Konten dari Pengguna

Buat Fresh Graduate: Waspada dengan 3 Budaya Kerja Ini

M Daffa Apriza

M Daffa Apriza

Sarjana Antropologi Sosial dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Berusaha mengenal dan memahami Indonesia melalui budayanya.

Β·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Daffa Apriza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya kerja toxic perlahan akan merengut kualitas hidupmu. Sumber: Pexels.com/energepic.com
zoom-in-whitePerbesar
Budaya kerja toxic perlahan akan merengut kualitas hidupmu. Sumber: Pexels.com/energepic.com

Saya beruntung karena minggu ini nggak lolos wawancara di tempat kerja yang saya lamar. Sekilas pernyataan ini terlihat absurd, tapi hasil diskusi dengan pewawancara saya menggambarkan budaya kerja di sana yang, bagi saya, menjurus ke ranah toxic.

Mulai dari harus kerja seminggu penuh mengikuti jam aktif bandara sampai harus siap hadir memenuhi permintaan atasan di hari libur. Para pekerja di sana harus standby 24/7 dalam seminggu tanpa ada sistem shift. Nada getir yang samar dari pewawancara saya seakan menjadi peringatan halus agar saya mundur dari posisi yang saya lamar.

Di akhir wawancara, tentu saya menegaskan kalau saya tidak siap mengambil posisi tersebut jika persayaratannya sesuai yang sudah mereka paparkan.

Sedikit dongkol habis wawancara, saya memutuskan untuk menyalurkan emosi saya dengan menulis. Harapan saya tulisan ini dapat membantu kalian waspada dengan budaya tempat kerja yang toxic.

1. Jam Kerja Tidak Jelas

Pastikan jam kerja kalian tidak memakan waktu rekreasi pribadi. Sumber: Pexels.com/energepic.com

Jam kerja menjadi tolak ukur pertama saya mengundurkan lamaran yang sudah saya masukkan. Faktor ini tidak bisa kalian anggap remeh apalagi kalau melamar di kota-kota metropolitan seperti Jabodetabek.

Kalau jam kerja kalian mempersulit aktivitas rekreasi pribadi (kegiatan kalian bisa santai) di luar kerja, setiap kali melangkahkan kaki ke sana akan terasa berat. Bukannya menjalani hidup, hidup kalian malah habis di jalan.

2. Tanggung Jawab yang Fleksibel

Nggak ngerti kerjaan itu bikin bingung sama nambah beban pikiran. Sumber: Pexels.com/cottonbro studio

Ini yang rada ngeselin karena saya sempat ngalamin ini pas ngebantu proyek dengan kenalan saya waktu kuliah. Hubungan kami langsung kandas pas saya nggak kuat dengan tanggung jawab saat mengerjakan proyeknya.

Di awal juga sebenarnya tidak ada tanggung jawab yang jelas terkait apa yang wajib saya lakukan. Intinya saya hanya harus β€œmengikuti semua keputusan dari atasan" selama proyek sedang berlangsung.

Pokoknya siap-siap berputar haluan kalau ketemu kerjaan dengan tanggung jawab fleksibel, tanpa job description yang jelas, dan harus siap menuruti semua permintaan atasan.

3. Gaji yang Nggak Bisa Memenuhi Kebutuhan Pribadi

Apakah hasil kerjamu sudah mendapatkan penghargaan yang sepadan? Sumber: Pexels.com/Tima Miroshnichenko

Idealnya kalau bekerja di Indonesia itu minimal bisa kerja di tempat yang mendukung dua tips sebelumnya. Hanya saja bagi kalian yang terdesak untuk kerja, minimal gaji di sana bisa menuhin kebutuhan dasar kalian.

Saya yakin kalian nggak akan bisa menjalani hidup yang layak kalau kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan tidak terpenuhi. Udah nggak bisa menjamin jam kerja dan tanggung jawab yang masuk akal, yang ada kalian jadi budak korporat kalau kalian terpaksa kerja dengan upah yang nggak menyentuh UMR.

Setidaknya ini tips singkat dari saya kepada sesama pencari kerja di Indonesia yang sedang sama-sama berjuang. Tentu sulit mencari kerja yang manusiawi di negeri yang lebih memuliakan tikus, tapi setidaknya kita bisa berusaha agar pekerjaan yang kita dapat tidak merusak kesehatan mental kita.

Trending Now