Konten dari Pengguna
GALERI DI DALAM KANTIN?
15 Agustus 2025 16:35 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
GALERI DI DALAM KANTIN?
Sebuah 'galeri' mini berdiri di tempat yang tak terduga: kantin kampus.Meicky Shoreamanis Panggabean
Tulisan dari Meicky Shoreamanis Panggabean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Biasanya, galeri punya kantin. Di kampus ini, kantin punya galeri.

Saya punya ketertarikan besar pada seni. Sejak anak saya balita, dia sering saya ajak nonton pertunjukan, mengunjungi museum, dan pameran seni. Karena itu, saya senang sekali ketika di kampus ini berdiri ‘galeri' mini yang memamerkan artefak Papua.
Benda-benda tersebut membawa narasi panjang tentang hubungan manusia dengan alam, warisan budaya, dan serangkaian makna yang ada di balik bentuk dan ukiran. Lokasinya unik: bukan di galeri dengan pencahayaan yang diatur cermat, melainkan di ruang yang paling mudah diakses satu kampus: kantin.
Di ruang kelas atau ruang rapat biasanya ada hierarki yang jelas: dosen–mahasiswa atau atasan-bawahan. Di kantin, dosen, mahasiswa, atasan dan bawahan serta tamu atau pengunjung duduk di meja serupa dan memesan makanan yang relatif mirip. Suasananya inklusif: fokus terletak pada kebersamaan, bukan pada status pun bukan pada pembagian kerja.
Oleh karena itulah 'galeri' Papua ini terasa begitu unik, ia hadir di tempat koneksi terjadi secara alami. Lazimnya, galeri diasosiasikan dengan ruangan yang tenang, dan serius. Di sini, artefak hadir dalam suasana santai, melebur dengan percakapan ringan, tawa, dan aroma makanan.
Orang memang datang untuk makan namun bisa pulang dengan wawasan baru. Bukan…bukan karena kewajiban belajar, melainkan karena rasa ingin tahu yang dipicu secara alami.
Inilah kekuatan seni. Produknya bukan sekadar objek untuk dikagumi, melainkan media untuk membangkitkan kesadaran. Ketika artefak Papua ditempatkan di kantin, mereka berfungsi lebih dari sekadar menjadi pajangan. Ia membuka dunia masyarakat adat dan menyodorkan narasi budaya yang seringkali terabaikan.
Keunikan 'galeri' di kantin tidak hanya terletak pada lokasinya, tetapi juga pada potensinya untuk memicu percakapan spontan. Dua dosen dari disiplin ilmu yang berbeda bisa mendiskusikan makna sosial dan arti motif sekaligus. Percakapan dapat meluas ke aspek hubungan manusia–alam, isu keberlanjutan, dan peran warisan budaya.
Tidak semua orang pergi ke galeri tetapi hampir semua akan pergi ke kantin. 'Galeri' ini membawa objek pembelajaran ke dalam kehidupan di luar ruang kelas. Hal ini meningkatkan kemungkinan murid atau mahasiswa terpapar informasi kultural serta pengetahuan.
Artefak bisa dijadikan jembatan antara teori dan pengalaman. Anak didik bisa mengamatinya, mengajukan pertanyaan, lalu menghubungkannya dengan konteks sejarah, budaya, atau sosial.
Sebagai cermin, seni merefleksikan identitas dan pengalaman kita. Sebagai jendela, seni membuka pandangan ke dunia di luar dunia kita. Artefak Papua di kantin kampus melakukan keduanya. Bagi mahasiswa Papua, seni adalah cermin identitas. Bagi yang lain, seni adalah jendela menuju warisan yang layak dipahami, diapresiasi, dan dilestarikan.
Saya harap mereka yang melewati 'galeri' ini tidak hanya melirik lalu berlalu begitu saja. Semoga 'galeri' bagi banyak pendidik bisa menjadi titik awal dialog di kelas: tentang kearifan lokal, hubungan manusia–alam, keberlanjutan lingkungan, pertemuan budaya, keragaman identitas, pengelolaan warisan di era digital, dan masih banyak lagi.
Keberadaan 'galeri' mini di kantin bisa jadi adalah sebuah undangan untuk secara santai melihat dunia melalui lensa yang lebih luas.

