Konten dari Pengguna

Bertahan Hidup

Minhajuddin
Karyawan Unisa Bandung - Peneliti pada Kajian Strategis Hubungan Internasional (KSHI).
25 Mei 2025 13:41 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bertahan Hidup
"Aku terlalu lama jumawa akan hidup ini, tentang diri yang merasa mampu mengatasi segala. Aku tinggalkan Sang Maha di urutan kesekian, lalu dengan percaya diri melangkah sendiri."
Minhajuddin
Tulisan dari Minhajuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Absurditas kehidupan. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Absurditas kehidupan. Photo: Dokumentasi Pribadi
Aku menggeser pintu yang berderit seakan meronta dalam perih. Sementara hujan tak jua reda menghantam sudut kota ini, sejak semalam tetap pukul sepuluh ketika aku mulai memicingkan mata. Langit mulai beristirahat dalam penat, keheningan yang perlahan menjelma dalam ketenangan.
Entahlah, setiap kali hujan datang di ujung jalan Gatot Subroto, selalu dalam waktu yang cukup lama. Hujan seakan mengerti bahwa kota ini terlalu indah untuk dilepaskan dari pelukan malam.
Dua menit yang lalu, bunyi alarm dari handphone memaksaku menyibak kelopak mata yang berat. Aku beranjak dari peraduan, menyeret diri untuk beradu dengan rasa kantuk, berat. Mungkin iya namun aku tak kuasa dalam derita berkepanjangan.
Aku datang tepat dihadapanMu, Tuhan. Menyerahkan diri yang merasa paling tangguh atas setiap cobaan yang datang pada langkah-langkah yang gontai. Pada kedua tangan yang dipenuhi tumpukan dosa-dosa;
Ambisi, kerasnya hati, angan-angan, kecemasan, ketakutan hidup. Semua hal yang menghancurkan manusia secara perlahan dan inheren.
Aku datang kali ini, ingin sekali ini saja bersungkur di ujung malam yang dingin. Pada kepala yang rasanya sudah hampir luruh dalam beratnya pikiran yang tak tertanggung. Pada impian-impian tak jua tergapai yang menyengsarakan.
Ingin kutanggalkan semua lalu kembali ke diri yang hilang di sekian tahun silam, entahlah. Berjalan ke depan adalah satu-satunya solusi untuk menguak tabit kehidupan yang sungguh sangat misterius. Sepanjang kaki masih terus digerakkan, maka semesta akan mempertemukan manusia dengan satu kesimpulan hidup suatu saat nanti.
Apakah dia masih tetap di tempat yang sama menunggu diriku untuk kembali kepadanya, memeluknya lalu melepaskan sepatu, mengusap muka dengan air dari sumur, dan mendengarkan cerita-cerita masa kecil ibuku yang sudah semakin menua.
Pengakuan dari seorang yang hina. Aku yang brengsek setiap kali mendapatkan hidup lalu melupakan kemulianMu. Namun selalu saja Kau sembunyikan aku dari dari kehinaan yang sejatinya jauh lebih pantas bagiku. Aku kalah dalam setiap rangkaian perjalanan yang kulewati.
Menjelang tiga tahun tertatih di kota ini, mengejar yang tak terkejar, menggapai yang tak tergapai, menangisi yang tak menyedihkan, pun menertawakan yang tak lucu. Namun semua itu hanyalah riak kecil dalam kehidupan yang seharusnya dinikmati.
Namun demikianlah kehidupan ini. Manusia memiliki tingkat keterbatasan yang tidak bisa dikendalikan, oleh karena itu, kita disebut manusia. Dalam setiap keterbatasan, kita harus tetap hidup untuk menjalani hidup dengan pemaknaan masing-masing.
Seni bertahan hidup merupakan kemampuan paling primitif yang dimiliki oleh seluruh makhluk hidup, manusia juga tentunya. Orang yang mengakhiri hidupnya bukan karena tidak mampu bertahan hidup secara lahiriah tetapi karena ketiadaan harapan dalam kehidupannya.
Itulah sebabnya ada orang kaya yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu berperang dengan dirinya. Di sisi lain, ada orang-orang yang begitu melarat tetapi tetap bisa survive karena harapan-harapan yang selalu dilestarikan.
Hidup bukan hanya tentang yang indrawi tetapi lebih dari itu, manusia sangat kompleks dalam menjalani hidupnya masing-masing. Kita bisa saja melihat orang lain bahagia dengan hidupnya tetapi ternyata sedang menderita.
Trending Now