Konten dari Pengguna

KETIKA TIDAK MENCAPAI SEGALANYA DI USIA MUDA

M. Bahrul Ulum
Blogger, Storyteller.
19 September 2025 12:12 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari M. Bahrul Ulum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Anak Muda Meratapi Nasib (Sumber: Meta AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Muda Meratapi Nasib (Sumber: Meta AI)
Seringkali usia muda dianggap sebagai usia emas. Karena pada fase ini manusia memiliki potensi-potensi yang luar biasa dalam hidupnya. Berbeda dengan masa kanak-kanak yang cenderung masih bermain-main atau masa tua yang cenderung harus banyak beristirahat, masa muda adalah saat seseorang penuh dengan energi, semangat, dan ambisi untuk meraih cita-cita.
Ambisi dalam mencapai tujuan menjadi sebuah bahan bakar penyemangat bagi seorang pemuda dalam menjalani kehidupan. Maka tidak heran jika banyak orang memiliki pencapaian-pencapaian yang luar biasa di usia mudanya. Misalnya menjadi dosen muda, dokter muda, pengusaha muda dan lain sebagainya. Tentunya hal inilah yang diharapkan semua orang karena mencapai segalanya di usia muda merupakan kebanggaan bagi diri sendiri maupun keluarga.
Seseorang akan merasa bangga dengan pencapaian-pencapaian yang ia raih di usia muda, karena menjadi sebuah pembuktian yang dapat diakui oleh orang lain. namun sebaliknya, ketika seseorang tidak mencapai segalanya di usia muda ia akan merasa gagal, rendah diri dan tidak bernilai. Hal ini tentu bukan sesuatu yang baik bagi diri sendiri.
Perasaan rendah diri dan tidak bernilai seringkali dipengaruhi oleh faktor sosial yang menuntut seseorang untuk mencapai segala sesuatu sesuai dengan standar-standar sosial. Misalnya harus menikah di usia dua puluh lima, dan ketika hal tersebut tidak terjadi maka ia akan dianggap berbeda dan aneh. Tak jarang ia juga akan menjadi bahan atau objek olok-olok di lingkungannya. Padahal hal tersebut tidak dapat dibenarkan, karena setiap orang memiliki jalan hidup dan waktunya masing-masing.
Setiap Orang Memiliki Jalan Hidupnya Masing-masing
Setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda untuk mencapai sesuatu dalam hidupnya. Hal ini tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik ekonomi, latar belakang keluarga, pendidikan, hingga kesempatan yang datang tidak selalu sama. misalnya seseorang yang berasal dari keluarga yang mampu atau berkecukupan ia akan memiliki peluang besar dalam mengenyam pendidikan setinggi mungkin, berbeda dengan seseorang yang berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah, ia harus bekerja, menabung, ketika ia ingin melanjutkan pendidikan. Sehingga sangat kurang tepat jika seseorang dituntut untuk sesuai dengan standar sosial yang berlaku.
Standar sosial bukanlah sesuatu yang wajib untuk diikuti. Setiap manusia bebas dan berhak untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya dengan mempertimbangkan segala kondisi yang ia alami. Misalnya ketika seseorang belum mampu untuk menikah di usia dua puluh lima karena faktor ekonomi, dan dia memilih untuk menunda pernikahan karena dia memperhitungkan konsekuensi yang akan dihadapi ketika ia memaksakan diri untuk menikah di usia tersebut dengan kondisi yang ada, maka hal itu merupakan pilihan yang baik.
Meski terkadang keputusan yang dipilih akan dianggap aneh oleh orang lain. Tetapi pada dasarnya yang tau apa yang terbaik untuk diri seseorang adalah orang itu sendiri dan bukan orang lain. Tidak perlu terus meratapi nasib karena tidak dapat mencapai segalanya di usia muda karena hal itu bukanlah akhir dari segalanya.
Bukan Akhir dari Segalanya
Hidup harus terus berjalan. Tidak peduli seberapa besar kekecewaan itu, tidak peduli seberapa berat beban itu. Kehidupan ini tidak akan berhenti karena kesedihan atau kekecewaan yang dirasakan. Menjadi pribadi yang lebih baik dengan terus berproses dan belajar meski pencapaian itu terlambat datang. Terkadang seseorang dihadapkan dengan banyak kegagalan dalam hidupnya, agar dia dapat belajar dari kegagalan-kegagalan tersebut dan mengevaluasinya.
Sejarah pun mencatat, banyak tokoh besar yang justru meraih kesuksesan di usia yang tidak muda lagi. Kolonel Sanders, pendiri KFC, baru sukses di usia 60-an. Penulis terkenal J.K. Rowling baru menerbitkan Harry Potter setelah mengalami banyak penolakan di usia 30-an. Hal ini membuktikan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Jadi perlu diingat, bahwa hidup bukanlah suatu perlombaan untuk lebih cepat menuju garis finis, tetapi bagaimana seseorang dapat berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seseorang tidak harus lebih baik dari siapapun, tetapi bagaimana hari ini ia bisa menjadi lebih baik daripada hari kemarin, dan bagaimana hari esok ia bisa menjadi lebih baik daripada hari ini.
Ketika tidak mencapai segalanya di usia muda, jangan merasa hidup ini berakhir. Jangan terjebak dalam standar sosial yang membebani. Ingatlah, nilai hidup bukan hanya diukur dari seberapa cepat kita sukses, tetapi dari seberapa teguh kita bertahan, belajar, dan terus berproses.
Hidup bukan soal siapa yang lebih dulu sampai, tetapi siapa yang mampu terus berjalan dengan keyakinan dan kesabaran.***
M Bahrul Ulum, Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam, Universitas KH Mukhtar Syafa'at (UIMSYA) Banyuwangi.
Trending Now