Konten dari Pengguna

Saat Anak Kehilangan Rasa Ingin Tahu: Alarm untuk Dunia Pendidikan

Metha Lubis
saya adalah seorang dosen di Universitas Pamulang sejak Desember 2017. selama berkarier, saya telah berkontribusi dalam bidang akademik melalui pengajaran, pengabdian dan penelitian.
18 September 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Saat Anak Kehilangan Rasa Ingin Tahu: Alarm untuk Dunia Pendidikan
Rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama dalam proses belajar. Mulai dari bertanya “kenapa langit biru?” hingga mencoba merakit mainan sederhana, anak-anak belajar karena mereka penasaran. #userstory
Metha Lubis
Tulisan dari Metha Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak belajar di dalam kelas. Foto: hxdbzxy/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar di dalam kelas. Foto: hxdbzxy/Shutterstock
Rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama dalam proses belajar. Dari sekadar bertanya “kenapa langit biru?” hingga mencoba merakit mainan sederhana, anak-anak belajar karena mereka penasaran. Namun, semakin tinggi jenjang pendidikan, rasa ingin tahu terhadap sesuatu perlahan memudar. Siswa belajar bukan lagi karena ingin tahu, melainkan karena takut nilai jelek atau tidak naik kelas.
Fenomena ini seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Jika rasa ingin tahu padam, pendidikan hanya menyisakan rutinitas tanpa makna.

Mengapa Rasa Ingin Tahu Memudar?

Pertama, kurikulum yang terlalu padat membuat siswa "dijejali" materi tanpa ruang untuk eksplorasi. Guru terjebak pada "kejar tayang" silabus, sementara anak dipaksa untuk menghafal.
Kedua, budaya "jawaban benar" di kelas menjadikan siswa takut salah bertanya. Pertanyaan liar yang sebenarnya menunjukkan rasa ingin tahu sering kali dianggap mengganggu pelajaran. Akibatnya, anak lebih memilih diam daripada bertanya.
Ketiga, tekanan orang tua dan sekolah yang terlalu menekankan nilai rapor. Anak tumbuh dengan mindset bahwa belajar semata-mata demi angka, bukan untuk memahami kehidupan.
Ilustrasi anak bertanya. Foto: Shutter Stock

Dampak Kehilangan Rasa Ingin Tahu

Ketika siswa tidak lagi penasaran, mereka belajar hanya untuk ujian. Kreativitas dan kemampuan berpikir kritis pun tergerus. Anak bisa menjadi “robot akademik”; mahir menjawab soal, tapi miskin inovasi.
Dalam jangka panjang, hal ini berbahaya bagi bangsa. Kita bisa kehilangan generasi yang mau bereksperimen, berani mencari solusi baru, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Menyalakan Kembali Api Penasaran

Menjaga rasa ingin tahu anak bukan hanya tugas sekolah, melainkan juga tugas orang tua. Demi menjaga rasa ingin tahu anak, diperlukan beberapa upaya. Pertama, guru perlu memberi ruang diskusi, proyek, dan pembelajaran berbasis masalah yang menantang anak berpikir. Kedua, orang tua sebaiknya menghargai pertanyaan anak, bahkan yang terdengar sepele. Ketimbang buru-buru memberi jawaban, ajak anak mencari tahu bersama merupakan solusi yang lebih tepat. Selain itu, sekolah perlu berani menyeimbangkan tuntutan akademik dengan kegiatan kreatif yang menumbuhkan eksplorasi.
Ketika anak kehilangan rasa ingin tahu, pendidikan kehilangan rohnya. Nilai rapor mungkin tetap tinggi, tetapi semangat belajar seumur hidup akan padam.
Sudah saatnya guru dan orang tua menyadari bahwa tugas mereka bukan hanya menyiapkan anak menghadapi ujian, melainkan juga menjaga api penasaran itu tetap menyala. Karena bangsa yang maju tidak hanya menghasilkan lulusan pintar, tetapi juga generasi yang tak pernah berhenti bertanya.
Trending Now