Konten dari Pengguna
Menghidupkan Cerita Rakyat Lewat Batik: Tujuan di Balik Tercipta Batik Ndhilkoro
27 Juli 2025 8:54 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Menghidupkan Cerita Rakyat Lewat Batik: Tujuan di Balik Tercipta Batik Ndhilkoro
Batik Ndhilkoro mengangkat kisah asal-usul Desa Rejosari lewat motif penuh makna, jadi simbol pelestarian budaya dan identitas lokal yang diwariskan oleh leluhur.Maura Hilmi Alifianto
Tulisan dari Maura Hilmi Alifianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus modernisasi, ada satu desa yang memilih melawan lupa bukan dengan kata-kata, melainkan dengan selembar kain batik. Desa itu bernama Ndhilkoro atau akrab di kenal dengan Desa Rejosari yang bertepat di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Lewat tangan-tangan warga lokal, khususnya pelopor bernama Ibu Riyani Ambarwati atau yang akrab disapa Bu Ani, lahirlah sebuah karya budaya yang tak hanya indah dipandang, tapi juga sarat akan sejarah: Batik Ndhilkoro.
Nama yang Diambil dari Cerita Leluhur
Nama Ndhilkoro bukan sekadar label. Ia berasal dari kisah turun-temurun yang masih dijaga oleh para sesepuh Desa Rejosari. Menurut cerita yang dihimpun dari Bapak Juri selaku Kepala Desa Rejosari saat ini, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya, dahulu kawasan ini adalah hutan belantara yang lebat. Desa ini dikenal sebagai Ndhilkoro, jauh sebelum berganti nama menjadi Rejosari.
Di masa itu, hiduplah seorang tokoh masyarakat bernama Mbah Singo Plendik. Dalam aktivitasnya membuka hutan, beliau menemukan sebuah pohon besar bernama pohon Bende. Pohon itu unik karena dipenuhi tanaman koro (semacam kacang panjang atau buncis) yang buahnya tak pernah habis meski dipetik setiap hari.
Tak hanya itu, setiap malam, seekor kijang selalu tidur di bawah pohon itu. Kotorannya yang berserakan justru menyuburkan tanaman koro tersebut. Dari keanehan alam inilah, Mbah Singo Plendik menarik sebuah filosofi: semua makhluk hidup bisa saling memberi manfaat. Maka, gabungan dari kata mendhil (kotoran kijang), koro (tanaman), dan keberadaan pohon Bende melahirkan nama βNdhilkoroβ.
Batik Sebagai Simbol Perjalanan Budaya
Dengan semangat dan tekad untuk melestarikan peninggalan leluhur nama Ndhilkoro kini diangkat menjadi brand batik khas Rejosari. Motif-motif dalam Batik Ndhilkoro merepresentasikan elemen-elemen yang hidup dalam cerita tadi: akar pohon, sulur tanaman koro, siluet kijang, dan harmoni antara manusia dan alam.
Bukan sekadar corak, setiap motif mengandung nilai. Ia adalah narasi visual tentang kesederhanaan, kepekaan terhadap lingkungan, dan nilai kebersamaan dalam kehidupan desa tempo dulu.
Harapan Lewat Sebuah Kain
Lewat Batik Ndhilkoro, masyarakat Rejosari tak hanya memperkenalkan cerita lokal mereka, tapi juga membawa harapan agar nama lama desa mereka dikenal kembali oleh masyarakat luas. Batik ini menjadi cara mereka mengingat sejarah, sembari memberi identitas baru pada produk lokal yang bisa bersaing di ranah nasional.
Bu Ani, sang pelopor, tak hanya menjahit kain, tapi juga menjahit kembali ingatan kolektif desanya agar tak hilang. Ia berharap batik ini bisa menginspirasi generasi muda untuk mencintai akar budayanya sendiri.

