Konten dari Pengguna

Belajar Menjadi Integrator dari Sang Empunya: Frantz Fanon

Ahmad Mathori
Menulis di pinggir arus, berenang di deras wacana.
24 November 2025 10:48 WIB
·
waktu baca 13 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Belajar Menjadi Integrator dari Sang Empunya: Frantz Fanon
Bagaimana Fanon menjadi ‘sang integrator’ yang menyatukan psikologi, politik, dan kemanusiaan? Catatan ini berusaha mengelaborasi warisan radikalnya bagi dunia pascakolonial.
Ahmad Mathori
Tulisan dari Ahmad Mathori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Frantz Fanon at a press conference of writers in Tunis, 1959. Source: Wikimedia Commons (public domain).
zoom-in-whitePerbesar
Frantz Fanon at a press conference of writers in Tunis, 1959. Source: Wikimedia Commons (public domain).
Kalau katanya, ‘setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya,’ mengapa ada beberapa orang justru terlahir untuk menjadi sesuatu yang bahkan melampaui dirinya dan masanya? Bagi saya, salah satu dari orang-orang tersebut adalah Frantz Fanon, ‘Sang Logam Berkilauan’ dari tanah Afrika. Seorang integrator sejati yang dengan piawai memadukan pengalaman pribadi, keahlian klinis, serta analisis politik untuk menyatukan banyak dunia ke dalam satu pandangan kemanusiaan yang radikal.
Lahir pada 20 Juli 1925 di Martinique, sebuah wilayah koloni Prancis di Karibia. Ia tumbuh dalam atmosfer kontradiktif yang ia potret dari praktik kolonialisme, seperti warna kulit yang dijadikan sebagai penanda hierarki sosial—diskriminasi rasial menjadi artikulasi utama para koloni di masa tersebut.
Bertumbuh dengan semangat meruntuhkan inferioritas dalam dirinya dengan turut bergabung ke dalam pasukan tentara Prancis untuk melawan Nazi di usia muda, Fanon mendapati kenyataan yang tidak berpihak padanya setelah perang usai, bahwa ternyata, bendera yang dibelanya masih menganggap dirinya sebagai warga negara kelas dua.
Sehingga itu pula yang memicu dirinya untuk meletupkan satu gagasan besar tentang ‘radical humanism,’ sebuah gagasan yang tidak hanya didasarkan pada kutipan-kutipan yang sudah ada, melainkan sintesis original yang ia susun untuk membuat kita memandang manusia dengan cara yang belum kita kenal sebelumnya.
Secara garis besar, sejak awal pemikirannya, tulisan-tulisan Fanon memang hadir untuk membawa semangat emansipasi. Setelah Perang Dunia II, Fanon melanjutkan pendidikan psikiatri di Lyon, Prancis. Di lingkungan inilah ia menemukan sebuah anomali penting dalam dunia medis kolonial. Ia melihat bahwa praktik kedokteran Prancis pada masa itu tidak memandang pasien dari kalangan migran Afrika Utara sebagai manusia utuh yang rasional.
Mereka tidak diperlakukan sebagai individu dengan pengalaman dan kondisi medis yang sah, tetapi sebagai “penyakit budaya” — sebuah konstruksi apriori yang memosisikan tubuh dan perilaku mereka sebagai sesuatu yang asing, bermasalah, dan harus “dijinakkan” oleh sains Eropa.
Pengalaman inilah yang melatarbelakangi publikasi esai pertamanya, The North African Syndrome, sebuah upaya kritis untuk mengungkap bias kolonial yang tersembunyi dalam praktik medis modern Prancis serta menunjukkan bagaimana kolonialisme tidak hanya menguasai tanah dan politik, tetapi juga mendefinisikan tubuh dan psikologi manusia terjajah.
Dengan kata lain, tubuh dan kesadaran orang Algeria telah ditempatkan dalam kerangka kolonial bahkan sebelum mereka sempat ‘membuka pintu klinik.’ Singkatnya, dokter tidak melihat pasien, mereka melihat stereotip.
Dari pengalaman itulah Fanon terdorong menulis magnum opus pertamanya, Black Skin, White Masks (1952). Dalam buku tersebut, ia menjelaskan bagaimana kolonialisme tidak hanya menaklukkan wilayah dan struktur sosial, tetapi juga membentuk dunia psikologis yang terbelah di dalam diri manusia terjajah. Fanon menunjukkan bahwa kolonialisme membuat subjek terjajah melihat dirinya melalui mata penjajah, sehingga identitasnya menjadi rapuh, terfragmentasi, dan selalu dinilai berdasarkan standar yang bukan berasal dari dirinya sendiri.
Karya ini menjadi salah satu fondasi penting untuk memahami bagaimana kekuasaan kolonial bekerja hingga ke wilayah paling pribadi, yaitu kesadaran manusia.
Beberapa tahun kemudian, Fanon pindah ke Aljazair sebagai psikiater, ia bekerja di sebuah klinik bernama Blida-Joinville Psychiatric Hospital dan segera menyadari bahwa penyembuhan atas luka kolonialisme tidak mungkin dapat ditempuh dengan hanya dari individu-ke-individu, melainkan harus dilakukan dalam spirit pembebasan kolektif. Sehingga dari sana ia memutuskan untuk bergabung ke dalam Front Pembebasan Nasional (FLN).
Di sana ia mengampu beberapa hal seperti menulis traktat politik, menyuplai analisis bagi revolusi, hingga menggerakkan semangat dekolonisasi. Imbasnya, ia terusir oleh pemerintah kolonial Prancis atas aktivitas politik yang kelak membawanya menjadi sosok revolusioner Pan-Africanism.

Kompleksitas Sang Integrator

Fanon melihat dengan sangat jelas bahwa kolonialisme tidak hanya merampas tanah atau tubuh, tetapi juga melumpuhkan harga diri dan membelah identitas manusia. Dalam dunia kolonial, seseorang tidak lagi berbicara sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai bayangan dari imajinasi penjajah. Bahkan cara seseorang berjalan, memandang, atau mempersepsikan tubuhnya dapat berubah karena tekanan rasisme yang terus menerus.
Pengalaman-pengalaman itu juga memengaruhi hubungan sosial. Kolonialisme menciptakan kecurigaan, kecemasan, dan luka batin yang membuat manusia sulit melihat dirinya sebagai subjek penuh. Inilah yang kemudian dibaca Fanon sebagai gejala psikologis kolektif, di mana masyarakat jajahan bukan hanya tertindas secara ekonomi dan politik, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk mengenali martabatnya sendiri.
Dalam konteks inilah perannya sebagai psikiater menjadi penting, karena ia menggunakan pengetahuan klinisnya untuk membaca luka-luka psikologis yang dialami oleh sebuah bangsa yang hidup di bawah penjajahan.
Lebih jauh, semangat emansipatoris Fanon membantu kita memahami bahwa kolonialisme adalah sistem yang secara struktural diskriminatif dan berdampak langsung pada kemanusiaan.
Kolonialisme menciptakan dan melembagakan cara pandang yang menempatkan sebagian manusia sebagai rasional dan sebagian lainnya sebagai irasional. Dalam praktik sehari-hari, hal ini tampak jelas: dokter di rumah sakit Aljazair tidak mendengarkan keluhan pasien sebagai keluhan manusia, tetapi sebagai gejala rasial yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Suara orang Aljazair dianggap berlebihan, tidak masuk akal, atau sekadar “kebisingan.” Di sinilah Fanon melihat bagaimana kekuasaan menentukan siapa yang boleh berbicara dan siapa yang hanya boleh didiamkan.
Dengan demikian, kritiknya tidak hanya menyasar kekerasan fisik kolonialisme, tetapi juga kekerasan pengetahuan yang membentuk cara dunia melihat subjek terjajah.
Dalam proses menggelorakan gerakan dekolonisasi, Fanon melihat bahwa kekerasan anti-kolonial sering kali muncul bukan sebagai pilihan ideologis, tetapi sebagai konsekuensi struktural dari dunia kolonial itu sendiri. Kolonialisme bertahan melalui intimidasi, penyiksaan, dan kontrol militer, sehingga perlawanan rakyat tidak pernah berlangsung dalam ruang yang netral.
Namun bagi Fanon, kekerasan bukan tujuan akhir. Ia membacanya sebagai momen ketika subjek jajahan merebut kembali agensinya yang dicabut selama bertahun-tahun. Ketika seseorang yang selalu dibungkam menemukan keberanian untuk menolak, ia mengalami pembalikan psikologis: dari objek penindasan menjadi subjek sejarah. Di titik itulah Fanon melihat kekerasan sebagai proses pemulihan martabat, bukan sebagai ideologi kekerasan itu sendiri.
Pengalamannya sebagai bagian dari tentara Prancis memperkuat keyakinannya bahwa struktur kolonial, yang menciptakan manusia untuk tunduk kepada sistem dehumanisasi, harus dibongkar hingga ke akar-akarnya.
Sampai pada titik ini, kita dapat melihat Fanon sebagai seorang pemikir yang merangkai berbagai atribusi intelektual menjadi satu kesatuan yang padu. Ketika berbicara tentang manusia, ia tidak hanya bertumpu pada bahasa fenomenologi, tidak hanya menggunakan analisis struktural, dan tidak pula terpaku pada pendekatan psikiatri. Sebaliknya, ia menggabungkan seluruh kerangka tersebut menjadi bangunan teoretis yang koheren, radikal, dan berorientasi pada pembebasan.
Pendekatan sintesis inilah yang menjadikan Fanon bukan sekadar seorang psikiater atau filsuf, tetapi seorang pemikir dekolonial yang melihat manusia dan penjajahan sebagai persoalan yang saling terkait pada level sosial, psikologis, dan eksistensial.

Dialog Lintas Ruang

Fanon bergerak dalam lanskap intelektual yang luas dan berani, ia lahir dalam dialog dan juga melahirkan dialog. Kepada Jean-Paul Sartre, ia menaruh hormat yang sangat tinggi karena kerangka eksistensialisme Sartre membantunya memahami kesadaran sebagai ruang kebebasan.
Namun, kekaguman itu tidak bertahan sepenuhnya. Fanon mengkritik Sartre ketika dalam esai Black Orpheus, Sartre menafsirkan gerakan Négritude — gerakan kesadaran hitam — sebagai momen sementara dalam dialektika Hegelian. Bagi Fanon, Sartre telah mereduksi perjuangan identitas kulit hitam dan memperlakukannya hanya sebagai fase menuju kesadaran kelas yang lebih tinggi. Dengan begitu, Sartre dianggap memberikan tafsir yang tidak otoritatif terhadap pengalaman kulit hitam.
Kritik Fanon kepada Sartre bukan persoalan pribadi. Ia mewakili kegelisahannya terhadap cara filsafat Barat sering kali merangkum pengalaman non-Barat ke dalam kategori-kategori yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Fanon menolak menjadi objek teori; ia menuntut agar pengalaman terjajah berdiri sebagai sumber pengetahuan yang valid.
Oleh sebabnya, Fanon juga menggugat hampir seluruh tradisi filsafat Barat yang menurutnya telah memproduksi hierarki rasionalitas untuk kelompok tertentu saja. Ia menilai bahwa dari Plato hingga Nietzsche, dan bahkan banyak intelektual kontemporer setelahnya, gagal melihat kapasitas universal manusia untuk berpikir dan merdeka.
Fanon menulis, “I want the world to recognize… the open door of every consciousness.” Baginya, fondasi humanisme Eropa tidak pernah benar-benar universal. Karena itu, ia menawarkan bentuk humanisme radikal yang sungguh-sungguh memandang seluruh manusia sebagai setara.
Melalui semangat pembebasan inilah frekuensi pemikiran Fanon bertemu dengan Paulo Freire yang membaca Fanon dari sudut pedagogi pembebasan. Tidak sedikit pembaca yang menyebut Freire sebagai “Fanon dalam ranah pendidikan.”
Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menjelaskan bahwa kaum tertindas sering memandang dunia dengan mata penindas, sebuah gagasan yang paralel dengan analisis Fanon dalam Black Skin, White Masks. Freire mendefinisikan pendidikan sebagai proses “menamai dunia,” sementara Fanon memandang perlawanan sebagai proses “menciptakan diri kembali.”
Dari sini terlihat bahwa keduanya menempatkan kesadaran sebagai ruang pertama bagi pembebasan. Beberapa catatan sekunder bahkan menyebut bahwa Freire secara eksplisit menjadikan Fanon sebagai salah satu sumber dalam membangun kerangka epistemologisnya.
Namun demikian, generasi setelah Freire mulai membaca Fanon dari sudut pandang baru. Mereka bukan hanya melihat kekuatannya, tetapi juga menelaah batas-batasnya. Anwār Omeish, misalnya, menilai bahwa Fanon kerap terjebak dalam dikotomi modern versus tradisi — sebuah konstruksi khas Eropa.
Menurut Omeish, Fanon mirip dengan Sartre dalam hal mereduksi identitas perjuangan kelompok tertentu. Dalam konteks Aljazair, Fanon digambarkan seakan-akan mendorong revolusi menuju identitas politik modern yang menggantikan identitas Islam dan tradisi lokal.
Kritik Omeish menemukan resonansi dalam penelitian Muriam Haleh Davis, yang memperluas pembacaan terhadap peran Islam dalam perlawanan antikolonial di Aljazair. Davis menyoroti bahwa Fanon gagal melihat Islamophobia sebagai salah satu bentuk utama rasisme Prancis.
Menurut Davis, menghidupkan kembali Islam sebagai sumber daya politik bukanlah gerakan konservatif, tetapi bentuk penolakan terhadap rasialisasi kolonial.
Dengan demikian, perlawanan berbasis Islam tidak dapat dipahami hanya sebagai nostalgia terhadap masa lalu, melainkan sebagai strategi untuk menolak suatu bentuk rasisme yang sangat spesifik.
Davis mengajak kita membaca Fanon melampaui percakapan klasik Eropa dan memposisikannya dalam konteks global yang lebih beragam.
Sampai pada bagian ini, Fanon tampil sebagai diskursus intelektual dunia. Pembicaraan tentang dirinya tidak lagi terbatas pada wacana kolonialisme dan psikiatri, tetapi telah menjadi bagian dari arus utama kelindan pemikiran global, dibaca ulang dan ditafsirkan di berbagai ruang lintas budaya, agama, dan tradisi intelektual. Inilah yang membuat pemikiran Fanon terus hidup karena ia hadir sebagai dialog yang tidak pernah berhenti.

Lebih Mengenal Fanon dan Kontekstualisasinya

Gagasan Radical Social Theory yang dibawa oleh Fanon berhasil meruntuhkan stigma bahwa banyak pemikir dari dunia ketiga sering hanya dibaca sebagai catatan kaki bagi filsafat Barat saja; tidak jarang karya-karya mereka diperlukan sebagai suara tambahan, bukan sebagai pilar utama dalam teori sosial modern.
Fanon dihormati karena keberaniannya menolak menjadi subjek pasif kolonialisme. Ia tidak sekadar menggambarkan situasi terjajah; ia mengalami, mendiagnosis, dan merumuskan ulang bahasa untuk memahami subjek manusia di bawah tekanan kolonial. Pengalaman hidupnya, mulai dari Martinique hingga Aljazair, membuat teori-teorinya tidak pernah melayang di udara. Semua lahir dari tanah yang diinjak, luka yang dirasakan, dan pergulatan yang dijalani.
Inilah yang membuat teori Fanon terasa universal meskipun berangkat dari konteks non-Barat. Ia sedang mengajarkan bahwa pengalaman terjajah pun dapat menjadi lensa untuk membaca dunia, dan bukan sebaliknya. Pengalaman itulah yang seharusnya menjadi titik tolak untuk mendefinisikan ulang kemanusiaan.
Bahasa yang ditawarkan Fanon juga membuatnya berbeda. Ia tidak hanya berbicara tentang tatanan politik, tetapi juga menyentuh jiwa manusia. Ketika ia menggambarkan kolonialisme sebagai kekuatan yang merusak mental dan meruntuhkan harga diri, ia mengajak kita melihat bahwa pembebasan politik tidak akan berdampak apa-apa jika manusia di dalamnya tetap terluka.
Dengan kata lain, Fanon menggabungkan teori dan praksis, mengajak kita melihat hubungan antara tubuh dan dunia sosial, antara gangguan psikis dan struktur kekuasaan.
Namun Fanon tidak pernah berhenti pada level teori. Ia melihat bahwa setelah kemerdekaan, ancaman baru justru muncul dari dalam bangsa itu sendiri. Ia menyebutnya sebagai kemunculan kaum nasionalis borjuis.
Kelas ini bukan penjajah asing, tetapi perilakunya sama, yakni mengganti posisi kolonialis, bukan mengganti struktur kolonialismenya. Fanon melihat bagaimana elit lokal dapat menguasai negara seperti properti pribadi, memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri dan kelompoknya, dan mengabaikan penderitaan rakyat. Fenomena ini ia saksikan sendiri di Afrika dan Asia, dan banyak di antaranya ia prediksi jauh sebelum terjadi.
Inilah mengapa bagi Fanon, kemerdekaan tidak pernah berarti akhir dari perjuangan. Dekolonisasi bukan satu momen besar yang menutup buku sejarah. Sebaliknya, ia adalah pekerjaan panjang tanpa ujung, karena yang harus dibangun bukan hanya negara, tetapi manusia. Fanon percaya bahwa pembebasan sejati hanya akan hadir ketika rakyat menemukan kembali kemanusiaannya, bukan ketika mereka mengganti bendera atau penguasa.
Di sinilah relevansi Fanon menjadi sangat jelas. Ia mengingatkan bahwa bahaya terbesar pasca penjajahan bukan lagi kekuasaan asing, tetapi bentuk kolonialisme baru yang tumbuh dari dalam tubuh bangsa sendiri.
Jika kita tarik pemikiran Fanon ke masa kini, kita akan menemukan bahwa gagasannya bahkan semakin relevan di dunia yang kini dipenuhi fragmentasi. Identitas terpecah, informasi terbelah, politik bergerak seperti arus deras yang mendorong orang untuk memilih sisi tanpa sempat berpikir, dan manusia kerap kehilangan kemampuan untuk melihat dirinya secara utuh.
Dalam keadaan seperti itu, kebingungan bukan lagi pengecualian, tetapi tampak seperti normal baru. Maka Fanon memberi kita cara melihat yang berbeda: ia mengajarkan bahwa manusia harus kembali mengintegrasikan dirinya.
Bagi Fanon, integrasi bukan sekadar konsep mental. Ia adalah usaha menyatukan kembali tubuh, pengalaman, sejarah, dan kesadaran. Ia menolak pemisahan antara teori dan praktik, atau antara dunia batin dan dunia sosial. Baginya, manusia harus dibentuk ulang dengan keberanian untuk mengakui luka masa lalu sekaligus menolak untuk hidup di bawah bayangannya. Singkatnya, manusia tidak boleh hanya menjadi produk sejarah, melainkan pelaku sejarah.
Cara Fanon memandang manusia—sebagai makhluk yang tidak selesai, yang terus menjadi—memberi kita pijakan untuk membaca dunia hari ini. Kita hidup dalam kondisi di mana informasi begitu cepat berputar sehingga manusia kehilangan pusat keberadaannya.
Fanon mengingatkan bahwa satu-satunya cara untuk berdiri tegak di tengah pusaran itu adalah kembali mengintegrasikan diri kita melalui penyatuan luka dengan refleksi, pengalaman dengan kesadaran, dan sejarah dengan pilihan untuk bergerak maju.
Dengan cara ini, Fanon tidak hanya memberi teori; ia memberi cara membaca zaman. Ia memberi kita kerangka untuk memahami krisis modern tanpa terombang-ambing. Ia memberi bahasa untuk menyebut apa yang terjadi pada masyarakat yang kehilangan orientasi. Dan yang paling penting, ia memberi harapan bahwa manusia masih mungkin membentuk dirinya sendiri di tengah keretakan dunia.

Obor yang Dititipkan Sang Integrator

Fanon berpulang pada usia yang begitu muda, usianya baru tiga puluh enam tahun (6 Desember 1961) ketika leukemia merenggutnya. Meski singkat, ia terkesan sebagai seseorang telah menempuh perjalanan lebih panjang daripada kebanyakan pemikir yang hidup dua kali lebih lama darinya.
Ia tidak menghabiskan hidupnya di ruang baca universitas, melainkan di ruang-ruang yang penuh ketegangan: ruang klinik psikiatri di Blida-Joinville, ruang rapat revolusi FLN, ruang penyiksaan yang disaksikan pasien-pasiennya, dan ruang sejarah yang terus ia buka dengan keberanian. Di sanalah ia menempa perangkat pemikiran yang bukan hanya tajam dan tegas, tetapi juga menyala—sebuah obor yang ia titipkan untuk mereka yang datang setelahnya.
Fanon tahu bahwa kolonialisme tidak berhenti pada batas waktu, dan ia tahu bahwa kemerdekaan tidak otomatis menyembuhkan luka yang ditinggalkan penjajahan. Ia juga tahu bahwa sejarah kadang-kadang kejam pada bangsa yang baru lahir, meninggalkannya pada tangan mereka yang tergoda oleh kekuasaan.
Fanon memperingatkan dengan suara yang terasa seperti gema dari masa depan: “The national bourgeoisie… becomes the most serious threat to national unity.”
Dengan kata lain, bahaya terbesar tidak selalu datang dari luar, tetapi dari mereka yang mengklaim sebagai pewaris revolusi tanpa benar-benar memahami amanahnya.
Dalam konteks itu, membaca Fanon hari ini berarti membaca diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa tugas kita bukan sekadar mengutipnya, tetapi menyambung kerja yang ia mulai, suatu kerja untuk membuat manusia menjadi manusia kembali.
Fanon menutup Black Skin, White Masks dengan kalimat yang lebih mirip doa ketimbang teori, “O my body, make of me always a man who questions!”
Obor itu kini dititipkan kepada siapa pun yang ingin melanjutkan perjuangan kemanusiaan. Ia bukan simbol heroisme, melainkan ajakan untuk terus mempertanyakan dunia. Sebab bagi Fanon, manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak berhenti bertanya.
Penutup hidupnya bukanlah akhir dari gagasannya. Ia pergi, tetapi cahaya yang ia tinggalkan masih menemukan jalan untuk menyala di tengah gelap yang belum selesai kita hadapi.
Trending Now