Konten dari Pengguna

Pemimpin Harus Berani Berhenti Memimpin

Mataharitimoer
penulis, blogger, aktivis literasi digital
27 November 2025 20:43 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pemimpin Harus Berani Berhenti Memimpin
Awalnya pemimpin serba bisa, lama-lama jadi penghambat. Superman Complex bikin organisasi bergantung figur. Resepnya: Nose In, Hands Out. Bangun sistem, kasih ruang salah, lahir penerus. System Based!
Mataharitimoer
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam siklus hidup organisasi, baik itu perusahaan maupun lembaga nirlaba, terdapat sebuah paradoks kepemimpinan yang sering kali luput dari perhatian. Pada masa-masa awal perintisan, keberhasilan sebuah lembaga memang sangat bergantung pada sosok pendiri atau pemimpin yang serba bisa, mereka yang rela mengerjakan segala hal dari visi strategis hingga teknis operasional. Namun seiring berjalannya waktu, dedikasi yang sama yang membesarkan organisasi tersebut justru bisa berubah menjadi penghambat terbesar bagi pertumbuhan organisasi.
Tantangan terberat bagi para pemimpin senior bukanlah bagaimana cara bekerja lebih keras, melainkan bagaimana menahan diri untuk tidak lagi mengerjakan apa yang dulu biasa mereka kerjakan.
Fenomena ini sering kali berakar pada kondisi psikologis yang dikenal sebagai Superman Complex. Ini adalah sebuah ilusi di mana seorang pemimpin merasa bahwa dirinya tak tergantikan. Ada bisikan halus dalam benak mereka yang mengatakan bahwa jika mereka tidak turun tangan langsung, maka standar kualitas tidak akan tercapai, atau lebih buruk lagi, segalanya akan berantakan.
Di permukaan, sikap ini sering kali dibungkus dengan narasi pengorbanan dan dedikasi total. Namun jika ditelaah lebih dalam, keengganan untuk melepaskan kendali teknis ini sering kali merupakan manifestasi dari ketidakpercayaan terhadap sistem yang mereka bangun sendiri. Pemimpin tipe ini menjebak organisasinya dalam model figure-based, di mana keberlangsungan lembaga sepenuhnya bergantung pada keberadaan fisik dan karisma satu orang, bukan pada kekuatan sistem yang mandiri.
Dampak paling merusak dari mentalitas ini adalah munculnya praktik manajemen mikro atau micromanaging yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya duduk di kursi pengawas atau penasihat. Ketika seorang tokoh senior memutuskan untuk merangkap jabatan di level eksekusi teknis, mereka tanpa sadar sedang mematikan ruang tumbuh bagi generasi penerus.
Kehadiran sosok senior yang terlalu dominan di ranah operasional menciptakan "langit-langit kaca" bagi staf junior. Generasi muda menjadi enggan mengambil inisiatif atau mengambil risiko kreatif karena mereka tahu pada akhirnya keputusan mereka akan dikoreksi atau diambil alih. Akibatnya organisasi gagal melakukan kaderisasi. Alih-alih mencetak pemimpin-pemimpin baru yang tangguh, organisasi tersebut hanya menghasilkan pengikut-pengikut yang pasif dan selalu menunggu instruksi.
Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan transformasi pola pikir menuju organisasi yang berbasis sistem atau system-based. Dalam model ini, kekuatan organisasi tidak lagi terletak pada siapa yang memimpin, melainkan pada keandalan prosedur, budaya kerja, dan distribusi wewenang yang jelas.
ilustrasi dibuat dengan AI
Transisi ini menuntut pemimpin senior untuk memeluk filosofi tata kelola yang disebut Nose In, Hands Out. Filosofi ini mengajarkan bahwa seorang pengawas atau penasihat harus memiliki "penciuman" yang tajam untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam organisasi, mampu mendeteksi masalah, dan memastikan nilai-nilai strategis tetap terjaga. Namun, pada saat yang sama, mereka harus menjaga "tangan" mereka tetap berada di luar, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak ikut campur mengaduk-aduk dapur operasional.
Menerapkan prinsip ini membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar bekerja keras. Dibutuhkan keberanian untuk memberikan kepercayaan penuh, yang artinya juga memberikan ruang bagi tim manajemen untuk melakukan kesalahan.
Kesalahan-kesalahan operasional yang dilakukan oleh generasi muda bukanlah tanda kegagalan, melainkan biaya investasi yang harus dibayar untuk pembelajaran dan pendewasaan mereka. Jika senior terus menjadi "bumper" yang melindungi organisasi dari setiap potensi kesalahan kecil, maka tim tidak akan pernah memiliki rasa kepemilikan atau ownership yang sejati terhadap pekerjaan mereka.
Percayalah, kehormatan terbesar seorang pemimpin bukan pada seberapa lama ia mampu mempertahankan jabatannya atau seberapa sempurna ia mengeksekusi sebuah program teknis. Kehormatan sesungguhnya adalah ketika ia berhasil membangun sebuah ekosistem yang tetap berjalan prima meski ia tidak lagi ada di sana. Seorang pemimpin sejati (bukan fake leader) adalah mereka yang sadar bahwa tugas akhirnya adalah membuat dirinya sendiri menjadi tidak diperlukan lagi dalam rutinitas harian, sehingga tongkat estafet dapat berpindah tangan dengan mulus, memastikan organisasi terus hidup melampaui usia para pendirinya. Pemimpin sejati selalu siap pergi.
Trending Now