Konten dari Pengguna

THRIFTING, KAMBING HITAM DARI GAJAH IMPOR

Mataharitimoer
penulis, blogger, aktivis literasi digital
27 November 2025 15:20 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
THRIFTING, KAMBING HITAM DARI GAJAH IMPOR
Larang thrifting tapi impor China jalan terus? Itu ibarat obati kanker pakai plester luka. Tekstil lokal mati bukan cuma karena baju bekas!
Mataharitimoer
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Polda Metro Jaya kembali memamerkan tumpukan karung. Bukan narkoba, melainkan 439 koli pakaian bekas impor senilai 4,2 miliar rupiah. Narasi yang dibangun: ini adalah sampah, ini membawa penyakit, dan yang paling kencang diteriakkan adalah thrifting membunuh UMKM maupun industri tekstil kita.
Pemerintah tegas: Zero Tolerance. Tidak ada negosiasi, tidak ada pajak, pokoknya musnahkan. Tapi pertanyaannya, apakah dengan memusnahkan ratusan koli baju bekas ini, industri tekstil kita otomatis bangkit dari mati suri? Atau jangan-jangan, kita sedang memukuli semut, sementara gajah di pelupuk mata tidak terlihat?"
Baiklah, kita tidak menampik data. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyebut negara rugi 1 triliun rupiah per tahun akibat baju bekas. Sentra tekstil di Majalaya bahkan disebut 70 persen bangkrut. Namun, mari kita jujur melihat peta masalahnya secara utuh. Laporan riset menunjukkan bahwa thrifting hanyalah satu dari sekian banyak masalah di dunia industri tekstil kita.
Ada โ€œgajahโ€ besar yang jarang disebut, yaitu BANJIR PRODUK IMPOR. Sekali lagi, produk impor dari China. Akibat perang dagang global, China membuang stok kain dan baju barunya ke pasar ASEAN, termasuk Indonesia, dengan harga predatory pricing atau sangat murah.
Lihat deh di Pasar Tanah Abang, yang dahulu menjadi etalase produk konveksi lokal (Tasikmalaya, Soreang, Pekalongan), kini mengalami transformasi demografi produk. Wilayah sekitar Kebon Kacang, khususnya gedung seperti Moiz Trade Center (MTC), telah menjadi hub de facto bagi distributor pabrikan Tiongkok.
Moiz Trade Center (MTC) dikenal secara spesifik sebagai pusat grosir pakaian Tiongkok. Di sini importir tangan pertama (seringkali warga negara Tiongkok atau perwakilan langsung pabrik) membuka lapak grosir. Lantai 3 didedikasikan untuk pakaian anak, sementara Lantai 6 fokus pada tas dan sepatu impor.
Sekarang kita analisis Perbandingan Harga (Lokal vs. China). Data lapangan menunjukkan disparitas harga yang mematikan bagi industri lokal. Baju Anak (Usia 1-5 Tahun): Produk impor Tiongkok dijual eceran Rp 35.000-Rp 47.000. Produk lokal sejenis membutuhkan biaya produksi (HPP) sekitar Rp 35.000, sehingga harga jual minimal harus Rp 45.000 hanya untuk balik modal tipis. Paket Baju Laki-laki: Produk impor ditawarkan Rp 100.000 untuk 3 potong (Rp 33.000/potong). Konveksi lokal menjual produk setara di kisaran Rp 75.000-Rp 150.000 per potong.
Disparitas harga lebih dari 50% ini membuat konsumen, yang sensitif terhadap harga di tengah kondisi ekonomi yang sulit, secara rasional memilih produk impor, meskipun kualitas bahannya (seringkali polyester panas) lebih rendah dibandingkan katun lokal.
Belum lagi kalau kita telusuri di sektor hulu (serat dan benang), yang merupakan fondasi kemandirian industri tekstil nasional. Ketika pasar hilir (garmen/konveksi) beralih menggunakan kain impor murah, permintaan terhadap benang dan serat lokal anjlok. Data APSyFI (Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia) mencatat bahwa pada tahun 2016, impor benang berada di angka 230.000 ton dan kain sebesar 740.000 ton. Namun, dalam kurun waktu delapan tahun, angka ini melonjak drastis. Pada periode 2024, impor benang mencapai 462.000 ton, sementara impor kain menembus 939.000 ton. Kenaikan ini terjadi di tengah stagnasi, bahkan kontraksi, permintaan pasar domestik, yang berarti setiap unit barang impor yang masuk secara langsung menggusur produk lokal dari etalase pasar.
Jadi, adilkah menimpakan seluruh kesalahan kebangkrutan industri tekstil hanya pada thrifting?
Coba kita lihat sisi lain. Kenapa thrifting laku keras? Jawabannya sederhana: Rasionalitas Ekonomi. Dengan 35 ribu sampai 75 ribu rupiah, rakyat bisa dapat baju bermerek dengan kualitas bahan yang seringkali lebih awet daripada baju baru produksi massal. Bagi Gen Z, ini soal ekspresi diri yang unik. Bagi rakyat kecil, ini solusi berpakaian layak di tengah ekonomi yang sulit.
Pemerintah bilang ini berbahaya bagi kesehatan karena bakteri dan jamur. Betul, ada risikonya. Tapi bukankah rokok juga berbahaya namun tetap diatur cukainya? Kenapa thrifting tidak diatur saja tata niaganya, diperketat standar kebersihannya, misalnya dengan fumigasi, dan ditarik pajaknya agar negara untung, daripada dibiarkan liar di pasar gelap?
Menyita dan memusnahkan memang terlihat heroik di depan kamera. Tapi itu tidak menyelesaikan akar masalah inefisiensi industri tekstil kita. Selama produk lokal belum bisa menawarkan harga dan kualitas yang bersaing, dan selama โ€œgajahโ€ impor baju baru dari China tidak diadang, memberantas thrifting ibarat mengobati kanker dengan plester luka.
Kami sepakat untuk melindungi industri tekstil, tapi jangan jadikan thrifting satu-satunya kambing hitam. Saatnya regulasi yang cerdas, bukan sekadar larangan yang memicu pasar gelap.
Trending Now