dia terus yang ke lapangan, ya?" atau "Kok keputusan diambil sepihak?" lalu keluhan lelah "Gue capek tapi nggak diapresiasi." sampai bisikan, “Eh, lu tau gak? Jangan bilang-bilang ya…” Dan setiap sirkel dalam tubuh Enjio pun hidup dalam ghibahnya masing-masing.
Masalahnya, karena budaya di banyak Enjio sering terjebak dalam romantisme "kita adalah keluarga", konflik-konflik itu tabu dibahas terang-terangan. Semua dipendam atas nama harmoni semu.
Edgar Schein, "mbah"-nya teori budaya organisasi, sudah lama mengingatkan: konflik yang tidak dikelola tidak pernah hilang. Ia cuma berganti wujud. Schein menekankan bahwa asumsi-asumsi dasar yang tidak dibicarakan akan menjadi racun yang mengendap. Di kita, endapan itu jadi sindiran di grup WhatsApp, friksi pasif, dan kubu-kubuan.
Akhirnya apa?
Program kerja mungkin masih jalan, laporan masih terkirim, tapi hatinya sudah tidak lagi berangkat bersama. Aktivisme berubah jadi sekadar performa.
Situasinya jadi serba salah. Yang vokal menyuarakan keresahan sering kali dicap toksik dan dianggap perusak suasana. Sementara yang diam cari aman dianggap "paling dewasa". Ada juga yang jago drama. Tipe-tipe manusia yang merasa "si paling kerja", "si paling mental illness", "si paling menderita", sampai "si paling menuntut hak". Ironisnya, menuntut hak sambil menginjak hak orang lain yang bukan sirkelnya.
Kekacauan ini diperparah oleh respons manajemen yang pragmatis, atau lebih tepatnya, putus asa. Alih-alih menegakkan aturan, pengelola organisasi akhirnya memilih jalan pintas. Tuntutan uang atau fee dari anggota dipenuhi bukan karena hitungan SOP yang rasional, tapi murni karena pengurusnya menyerah menghadapi drama yang tak berkesudahan. "Sudah, kasih saja biar kelar," jadi solusi pamungkas.
Miris. Kedamaian dibayar, bukan diciptakan.
Daster kian robek parah. Bukan karena niat awalnya jelek, tapi karena kita tidak pernah diajarkan cara merawatnya saat ada sobekan.
Pelajarannya mungkin pahit, tapi penting untuk disadari. NGO yang sehat bukanlah yang bebas konflik. Organisasi yang sehat adalah yang punya jarum, benang, dan keberanian untuk menjahit sobekan sebelum kainnya koyak tak berbentuk.
Karena kalau tidak, ya siap-siap saja. Organisasinya masih ada, tapi tinggal labelnya doang. Isinya cuma ghibah dan drama. Dan justifikasi yang dibalut kata-kata bijak demi memuaskan drama yang tak berkesudahan.
Mending bubar saja!

