Konten dari Pengguna
Hindia, Everything U Are, dan Politik Afeksi di Era Melankolia Global
18 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Hindia, Everything U Are, dan Politik Afeksi di Era Melankolia Global
Membaca 'Everything U Are' (Hindia): surat generasi yang letih—cinta sebagai politik afeksi, penyelamatan personal, dan solidaritas Global South. #userstoryMeirza Luthfi Pradana
Tulisan dari Meirza Luthfi Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengarkan Hindia menyanyikan penggalan lirik tersebut, menurut saya ini bukan cuma lagu cinta. Lagu Everything U Are terdengar seperti surat dari seseorang yang lelah, tetapi masih ingin percaya bahwa kasih sayang bisa jadi alasan untuk bertahan hidup.
Baskara Putra—lewat nama Hindia—selalu menulis dari ruang yang personal, tapi tak pernah berhenti di sana. Ia seperti sedang berbicara pada generasi yang tumbuh di tengah dunia yang serba cepat, serba cemas, dan sering kali terasa terlalu dingin. Lagu ini bukan sekadar pengakuan, tapi juga perlawanan kecil terhadap dunia yang membuat kita merasa tidak cukup.
Kelelahan sebagai Bahasa Zaman
Kalimat “got beat down by the world” mungkin terasa akrab bagi banyak orang. Dunia hari ini—dunia yang katanya modern dan terkoneksi—justru membuat kita sering kehilangan arah. Semua orang berlomba menjadi versi terbaik dari dirinya, tetapi jarang ada yang sempat berhenti untuk "benar-benar hidup".
Dalam istilah Jean-François Lyotard, inilah masa ketika narasi besar telah runtuh—tidak ada lagi kebenaran tunggal, arah pasti, atau makna universal yang bisa kita andalkan. Hidup manusia modern terfragmentasi menjadi potongan kecil: target, notifikasi, deadline, dan performa. Kita sibuk, tapi kosong; kita terkoneksi, tapi terasing.
Jean Baudrillard menambahkan: realitas kini telah digantikan oleh simulakra—citra dan representasi yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Dalam konteks itu, kelelahan bukan sekadar fisik, tapi juga spiritual: kelelahan menjadi manusia di dunia yang hanya menghargai performa.
Hindia menangkap absurditas itu dengan kejujuran yang jarang ditemukan. Ia tidak menawarkan utopia atau jawaban besar, hanya mengajak kita menatap hidup yang berantakan dengan kepala tegak. Lagu Everything U Are menjadi semacam doa untuk generasi yang letih—generasi yang sadar bahwa rapuh bukan tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa kita masih merasa, masih hidup, masih manusia.
Mungkin di situ, Everything U Are menjadi penting; bukan sekadar lagu cinta, tapi arsip emosional sebuah zaman yang kehilangan makna dan masih berusaha mencarinya lewat kasih yang sederhana.
Ketika Cinta Jadi Bentuk Penyelamatan
Ada bagian paling jujur di lagu ini:
Kalimat ini bukan metafora yang manis, melainkan pengakuan yang realistis. Kita hidup di masa di mana banyak orang terluka: oleh tekanan ekonomi, kesepian digital, dan trauma sosial yang diwariskan lintas generasi. Namun, penyelamatan kadang datang bukan dari institusi, agama, atau terapis, melainkan dari seseorang yang sama rapuhnya, tetapi mau mendengarkan.
Dalam teori afeksi yang dibicarakan oleh Baruch Spinoza dan dikembangkan oleh Gilles Deleuze, perasaan bukanlah urusan privat. Ia adalah energi sosial yang menular, mengalir, dan membentuk jaringan makna antartubuh manusia. Ketika dua orang saling mendengar, mereka sedang menolak rezim modern yang memaksa kita untuk tampil kuat, efisien, dan otonom, seolah kebergantungan adalah kelemahan.
Di sinilah Everything U Are menjadi tindakan politik yang halus. Cinta, dalam lagu ini, bukan sekadar emosi romantis, melainkan praktik resistensi terhadap dunia yang mendepolitisasi empati. Ia mengembalikan afeksi ke ruang publik, menjadikannya cara bertahan, cara merawat, dan cara mengingat bahwa kita tidak pernah sepenuhnya sendirian.
Global South dan Solidaritas dari Luka
Lirik “cerita kita tak jauh berbeda” di lagu Everything U Are bisa membawa gema yang lebih luas dari sekadar kisah dua manusia. Ia bisa dibaca sebagai refleksi dunia Global South, dunia yang selama ini “got beat down by the world”: dijajah, dimiskinkan, dan dipaksa terus mengejar ketertinggalan dalam logika kemajuan versi utara global.
Namun, seperti dalam lagu ini, kekuatan justru lahir dari luka bersama. Solidaritas tidak tumbuh dari kesamaan ideologi, tetapi dari kesamaan rasa sakit: dari pengalaman ditindas, diremehkan, dan tetap berusaha mencintai di tengah keterbatasan.
Pemikir dekolonial seperti Walter Mignolo menyebut hal ini sebagai decolonial empathy: kemampuan untuk memahami “yang lain” bukan melalui kategori rasional Barat, melainkan lewat pengalaman afektif dan keterhubungan manusiawi. Dalam kerangka ini, empati menjadi bentuk pengetahuan alternatif—satu yang tidak hierarkis, tidak hegemonik, dan tidak memaksa dunia lain untuk meniru cara berpikir Barat.
Tanpa harus mengaku sebagai lagu politik, Everything U Are mempraktikkan bentuk empati semacam itu. Ia hangat, jujur, dan tidak pretensius, seperti suara Global South yang menolak menjadi sempurna di mata sistem global. Hindia seolah menulis dari ruang yang decentered—dari pinggiran yang selama ini dianggap tidak penting—dan justru di situlah muncul kemanusiaan paling tulus.
Lagu ini tidak berteriak tentang perlawanan, tetapi sudah menjadi bentuk perlawanan lewat keberadaannya: menolak diseragamkan, menolak efisiensi, menolak menjadi “produk”. Ia merayakan keberadaan seadanya—sesuatu yang justru jarang diberi tempat dalam dunia yang diatur oleh metrik, algoritma, dan logika kapital.
Cinta Sebagai Kritik Sosial
Ketika dunia makin dingin dan logika ekonomi makin kejam, Everything U Are terdengar seperti kritik lembut terhadap sistem yang membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Di tengah hiruk-pikuk performa dan pencitraan, Hindia mengingatkan bahwa cinta—yang tulus dan apa adanya—masih bisa menjadi ruang perlindungan terakhir bagi manusia yang lelah.
Kalimat itu bisa dibaca sebagai deklarasi eksistensial: “aku ada karena pernah dicintai.” Dalam dunia yang menilai manusia dari produktivitas, efisiensi, dan kemampuan menyesuaikan diri pada algoritma sosial, pernyataan semacam itu adalah bentuk perlawanan. Ia menolak logika kapitalistik yang mengukur nilai hidup berdasarkan hasil dan performa.
Filsuf Byung-Chul Han dalam The Burnout Society menulis bahwa kita kini hidup di “masyarakat prestasi” di mana manusia tidak lagi ditekan oleh kekuasaan eksternal, tetapi oleh tuntutan internal untuk terus menjadi lebih baik. Kita mengeksploitasi diri sendiri dengan sukarela dan menyebutnya kebebasan. Dalam lanskap seperti ini, cinta yang tidak menuntut performa menjadi tindakan politis yang halus.
Di sisi lain, Erich Fromm melihat cinta sebagai bentuk being, bukan having—cara manusia mengafirmasi eksistensi dirinya melalui relasi yang saling mengakui, bukan saling menguasai. Maka, ketika Hindia menulis “bahwa aku pernah dicintai,” ia tidak sedang bernostalgia, tetapi sedang mengingatkan bahwa di tengah dunia yang mengubah kasih menjadi transaksi emosional, pengalaman dicintai masih bisa menjadi sumber keberanian untuk hidup.
Dengan demikian, Everything U Are bukan sekadar lagu cinta. Ia adalah meditasi sosial—tentang bagaimana kasih, empati, dan kehadiran bisa menjadi kritik paling halus terhadap dunia yang kehilangan rasa.
Akhirnya, Tentang Bertahan
Hindia tidak menulis lagu untuk memberi nasihat. Ia menulis untuk menemani. Everything U Are adalah pelukan bagi orang-orang yang mencoba bertahan di dunia yang kejam, tetapi masih ingin menjadi baik. Di tengah logika global yang menilai manusia dari produktivitas dan performa, lagu ini memilih diam, menawarkan empati alih-alih solusi.
Dalam lagu ini, penyelamatan bukan tentang menjadi pahlawan. Ia tentang keberanian untuk hadir dan untuk berkata, “aku juga terluka, tapi aku di sini.” Di situlah, seperti kata Emmanuel Levinas, etika bermula: dari kehadiran di hadapan wajah yang lain; dari kesediaan untuk terganggu oleh keberadaan orang lain. Cinta bukan lagi sekadar perasaan, melainkan tanggung jawab eksistensial terhadap sesama yang sama-sama rapuh.
Dan mungkin, di situ pula politik paling manusiawi dimulai; bukan dari wacana besar atau revolusi ideologis, melainkan dari kasih kecil yang menyelamatkan kita satu per satu. Dalam dunia yang terus mendorong kita menjadi individu yang otonom dan terukur, Hindia mengingatkan: kadang yang paling radikal adalah tetap lembut, tetap peduli, tetap manusia.

