Kisah Anak Kuli dan Petani di Ponorogo Jadi Rebutan Kampus Luar Negeri
22 Mei 2023 13:32 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kisah Anak Kuli dan Petani di Ponorogo Jadi Rebutan Kampus Luar Negeri
Kedua siswi MAN 2 Ponorogo berhasil dinyatakan lolos untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri lewat jalur beasiswa.Millennial

Gak hanya satu atau dua kampus, keduanya masing-masing diterima di delapan dan enam kampus sekaligus. Etik diterima di National Taiwan University (Bachelor of Economics); Wageningen University & Research (Bachelor Science in Tourism); The University of Western Australia (Bachelor of Arts); University of Toronto Mississauga (Studies in Social Science); Monash University (Bachelor of Arts); dan McMaster University (MELD Humanities 1 and Social Science).
Sementara Like diterima di delapan kampus, yaitu University of Toronto Mississauga (Studies in Psychology); University of Toronto Scarborough (Physical and Environmental Sciences); University of Toronto St.George (International Foundation Program-Life Science); The University of British Columbia (Bachelor of Science); National Taiwan University (Bachelor Program of Biotechnology and Food Nutrition); Monash University (Bachelor of Science); The University of Western Australia (Environmental Science and Management); dan Wageningen University & Research (Environmental Sciences).
Keduanya berhasil lolos beasiswa lewat jalur Beasiswa Indonesia Maju (BIM) untuk persiapan S1 Luar Negeri. Ini merupakan program beasiswa yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudistek) melalui Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) dan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) guna memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk bisa belajar di luar negeri.
Etik mengaku tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri. Tak pernah terbesit di benak gadis berusia 21 tahun ini untuk bisa menimba ilmu di luar negeri lantaran untuk bisa belajar di sana perlu biaya yang tak sedikit, sementara ia dan keluarganya berasal dari keluarga sederhana.
โSaya kepikiran bagaimana masalah biaya,dan bertahan hidup saat jauh orang tua. Sebab ayah saya hanya seorang petani,โ ujar Etik seperti dikutip dari laman Pendis Kemenag, Senin (22/5).
Dari enam kampus yang menerimanya, Etika akhirnya memutuskan untuk memilih National Taiwan University (Bachelor of Economics). Etik menganggap bahwa berkuliah di Taiwan dengan iklim politik yang demikian akan menjadi poin tersendiri bagi portofolionya.
Sementara Like memutuskan untuk memilih menimba ilmu di National Taiwan University (Bachelor Program of Biotechnology and Food Nutrition). Ia berharap pilihannya itu bisa mendukung impiannya sebagai ahli bioteknologi dan ketahanan pangan Asia Tenggara.
Untuk bisa lolos beasiswa BIM, Like pun terus mengasah kemampun bahasa Inggris. Hingga akhirnya usaha Like ini pun membuahkan hasil dan ia pun bisa mendapatkan beasiswa penuh.
โSejauh ini tantangan terbesar adalah score TOEFL. Kami perlu memperdalam kemampuan bahasa Inggris dan ikut tes berkali-kali untuk memenuhi ambang nilai yang menjadi syarat,โ bebernya.
