Konten dari Pengguna

Begini Cara Turki Memuliakan Anak-anak

Meidy Rahma Dhana
A diplo-mom: kadang diplomat, kadang mother-mother. Memulai menulis di Kumparan demi tugas Sesdilu (Sekolah Staf Dinas Luar Negeri).
20 Oktober 2025 10:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Begini Cara Turki Memuliakan Anak-anak
Di Turki, anak-anak adalah pusat perhatian. Selalu disapa dengan ramah, hingga disediakan berbagai fasilitas. Sebuah refleksi tentang budaya dan kebijakan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Meidy Rahma Dhana
Tulisan dari Meidy Rahma Dhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Itulah bunyi landing announcement dari maskapai Turkish Airlines, saat saya – bersama suami dan anak kami yang saat itu berusia 1.5 tahun – tiba di Istanbul, Turki, untuk menjalankan tugas sebagai diplomat.
Maskapai ini tampaknya masih menjadi satu-satunya di dunia yang secara resmi menyapa anak-anak di setiap pengumumannya. Di negeri dua benua ini, anak-anak memang memiliki tempat yang sangat terhormat; mereka dimuliakan di mana-mana, mulai dari di pesawat, hingga di alun-alun Taksim yang sangat ramai.

1. Budaya yang Menyayangi Anak-anak

Satu hal yang saya sadari sejak hari-hari pertama saya di Istanbul: anak-anak di Turki adalah pusat perhatian. Setiap kali berada di ruang publik, orang-orang selalu menyapa anak saya, diikuti dengan kata “Maşaallah!” sambil tersenyum tulus. Beberapa bahkan mencolek pipi anak dengan gemas, hal yang terkadang membuat saya sedikit tidak nyaman mengingat saat itu masih masa pandemi Covid-19.
Banyak juga yang memberikan hadiah-hadiah kecil, mulai dari biskuit, cokelat, permen, balon, dan bahkan uang.

2. Ruang Terbuka Hijau dan Playground Gratis

Budaya menyayangi anak-anak tidak hanya tercermin di masyarakatnya saja, fasilitas-fasilitas ruang terbuka hijau dan playground (tempat bermain) juga disediakan oleh pemerintah, secara cuma-cuma.
Istanbul adalah kota besar, dengan lalu lintas padat dan gedung-gedung menjulang tinggi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 16 juta jiwa, kota ini lebih padat dibandingkan Jakarta. Namun, taman-taman hijau masih bertebaran di berbagai sudut kota dan di taman-taman itu lah keluarga Turki menghabiskan akhir pekan mereka dengan piknik, lengkap dengan teh panas dan roti simit.
Gülhane Park, salah satu dari sekian banyak ruang terbuka hijau di tengah kota Istanbul. (dokumen pribadi)
Playground anak sepertinya menjadi kewajiban di setiap taman dan juga di area pemukiman. Wahana permainannya pun tidak main-main; lengkap, bersih, dan sangat terawat.
Di area pemukiman dapat ditemukan taman bermain hampir di setiap 500 m, dikelola dengan baik oleh Pemerintah Distrik. (dokumen pribadi)

3. Dari Kursi Hingga Wastafel, Semua Menyesuaikan Ukuran si Kecil

Tidak berhenti di situ saja, sektor swasta pun ‘ikut-ikutan’ ingin memuliakan anak-anak. Mulai dari kedai pinggir jalan di Sultan Ahmet sampai dengan restoran mewah di kawasan Nişantaşı, mereka selalu menyodorkan high chair tanpa diminta ketika melihat tamu cilik.
Di beberapa tempat makan, pelayan restoran juga memberikan kertas mewarnai dan pensil warna agar anak dapat menunggu makanan dengan tenang.
Turkish breakfast, complimentary fresh orange juice untuk anak, dan high chair putih yang tidak mau lagi dipakai. (dokumen pribadi)
Sementara di setiap pusat perbelanjaan dan pom bensin, hampir selalu ada toilet khusus anak; ukurannya mini, warnanya playful, dan desainnya lucu. Hal kecil, namun untuk saya perhatian terhadap detail seperti ini menunjukan bahwa anak dianggap sebagai individu utuh yang didorong untuk tumbuh dengan mandiri dan percaya diri.
Selain lebih aman dan nyaman, toilet dan washtafel mini mengajarkan si kecil untuk mandiri sejak dini.

Fun Fact

Fakta menarik: Hari Nasional Anak di Turki dirayakan bersamaan dengan Hari Kedaulatan Nasional pada setiap 23 April. Tanggal ini dipilih untuk memperingati berdirinya Parlemen Turki. Pada hari libur nasional ini anak-anak dapat “mengambil alih” kursi di parlemen untuk sehari.
Menjadi diplomat di KJRI Istanbul memberi saya banyak pengalaman dan pelajaran, mulai dari mengatur kunjungan pejabat negara hingga melayani WNI di situasi genting.
Sementara menjadi orang tua di Istanbul mengajarkan saya sesuatu yang tidak kalah penting bahwa menciptakan lingkungan yang ramah anak bukan hanya tugas keluarga, tetapi juga tanggung jawab bersama – masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan setiap individu yang berbagi ruang dengan mereka.
Trending Now