Konten dari Pengguna
Selamat Tinggal, Tapi Nanti Dulu (Cerpen Bagian 1)
18 Agustus 2025 17:33 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Selamat Tinggal, Tapi Nanti Dulu (Cerpen Bagian 1)
Cerpen ini menceritakan tentang pengungkapan selamat tinggal namun nanti dulu sebagai bentuk ketidakikhlasan.Isma Maulana Ihsan
Tulisan dari Isma Maulana Ihsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selamat Tinggal!, Tapi Nanti Dulu
Aku sudah pamit sejak tadi,
tapi kau masih saja bertanya,
"Benarkah ini perpisahan?"
Ah, kau memang selalu begitu—
suka mengulang yang tak perlu diulang.
Aku sudah melambaikan tangan,
tapi kau malah sibuk mencari tisu,
padahal aku belum menangis,
dan kau pun baru ingat,
kalau tisu ada di dalam tas yang entah di mana.
Aku sudah melangkah pergi,
tapi kau menarik ujung bajuku,
"Sebentar," katamu,
"Apa aku harus merindukanmu setiap hari,
atau cukup seminggu sekali?"
Aku tertawa. "Terserah. Tapi jangan terlalu rajin."
Akhirnya aku benar-benar pergi,
tapi kau tahu sendiri,
aku ini seperti hujan bulan Juni—
diam-diam akan kembali,
tanpa kau sadari.
Hujan datang melambai-lambai sudah sejak sedari lama baunya menyapa kencang, dan seperti sebuah pengumuman toa masjid suaranya pun begitu bergemuruh dari ujung Selatan sana. Pardi, duduk menanti di taman ini, sudah sejak dari siang tadi; yang ditunggunya belum datang padahal ribuan puisi telah lahir kembali ke pangkuan yang sejati. Tetapi, tunggu dulu ini adalah momen perpisahan kenapa harus terburu-buru? Bukankah sejak semula ia hanya mendoa agar waktu tidak berjalan begitu cepat? Tetapi, hujan sialan itu kenapa harus datang lebih awal dari perjumpaan?.
Hujan terus mengguyur, seakan mengolok-olok kesabaran Pardi. Ia menghela napas, mengusap kaca matanya yang mulai berembun, lalu menengadah—mencari sesuatu di antara langit yang kelabu.
“Kenapa kau tak sabar?” gumamnya pelan, entah pada hujan, entah pada waktu, atau mungkin pada dirinya sendiri. Dan bunga mawar yang cekikan mendengar keluhnya, suara cekikikannya seolah-olah tertangkap oleh Pardi, tetapi ia tak mendengar, hanya tersinggung. Benar kata orang, saat menunggu semua hal menjadi terasa begitu menyebalkan.
Lalu daun-daun di taman itu mulai berguguran, tersapu angin yang tak kalah semangat mengabarkan kedatangan badai. Pardi mengeratkan jaket yang itu-itu saja dikenakannya, bermotif bunga dan seperti seorang skena kampung di tengah hingar bingar kota, sementara puisinya—ah, ribuan puisi yang katanya telah lahir kembali—malah terancam luntur oleh air yang menetes tanpa belas kasihan di ujung-ujung perpisahan.
Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir petang. Yang ditunggunya masih juga tak datang. Dan Hujan sudah lama datang, ribuan ketiknya telah menulis di tanah-tanah dan mengeluarkan aroma khas serta suatu saat bakal tumbuh hal-hal yang sudah lama tertanam di sana.
Mungkin ia harus pulang, pikirnya. Mungkin perpisahan memang tak perlu pertemuan. Kenapa harus lebay amat seperti di novel-novel lain yang sungguhan alay? perpisahan bukankah cukup dengan satu kalimat sederhana yang dititipkan angin, atau dengan kenangan yang dibiarkan menggantung, seperti puisi yang tak pernah selesai dituliskan. Lalu, kita melaju pergi seperti hantu dan atau menjadi legenda dalam mitos-mitos untuk kehidupan seseorang, bukan?.
Lama Pardi menunggu, kali ini tidak di bangku taman kota itu, melainkan di gasibu taman bersama dengan beberapa orang lainnya- sepasang kekasih yang berdempetan, si pria sok bersikap pahlawan dengan memberikan jaketnya untuk dikenakan oleh sang perempuan; seorang nenek-nenek keturunan bersama dengan anjing lucunya dan selucu-lucunya anjing itu, Pardi tidak boleh menyentuhnya atau jika tidak ia harus membilasnya dengan air dan tanah sebagaimana kepercayaan masa kecilnya.
Seorang yang ditunggunya belum juga memberi kabar, telah lama ia memberi pesan melalui aplikasi berlogo telepon berwarna hijau itu, tetapi hanya ceklis satu. Sedikit khawatir masih hinggap di dalam hatinya, mungkinkah terjadi apa-apa? meskipun itu hanya kekhawatiran biasa dari seorang yang pernah mengkhawatirkannya secara luar biasa. Sesaat kemudian saat hendak menghubungi kembali, yang dimaksud ternyata sudah ceklis dua, dan buru-buru membalas pesan Pardi, “Maaf, di sini masih hujan, sangat terlambat nanti ke sana”.
Pardi menatap layar ponselnya cukup lama, seakan-akan ada sesuatu yang bisa diubah jika ia menatapnya lebih lama; sesuatu yang dulu dirasakannya seolah perlahan menghilang, dan kalimat yang diterimanya itu seperti bukanlah kata-kata yang hidup sebagaimana dulu sering diterimanya setiap waktu; pesan itu terasa dingin, bukan karena pilihan diksi nampaknya melainkan rasa yang hilang di dalamnya ditambah juga karena kenyataan alam bahwa hujan—lagi-lagi hujan—mengatur segalanya.
“Persetan kata penulis bajingan itu, kata orang hujan membuat perasaan jadi lebih bagus, penulis rumahan itu kayaknya gak pernah main saat hujan kali dan nunggu seseorang cuma buat bikin perpisahan ala-ala,” kesalnya dalam hati.
Pardi menarik napas, lalu melirik ke sekeliling. Sepasang kekasih tadi masih di sudut gasibo, si perempuan sudah tertidur di bahu kekasihnya, mungkin merasa aman dalam kehangatan jaket yang bukan miliknya. Si nenek sibuk mengelus kepala anjingnya, yang kini meringkuk dalam pelukannya, basah tapi tampak bahagia. Saat Pardi melirik, si Nenek tersenyum manis nampak dari wajahnya, jika sang nenek pasti sangat cantik di masa muda lalu.
Pardi? Ia masih saja duduk di sana, membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana.
“Di sini juga hujan,” balasnya akhirnya. Singkat. Ringan. Dan dengan perasaan yang tak lagi dapat dijelaskan, kikuk dan kaku.
Ia menutup ponsel dan memasukkannya ke saku, lalu menyandarkan kepala ke pilar gasibo. Ceklis dua, artinya pesan telah sampai. Artinya, seseorang disana kini tahu bahwa ia menunggu. Tapi apakah itu cukup?.
Hujan terus turun, seperti menertawakan harapannya. Seperti mengingatkannya bahwa tidak semua janji harus dipenuhi, tidak semua pertemuan harus terjadi. Apalagi pertemuan berbalut perpisahan, bagaimana konsepnya?.
Lalu, untuk apa ia masih di sini?
Pardi tersenyum kecil. Ah, sudahlah. Ia sudah terlanjur basah—dalam banyak hal.
Mungkin ini perpisahan, atau mungkin hanya ujian kesabaran.
Toh, seperti hujan, orang-orang pun datang dan pergi sesuka hati. Lalu, kumandang adzan terdengar di masjid-masjid, hujan belum reda, pertemuan ditunda.
(bersambung)

