Konten dari Pengguna

Pilih Asu, Segawon atau Anying?

Mataharitimoer
penulis, blogger, aktivis literasi digital
9 November 2025 17:14 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pilih Asu, Segawon atau Anying?
Pilih Asu, Segawon, atau Anying? Tulisan ini membahas kenapa makian bisa jadi tanda keakraban, sementara kesantunan seringkali 'fake'. Wajib baca!
Mataharitimoer
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di gerbong kereta, kulihat tiga pemuda berbincang akrab. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka terdengar seolah pertengkaran. Sesekali melengking "Asu!", sesekali menyalak "Anjing!". Di sebuah stasiun, naik teman mereka. Salah satu di antara yang seperjalanan denganku, menyapa, β€œEh, Si Anjing jalan juga, lu!”
Saat kutatap mereka, tawa justru meledak. Tangan saling meninju, bahu saling merangkul, melanjutkan canda seakan gerbong ini panggung milik mereka semata.
gambar hasil generate AI
zoom-in-whitePerbesar
gambar hasil generate AI
Aku yang mendengar justru tersenyum. Aku paham. Itu bukan sumpah serapah. Itu adalah bahasa keakraban. Mereka bercengkerama dalam bahasa yang hanya terbuka bagi sirkel yang saling percaya. Sebuah dialek yang terdengar kasar di telinga, namun terasa hangat di dada. Mungkin ahli bahasa menyebutnya linguistic intimacy, sebuah bentuk komunikasi di mana makian justru beralih fungsi menjadi pengikat relasi.
Di Bandung biasa banget kita temukan "Anjir", di Surabaya lazim mendengar "Jiancuk", di Jogja terdengar "Asu", di Betawi ada "Bangke", dan di kota lain, bisa jadi juga punya kata yang termasuk dalam Linguistic Intimacy. Semua serapah itu menyimpan roh yang sama yaitu sebuah keintiman yang telanjang, yang jujur tanpa perlu polesan. nggak fake, kalau kata si Ami, teman saya.
Kenapa Ami menyebut fake? Nah, ini sebuah realitas lain yang boleh jadi kita temukan juga. Kita sering menyaksikannya di dunia kerja yang kaku atau di panggung politik yang licin. Di sana, bahasa yang terpoles santun justru menjadi senjata. Gestur tertata penuh hormat, kata-kata manis meluncur dari mulut laksana madu.
Padahal, semua itu hanyalah fake. Topeng yang indah.
Di balik layar, di belakang punggung, lidah yang sama lihai itu menyebar kebencian. Tangan yang tadi menyembah, kini sibuk menggali lubang. Mereka saling menusuk dalam bisikan yang paling sopan, saling menghancurkan dengan pujian yang paling tinggi.
Jika yang pertama tadi adalah linguistic intimacy, haruskah kita menyebut ini kemunafikan linguistik? Sebuah kesantunan semu, di mana bahasa tak lagi menjadi jembatan, melainkan menjadi belati yang disembunyikan di balik lengan baju.
Sungguh unik. Terkadang, rasa sayang tak terucap lewat frasa "Aku rindu," namun justru teriak dari seruan, β€œHey, Asu!” yang disambut gelak tawa paling raya.
Bahasa manusia memang penuh paradoks. Di satu sisi, ada makian yang berarti pelukan. Di sisi lain, ada pujian yang sejatinya adalah tikaman. Jadi kamu sendiri lebih suka pakai kata Asu, Segawon, atau Anying? Apapun ya, yang penting konteksnya tepat.
Pada akhirnya, kita tak harus mencari bahasa yang santun. Kita hanya merindukan bahasa yang jujur. Dan sering kali, kejujuran itu meledak dalam kosa kata yang paling "terlarang". Di balik carut-marut frasa itu, ada cinta yang tak perlu didikte, tak perlu dieja.
Hanya perlu dirasa.
[Ditulis sebagai respek buat dua Babi yang selalu mencairkan suasana di newsroom]
Trending Now